sekitarbandung.com – Jumlah Desa Rawan Pangan di Kabupaten Bandung terus bertambah dalam tiga tahun terakhir. Jika pada 2022 masih tercatat 20 desa masuk kategori rawan pangan, kini pada 2025 jumlahnya meningkat menjadi 28 desa. Kondisi ini menandakan tantangan ketahanan pangan di Bandung masih sangat besar.
Tren Kenaikan Desa Rawan Pangan
Pada 2022, Wakil Bupati Bandung Sahrul Gunawan sempat menyebut jumlah desa rawan pangan menurun dibandingkan tahun 2021. Saat itu, ada 20 desa atau 7,4 persen dari total desa yang masuk kategori rawan pangan.
Namun, data terbaru 2025 menunjukkan peningkatan menjadi 28 desa. Meski detail jumlah rumah tangga miskin (RTM) belum dipublikasikan secara rinci, sebaran desa rawan pangan kini makin meluas di sejumlah kecamatan.
Informasi lebih lanjut soal kebijakan ketahanan pangan nasional bisa dibaca di Kementerian Pertanian RI.
Faktor Penyebab Kerawanan Pangan
Menurut analisis FSVA (Food Security and Vulnerability Atlas), ada tiga faktor utama penyebab desa rawan pangan di Kabupaten Bandung, yakni:
-
Ketersediaan pangan: pasokan bahan pokok belum stabil.
-
Akses pangan: keterbatasan infrastruktur dasar dan daya beli masyarakat.
-
Pemanfaatan pangan: pola konsumsi dan gizi masyarakat yang belum optimal.
Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan, FSVA menjadi acuan penting untuk menentukan desa prioritas.
“Data ini harus akurat agar intervensi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran,” ucapnya.
Upaya Pemerintah Kabupaten Bandung
Sejumlah program intervensi terus dilakukan, di antaranya:
-
Pengentasan Kemiskinan Ekstrem
Pembangunan 29.327 unit rumah tidak layak huni (rutilahu) selama empat tahun terakhir, meski masih ada 10.000 unit yang menunggu penanganan. -
Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Dispakan Kabupaten Bandung mendukung program nasional MBG dengan memperkuat pasokan ikan untuk 361 SPPG. Saat ini kebutuhan mencapai 81.225 kg per hari, sementara produksi lokal baru sekitar 28.960 kg. -
Pembentukan Kelompok Wirausaha Baru
Dispakan mengusulkan tambahan anggaran Rp6,27 miliar untuk membentuk 418 kelompok wirausaha sektor perikanan.
Dampak Kerawanan Pangan pada Masyarakat
Kepala Dispakan, Uka Suska Puji Utama, menjelaskan FSVA bukan hanya peta, melainkan dasar kebijakan lintas sektor. Analisis data BPS, OPD, dan survei lapangan menunjukkan bahwa kemiskinan, aksesibilitas, dan kondisi geografis menjadi penyebab utama kerentanan pangan.
“Harapannya, FSVA bisa menekan kerawanan pangan sekaligus mempercepat penurunan stunting dan kemiskinan ekstrem,” jelasnya.
Peningkatan jumlah Desa Rawan Pangan di Kabupaten Bandung dari 20 menjadi 28 desa dalam kurun tiga tahun terakhir menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Dengan dukungan FSVA, intervensi ketahanan pangan diharapkan lebih fokus dan tepat sasaran agar masyarakat dapat terbebas dari kerentanan pangan.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

