Bukan Cuma Ketua RT, Driver Ojol di Bandung Juga Tambal Jalan Pakai Uang Sendiri

sekitarbandung.com – Sahdan Arya Maulana, pemuda berusia 19 tahun yang menjabat sebagai Ketua RT di wilayah RT 07 RW 08 Kelurahan Rawa Badak Selatan, Koja, Jakarta

Acsyara Aulia

Bukan Cuma Ketua RT, Driver Ojol di Bandung Juga Tambal Jalan Pakai Uang Sendiri

sekitarbandung.com – Sahdan Arya Maulana, pemuda berusia 19 tahun yang menjabat sebagai Ketua RT di wilayah RT 07 RW 08 Kelurahan Rawa Badak Selatan, Koja, Jakarta Utara bukanlah satu-satunya orang yang membuat gebrakan memperbaiki jalan rusak tanpa bantuan pemerintah.

Ada nama lain yang tak kalah viral dengan Ketua RT Gen Z yang ikut berkontribusi memperbaiki jalan tanpa sepeser pun uang dari pemerintah.

Ia adalah Hasan Fiidel (24), seorang driver ojek online (ojol) di Bandung.

Meski tanpa jabatan, driver ojol di Bandung ini selalu menyisahkan uang hasil ngojeknya agar bisa menambal jalan rusak alias berlubang.

Hasan menceritakan, apa yang dilakukannya ini bermula dari pengalaman pahit yang dialaminya sendiri.

Ia pernah terjatuh dan membuat perlengkapannya menjadi ojol rusak.

Dari sinilah hatinya tergerak untuk menambal jalan yang berlubang. Ia bukan ingin mengambil alih tugas pemerintah.

Hanya saja, ia tak ingin orang lain mengalami kejadian pahit seperti yang sudah dialaminya.

“Waktu itu saya lagi narik (ngojek) dan saya pernah jatuh karena jalan berlubang. Sampai wakru itu, handphone saya LCD-nya rusak. Di situ saya berpikir, jangan sampai ada orang lagi yang jatuh karena jalan yang berlubang,” ujarnya dikutip dari Tribun Jabar.

Meski penghasilannya tak pasti, Hasan selalu bisa menambal jalanan berlubang dari satu titik ke titik yang lainnya.

“Kalau modal, saya sisihkan dari hasil ngojek. Misalkan saya ngonten dari pagi sampai jam 10.00, beres itu jam 13.00. Selanjutnya, saya ngojek sampai malam, kadang dapet Rp 80 ribu bersih, nah pasti saya sisihkan buat beli cairan aspal,” sambungnya.

Di media sosialnya, Hasan juga kerap membagikan kisahnya.

Peralatan menambal jalan rusak selalu dibawanya. Ia terlihat melakukan semuanya sendiri.

Kata dia, semuanya cukup melelahkan. Untuk satu lubang kecil saja, Hasan membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit.

“Kalau untuk pengerjaan di lapangan paling 20 menit sampai 30 menit, yang lama itu dari proses mencairkan aspalnya. Biasanya bisa sampai 2 atau 3 jam,” ungkapnya.

Belajar Otodidak

Hasan mengaku tak memiliki pengalaman apapun menyoal perbaikan jalan.

Semua dilakukannya secara otodidak berbekal informasi yang didapat dari ponselnya.

Dari situ juga ia mengetahui jika jenis-jenis material sangat berbeda-beda.

Sehingga ia harus membedakan kebutuhan antara jalan desa, provinsi, dan nasional.

“Saya cari di internet, YouTube, Google dari AI, belajar selama dua hari. Terus waktu itu kepikiran untuk langsung praktik. Waktu itu enggak langsung ngonten, tapi percobaan dulu. Pas saya terjun ke lapangan, ternyata beda-beda, misalnya spek aspalnya,” ujarnya.

Meski saat ini bekerja sendirian untuk menambal jalan berlubang, Hasan mengaku banyak warga dan rekan sesama ojolyang menawarkan bantuan, bahkan tanpa diminta bayaran.

Namun, Hasan menolak tawaran tersebutdengan alasan keikhlasan.

Ia mengatakan keikhlasan adalah landasan utamanya.

Dirinya tidak ingin niat tulusnya itu justru ternoda oleh pihak yang mungkin hanya ingin ikut-ikutan.

“Bukannya saya menolak, cuma beda-beda orang itu. Ada yang betul niatnya membantu atau pengen memanfaatkan keadaan, kita enggak tahu. Jadi sekarang sendiri dulu. Tapi antusiasnya warga dan rekan ojol itu luar biasa,” katanya.

Terlepas dari semuanyau, Hasan ogah menyalahkan pemerintah yang dianggap sebagai orang lamban.

Baginya tindakan tersebut hanya sebatas inisiatif, tanpa adanya niatan menjelekan pihak manapun.

“Saya enggak nyalahin pihak manapun. Saya yakin pihak terkait juga ingin membetulkan jalan, tapi mungkin dananya harus besar. Jadi harus nunggu. Tapi kalau saya kan waktunya luang, sambil nunggu di aspal sama pihak terkait, saya lakukan aktifitas ini dari pada enggak sama sekali ditambal,” tandasnya.

Gebrakan Ketua RT Gen Z

Berbeda dengan Hasan, kisah Arya, sapaan karib Ketua RT Gen Z di Jakut viral gegara gebrakan memperbaiki jalan rusak di wilayahnya.

Dalam kurun waktu dua bulan menjabat, Arya sudah memperbaiki jalan di wilayahnya tanpa bantuan dana dari pemerintah.

Adapun jalan rusak sepanjang 100 meter yang diperbaiki ini merupakan akses utama masyarakat.

“Ya, memang sebelumnya dari program saya itu kan pengecoran, pembangunan dan juga awalnya itu memang saya melakukan pengecoran itu rencana sebulan ke depan,” kata Arya, Minggu (13/7/2025).

“Tapi karena saat itu ada kejadian truk terguling di situ. Dan sehingga mengakibatkan jalan hancur, maka malam itu kita perbaiki langsung,” jelasnya.

Lantaran aduan jalan rusak mandek di musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang), Arya bersama warga saling bahu membahu.

Akhirnya, dana perbaikan didapat dari hasil swadaya masyarakat dan biaya operasional sebagai RT yang sama sekali tak digunakannya untuk hal lain.

Dengan merogoh kocek Rp 20 juta, pengecoran jalan dilakukan dan videonya kadung viral di media sosial.

Baca juga : Pertanian Jadi Gaya Hidup Baru di Kota Bandung? Begini Strategi Pemerintahnya!

“Ada yang sebagian dari swadaya dan dari kita. Nah dari kita itu, biaya operasional kita itu semua kita alihkan ke pembangunan semua. Jadi kita selama dua bulan ini tidak pernah ngambil biaya BOP sepeserpun,” ucap dia.

Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

Related Post

Tinggalkan komentar