Sekitarbandung.com – Lahir dengan gelar Raden Mas, H.O.S. Cokroaminoto sejatinya bisa saja hidup nyaman dan bergelimang harta sebagai pejabat pemerintah kolonial.
Namun, ia justru membuang semua privilege itu. Ia memilih keluar dari zona nyamannya untuk turun ke jalan dan membela rakyat jelata yang ditindas penjajah.
Melalui organisasi Sarekat Islam (SI), Cokroaminoto sukses membangun gerakan massa terbesar pertama di Nusantara dengan jutaan pengikut militan.
Pidatonya yang menggelegar mampu menghipnotis rakyat. Saking takutnya melihat pengaruh Cokroaminoto, pemerintah Belanda sampai menjulukinya “De Ongekroonde van Java” (Raja Jawa Tanpa Mahkota).
Namun, mahakarya terbesar Cokroaminoto bukanlah organisasinya, melainkan sebuah rumah sederhana di Gang Peneleh VII, Surabaya.
Rumah itu ia jadikan tempat kos bagi para pemuda dari berbagai daerah. Di ruang tamu yang sempit, fondasi masa depan negara Indonesia perlahan-lahan mulai ditempa.
Di rumah kos tersebut, Cokroaminoto mendidik pemuda-pemuda cerdas dengan tangan dinginnya.
Ia mengajarkan filsafat, politik, hingga cara berpidato yang mampu membakar semangat massa.
Dari sekian banyak anak kosnya, ada tiga pemuda yang paling menonjol, yaitu Soekarno, Semaun, dan S. M. Kartosuwiryo.
Ketiga pemuda tersebut makan di meja yang sama dan menyerap ilmu dari guru yang sama. Namun, ada satu hal yang mengejutkan.
Mereka menafsirkan ajaran sang guru menjadi tiga jalan yang sangat bertolak belakang. Soekarno memilih nasionalisme, Semaun memeluk komunisme, dan Kartosuwiryo mengambil jalan Islam radikal.
Tragedi menyayat hati pun terjadi setelah sang guru wafat. Ketiga murid kesayangannya ini tumbuh menjadi tokoh besar yang saling berhadapan.
Soekarno yang menjadi Presiden akhirnya harus memerintahkan penumpasan terhadap pemberontakan Komunis (PKI) yang dirintis Semaun, serta menandatangani hukuman mati bagi Kartosuwiryo (DI/TII).
Cokroaminoto wafat pada tahun 1934, jauh sebelum Indonesia merdeka. Ia tidak pernah melihat anak-anak didiknya bertarung hidup dan mati dalam perebutan arah bangsa.
Namun satu hal yang pasti, tanpa didikan di rumah kos Peneleh itu, Republik Indonesia mungkin tidak akan pernah berdiri seperti sekarang.
Sang Raja Jawa telah melahirkan pemikir-pemikir besar yang mengubah takdir jutaan manusia di Nusantara. Sebuah warisan intelektual yang tak ternilai harganya.
Baca Juga: Tidak Pernah Angkat Senapan, tetapi Pria Berjas Ini Sukses Kalahkan Belanda di Markas PBB

