Sekitarbandung.com – Selama ini, buku sejarah kerap menjejalkan narasi bahwa kemerdekaan Indonesia murni dimenangkan melalui desingan senapan peluru dan bambu runcing.
Padahal, ada satu medan perjuangan lain yang jauh lebih krusial, yaitu meja diplomasi internasional.
Kenalkan, Lambertus Nicodemus Palar atau L.N. Palar. Ia bukanlah jenderal yang memimpin pasukan gerilya di hutan.
Senjatanya hanyalah setelan jas, mikrofon, dan kecerdasan luar biasa. Ia menjadi ujung tombak diplomasi Republik Indonesia di luar negeri.
Pada masa revolusi tahun 1945-1949, Belanda menyebarkan propaganda ke seluruh dunia.
Mereka menyebut Soekarno-Mohammad Hatta hanyalah kelompok pemberontak ilegal, serta mengklaim Indonesia masih berstatus milik sah Kerajaan Belanda.
Jika dunia mempercayai narasi tersebut, maka posisi Indonesia akan sangat terancam. Soekarno pun mengutus L.N. Palar ke markas Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York untuk memperjuangkan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia.
Baca Juga: Tolak Mobil dan Harta dari Penjajah, Ismail Marzuki Wafat Tragis di Rumah Kontrakan
Saat itu, kas negara dalam kondisi terbatas. Palar berangkat dengan dana yang sangat minim, bahkan kerap menggunakan dana pribadi.
Namun, di markas PBB, ia tampil elegan dan mampu mematahkan stigma bahwa Indonesia adalah bangsa yang terbelakang.
Di ruang sidang PBB, Palar bertarung melalui pidato-pidatonya yang tajam, taktis, dan disampaikan dalam berbagai bahasa asing.
Ia membongkar argumen para diplomat Belanda di hadapan negara-negara besar, hingga satu per satu mulai bersimpati kepada Indonesia.
Berkat kelincahan lobi L.N. Palar, dunia internasional akhirnya menyadari bahwa Indonesia adalah negara berdaulat yang sedang dijajah.
Resolusi PBB pun keluar, mendesak Belanda untuk menghentikan agresi militernya.
Tanpa peran diplomasi Palar di meja perundingan New York, perjuangan gerilya Sudirman di hutan mungkin tidak akan diakui dunia.
Pada akhirnya, L.N. Palar wafat pada tahun 1981 dan meninggalkan warisan besar berupa kedaulatan bangsa yang tidak ternilai.
Baca Juga: Berani Senggol Ego Presiden, Jenderal Ahli Strategi Ini Dipaksa Pensiun Dini di Usia Muda

