Sekitarbandung.com – Tragedi Mei 1998 bukan hanya sekadar soal kerusuhan, penjarahan, atau jatuhnya rezim Orde Baru. Di balik asap hitam yang mengepul di ibu kota, tersimpan horor kemanusiaan yang sangat sistematis.
Kehororan tersebut berupa kejahatan asusila dan kekerasan berat terhadap para perempuan etnis tertentu. Banyak korban mengalami trauma berat, bungkam, dan bahkan memilih mengakhiri hidupnya karena stigma serta ketakutan.
Di tengah teror dan diamnya negara, muncullah sosok Fransisca Romana Ita Martadinata Haryono, atau yang akrab disapa Ita. Usianya saat itu baru 18 tahun dan masih duduk di bangku kelas 3 SMA.
Bersama ibunya, Ita bergabung dalam Tim Relawan untuk Kemanusiaan guna mendampingi, memberikan konseling, dan menguatkan para penyintas kekerasan tersebut agar berani membuka suara.
Keberanian Ita membuat gerah pihak-pihak yang ingin menyembunyikan masa kelam tersebut. Ita dan timnya bahkan berhasil mengumpulkan bukti serta kesaksian yang kuat. Mereka memiliki rencana pada pertengahan Oktober 1998.
Ita beserta empat penyintas lainnya akan terbang ke Amerika Serikat. Mereka dijadwalkan bersaksi secara langsung di depan forum PBB untuk membongkar pelanggaran HAM di Indonesia.
Namun, tiket menuju kebenaran itu tidak pernah sempat ia gunakan. Pada 9 Oktober 1998, hanya beberapa hari sebelum keberangkatannya ke AS, Ita ditemukan tak bernyawa.
Ita ditemukan dalam kondisi yang sangat memilukan di dalam kamar tidurnya sendiri. Ia menjadi korban tindakan keji yang membuat kesaksiannya terbungkam untuk selama-lamanya.
Baca Juga: Sebelum Tragedi Malari Tahun 1974, Ratusan Mahasiswa Turun ke Jalan Merazia Pejabat Berperut Buncit
Satu hal yang membuat publik dan aktivis HAM murka adalah kesimpulan aparat keamanan saat itu. Pihak berwajib dengan cepat menangkap seorang pemuda.
Setelah itu, mereka mengumumkan bahwa motif kejadian nahas yang menimpa Ita hanyalah “tindak kriminal biasa” dan kebetulan semata, alias tidak ada kaitannya dengan Tragedi Mei 1998. Sebuah narasi yang sangat menghina nalar publik.
Banyak pihak meyakini Ita tidak menjadi korban kriminalitas biasa, melainkan sengaja “dilenyapkan” melalui operasi senyap yang sungguh terencana. Pesannya sangat jelas dan mengerikan:
“Jika kalian berani bicara ke dunia luar soal Tragedi Mei 1998, maka nasib kalian akan sama seperti gadis ini.”
Teror psikologis tersebut berjalan sangat efektif. Jadwal keberangkatan ke PBB akhirnya dibatalkan dan para penyintas kembali bersembunyi dalam ketakutan.
Hingga hari ini, dalang intelektual di balik tragedi Ita Martadinata tidak pernah tersentuh. Ita menjadi simbol pengorbanan tertinggi dalam memperjuangkan hak asasi perempuan di Indonesia.
Ita adalah martir kebenaran yang harus kehilangan masa depannya hanya karena negaranya menolak untuk bercermin pada masa lalu yang sangat kelam.
Baca Juga: Demi Tonton Pribumi Nusantara yang Dipajang Layaknya Hewan, Jutaan Orang Eropa Rela Antre Tiket

