Sebelum Tragedi Malari Tahun 1974, Ratusan Mahasiswa Turun ke Jalan Merazia Pejabat Berperut Buncit

Sekitarbandung.com – Pada awal tahun 1970-an, pemerintah Orde Baru sedang gencar memamerkan angka pertumbuhan ekonomi. Investasi asing, terutama dari Jepang, mengalir deras ke Indonesia. Namun

Dicky Wicaksono

Sebelum Tragedi Malari Tahun 1974, Ratusan Mahasiswa Turun ke Jalan Merazia Pejabat Berperut Buncit
Sebelum Tragedi Malari Tahun 1974, Ratusan Mahasiswa Turun ke Jalan Merazia Pejabat Berperut Buncit

Sekitarbandung.com – Pada awal tahun 1970-an, pemerintah Orde Baru sedang gencar memamerkan angka pertumbuhan ekonomi. Investasi asing, terutama dari Jepang, mengalir deras ke Indonesia.

Namun di lapangan, realitanya sangat kontras. Kekayaan tersebut hanya berputar di lingkaran elite pemerintahan dan cukong-cukong yang dekat dengan kekuasaan, sementara rakyat jelata tetap kelaparan.

Muak dengan ketimpangan tersebut, mahasiswa pada akhir tahun 1973 mulai turun ke jalan. Namun sebelum protes memanas menjadi kerusuhan berdarah, mereka melakukan sebuah aksi demonstrasi.

Aksi tersebut sangat jenius, satir, dan mempermalukan penguasa, yang dinamakan “Razia Perut Buncit”.

Alih-alih sekadar membakar ban, kelompok mahasiswa menghentikan mobil-mobil mewah yang melintas di jalanan protokol Jakarta. Mereka memaksa para penumpang berpakaian necis untuk turun.

Setelah itu, mereka secara harfiah memeriksa dan meraba perut para pejabat atau pengusaha tersebut. Jika perut mereka buncit, maka mahasiswa akan menyoraki mereka habis-habisan di tengah jalan.

Bagi mahasiswa saat itu, perut buncit bukan hanya sekadar masalah medis atau pola makan. Hal tersebut menjadi simbol fisik yang paling nyata dari keserakahan.

Di saat jutaan rakyat Indonesia kesulitan mencari makan akibat harga kebutuhan pokok yang melambung, perut buncit para pejabat menjadi bukti nyata bahwa mereka menikmati kemewahan di atas penderitaan rakyat.

Baca Juga: Demi Tonton Pribumi Nusantara yang Dipajang Layaknya Hewan, Jutaan Orang Eropa Rela Antre Tiket

Razia ini sukses menciptakan teror psikologis. Banyak pejabat pemerintahan Orde Baru yang mendadak panik dan berusaha menahan napas agar perutnya terlihat rata.

Bahkan mereka menyuruh sopirnya untuk putar balik saat melihat kerumunan mahasiswa dari kejauhan. Sebuah simbol kemakmuran mendadak berubah menjadi aib politik yang sangat memalukan.

Sayangnya, pemerintah meremehkan protes satir tersebut. Ketidakpuasan yang terus mendidih akhirnya meledak beberapa minggu kemudian.

Tepat pada tanggal 15 Januari 1974, saat Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka berkunjung, Jakarta terbakar.

Tragedi Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) pecah dan mengubah protes jenaka menjadi salah satu kerusuhan terkelam dalam sejarah ibu kota.

Stereotip “Koruptor Berperut Buncit” yang dikenal dalam karikatur hingga hari ini merupakan jejak sejarah yang tidak terhapus. Hal tersebut menjadi warisan dari keberanian mahasiswa pada tahun 70-an dalam mengekspos kontrasnya realita.

Realita tersebut adalah ketika kemakmuran rezim terlihat jelas pada perut para pejabatnya, sementara rakyat hanya bisa menonton dengan perut kosong.

Baca Juga: Demi Diakui sebagai Negara, Indonesia Dipaksa Bayar Utang Biaya Perang Militer Belanda

Related Post

Tinggalkan komentar