Suaminya Dieksekusi Penjajah, Cut Meutia Justru Ambil Alih Pasukan dan Habisi Tentara Belanda

Sekitarbandung.com – Cut Meutia merupakan satu-satunya nama perempuan yang sukses membuat militer Belanda gemetar ketakutan karena ketangguhannya. Ia menghancurkan stigma bahwa seorang janda yang baru

Dicky Wicaksono

Suaminya Dieksekusi Penjajah, Cut Meutia Justru Ambil Alih Pasukan dan Habisi Tentara Belanda
Suaminya Dieksekusi Penjajah, Cut Meutia Justru Ambil Alih Pasukan dan Habisi Tentara Belanda

Sekitarbandung.com – Cut Meutia merupakan satu-satunya nama perempuan yang sukses membuat militer Belanda gemetar ketakutan karena ketangguhannya.

Ia menghancurkan stigma bahwa seorang janda yang baru saja kehilangan suaminya akan hancur, menangis, dan menyerah pada keadaan yang ada.

Sebagai seorang bangsawan Aceh yang menolak hidup nyaman di bawah ketiak penjajah, ia dan suaminya, Teuku Cik Tunong, memimpin pasukan gerilya yang sangat merepotkan.

Namun, badai besar justru menghantam hidupnya pada tahun 1905, di mana sang suami berhasil ditangkap oleh Belanda.

Tanpa ampun, Belanda mengeksekusi mati Teuku Cik Tunong di tepi pantai Lhokseumawe. Logika penjajah saat itu yaitu:

“Membunuh sang panglima sama dengan memadamkan perlawanan, dan istrinya yang kini menjanda pasti akan segera menyerah atau melarikan diri.”

Namun, pemikiran Belanda yang seperti itu justru menjadi kesalahan fatal karena meremehkan sosok Cut Meutia.

Alih-alih meratapi nasibnya dan mengibarkan bendera putih, kesedihan itu justru ia ubah menjadi bahan bakar dendam yang sangat mematikan. Ia menolak menjadi janda yang lemah.

Baca Juga: Bikin Pemerintah Belanda Gemetar, H. O. S. Cokroaminoto adalah Guru dari Para Pendiri Bangsa

Sesuai wasiat mendiang suaminya, Cut Meutia menikah dengan sahabat sang suami, Pang Nanggroe. Alih-alih berlindung di balik suami barunya, ia justru ikut mengambil alih tongkat komando.

Ia kembali masuk ke belantara hutan Aceh dan memimpin langsung pasukan gerilya di garis depan.

Di bawah kepemimpinannya, pasukan ini bertransformasi menjadi mimpi buruk yang paling mengerikan. Cut Meutia merancang taktik sergapan mematikan.

Mereka keluar masuk hutan lebat, merampas senjata, dan membantai patroli-patroli tentara kompeni tanpa ampun. Sang janda telah menjelma menjadi singa betina yang haus darah penjajah.

Tragedi kembali berulang pada tahun 1910 saat Pang Nanggroe juga gugur di medan pertempuran. Kembali menjanda dan kehilangan pelindung, Cut Meutia tetap menolak menyerah.

Saat persembunyiannya dikepung rapat oleh pasukan elit Belanda yang menyuruhnya menyerah, ia memberikan jawaban yang sangat epik.

Cut Meutia mencabut pedang dan rencongnya, lalu nekat berlari menerjang rentetan peluru laras panjang Belanda. Ia akhirnya gugur dengan luka tembak yang menembus tubuhnya.

Cut Meutia wafat bukan sebagai tawanan yang hina, melainkan sebagai panglima perang yang tidak pernah bisa dijinakkan.

Baca Juga: Rela Tidak Dibayar Obati Rakyat Miskin, Dokter Moewardi Justru Diculik dan Dihabisi Bangsanya Sendiri

Related Post

Tinggalkan komentar