Sekitarbandung.com – Deja vu merupakan fenomena singkat berupa perasaan seolah-olah pernah mengalami suatu kejadian sebelumnya. Sekitar 60-85 persen orang sehat diketahui pernah mengalaminya setidaknya sekali dalam seumur hidup.
Déjà vu berasal dari bahasa Prancis yang berarti “sudah pernah melihat” dan paling sering muncul pada usia 15-25 tahun, sebelum cenderung menurun seiring bertambahnya usia.
Neurosains memandang fenomena ini bukan sebagai misteri gaib, melainkan gangguan kecil dalam sistem memori ketika otak memberikan sinyal familier tanpa adanya bukti ingatan yang nyata.
Bagian otak yang banyak terlibat dalam fenomena déjà vu yaitu sebagai berikut:
- Hippocampus: mengelola memori episodik.
- Lobus temporal: memproses dan menyimpan memori.
- Korteks parahipokampal: membantu mengenali konteks dan tempat.
- Korteks rinal: memproses rasa familier terhadap pengenalan.
Baca Juga: 3 Tips Tetap Sehat dan Bugar Pasca Hari Raya Iduladha
Teori dan Riset
Salah satu teori menyebut déjà vu muncul ketika korteks parahipokampal aktif terlalu cepat, sehingga otak merasa mengenal sesuatu padahal hippocampus belum menemukan memori yang benar-benar cocok.
Menariknya, riset Akira O’Connor, seorang psikolog kognitif dan profesor senior di School of Psychology and Neuroscience, University of St Andrews, Skotlandia.
Dalam riset tersebut menunjukkan bahwa area yang aktif saat déjà vu bukan hanya pusat memori, melainkan juga bagian frontal otak yang bertugas mendeteksi konflik dan mengambil keputusan.
Peningkatan Peluang Deja Vu
Stres, kelelahan, kurang tidur, dan kecemasan disebut dapat meningkatkan peluang terjadinya deja vu karena kondisi tersebut membuat pemrosesan informasi di otak menjadi kurang stabil.
Bagi kebanyakan orang, déjà vu merupakan respons normal otak. Namun, jika muncul terus-menerus disertai jantung berdebar, gerakan tidak terkendali, atau kilasan visual seperti mimpi, kondisi tersebut bisa menjadi tanda yang perlu diperiksakan lebih lanjut.
Deja vu bukan hanya sekadar misteri, tetapi juga jendela kecil untuk memahami cara kerja otak dan respons kompleks yang dapat terjadi secara normal, meski tetap perlu diwaspadai jika muncul secara berlebihan.
Baca Juga: Inilah Alasan Mengapa Pemerintah Selalu Merasa Benar dan Sulit Terima Masukan

