Waspadai Modus Kakek Mesum! 2 Taktik Licik Kakek Mesum Incar 3 Korbannya di Bandung, Salah Satunya Mengikuti dari Jauh

  sekitarBANDUNGcom – Ruang publik yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi semua warga terkadang menyimpan ancaman yang tak terduga. Sebuah peristiwa meresahkan yang terjadi

Waspadai Modus Kakek Mesum! 2 Taktik Licik Kakek Mesum Incar 3 Korbannya di Bandung, Salah Satunya Mengikuti dari Jauh

kakek mesum

 

sekitarBANDUNGcom – Ruang publik yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi semua warga terkadang menyimpan ancaman yang tak terduga. Sebuah peristiwa meresahkan yang terjadi pada Juli 2023 di Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, menjadi pengingat pahit tentang adanya predator jalanan yang mengintai kelengahan kita. Kasus yang melibatkan seorang pria paruh baya tak dikenal—yang oleh para korbannya dijuluki “kakek mesum”—dan tiga orang perempuan pegawai bank, viral setelah rekaman videonya menyebar di grup-grup percakapan.

Peristiwa ini lebih dari sekadar tindakan asusila biasa. Ia menyingkap sebuah modus operandi atau taktik licik yang digunakan oleh pelaku untuk mengincar korbannya. Memahami pola kerja pelaku seperti kakek mesum ini adalah langkah pertama dan paling krusial bagi masyarakat, terutama kaum perempuan, untuk meningkatkan kewaspadaan dan melindungi diri. Berdasarkan kronologi kejadian, terungkap setidaknya ada dua taktik utama yang digunakan oleh pelaku.

 

Membedah Psikologi Pelaku: Lebih dari Sekadar “Nakal”

 

Sebelum menganalisis taktiknya, penting untuk memahami apa yang mungkin mendorong seorang kakek mesum melakukan aksi eksibisionisme atau pamer alat kelamin. Menurut para ahli, tindakan ini bukanlah sekadar “kenakalan” atau “iseng”, melainkan sebuah gangguan parafilia yang serius. Pelaku seringkali mendapatkan kepuasan psikologis dari reaksi terkejut, takut, atau jijik yang ditunjukkan oleh korbannya. Aksi ini adalah tentang kekuasaan dan kontrol, bukan hasrat seksual biasa.

Seorang psikolog klinis, Kasandra Putranto, dalam salah satu penjelasannya mengenai eksibisionisme, menyoroti motivasi pelaku. “Dorongan utama dari seorang eksibisionis adalah untuk mengejutkan orang lain. Reaksi terkejut dari korban memberikan mereka sensasi kekuatan dan validasi. Seringkali, pelaku memiliki masalah dalam membangun hubungan intim yang sehat dan menggunakan cara ini sebagai penyaluran yang menyimpang,” paparnya kepada Liputan6.com.

Pemahaman ini penting agar kita tidak meremehkan tindakan kakek mesum tersebut dan menyadari bahwa ia bisa menjadi bagian dari pola perilaku berbahaya yang bisa bereskalasi.

 

Taktik Pertama: Menguntit dan Menciptakan Momen Isolasi

 

Taktik pertama yang digunakan oleh si kakek mesum adalah menguntit dan mengobservasi calon korbannya. Berdasarkan keterangan salah satu korban, M (26), ia dan kedua rekannya merasa telah diikuti oleh pria tersebut saat sedang melakukan kunjungan kerja ke salah satu nasabah di Kelurahan Sukagalih. Perasaan “diikuti” ini menunjukkan bahwa aksi pelaku tidaklah acak. Ia secara aktif mencari target dan menunggu momen yang tepat.

Pelaku tidak beraksi di jalan raya yang ramai. Ia menunggu hingga ketiga perempuan tersebut berhenti di lokasi yang relatif lebih sepi untuk membeli camilan. Di momen inilah ia melihat adanya sebuah kesempatan. Ia menciptakan sebuah “pulau” isolasi singkat, di mana para korban sedang lengah dan terpisah dari keramaian utama. Taktik menguntit ini adalah ciri khas predator jalanan yang mengandalkan elemen kejutan. Tindakan kakek mesum ini jelas terencana.

Seorang kriminolog, Dr. Anggi Aulina, M.Si., menjelaskan pola pemilihan target ini. “Pelaku kejahatan jalanan, termasuk pelecehan, selalu mengkalkulasi risiko. Mereka akan memilih target dan lokasi yang dianggap paling ‘aman’ bagi mereka untuk beraksi dan melarikan diri. Momen ketika korban sedang lengah atau berada di area transisi—seperti saat hendak masuk atau keluar dari sebuah tempat—adalah momen paling rentan,” jelasnya.

Pola yang dilakukan kakek mesum tersebut sangat sesuai dengan analisis ini.

 

Taktik Kedua: Aksi Cepat yang Mengandalkan Efek Kejut dan Kemudahan Melarikan Diri

 

Setelah berhasil mengisolasi targetnya dalam sebuah momen kelengahan, taktik kedua pun dilancarkan: eksekusi cepat yang bertujuan untuk menciptakan syok dan kebingungan. Pelaku yang bersandar di sepedanya, secara tiba-tiba memperlihatkan dan memegang alat kelaminnya ke arah para korban. Aksi ini begitu cepat dan tak terduga sehingga reaksi pertama korban adalah kaget dan terdiam, bukan berteriak.

Tujuan dari efek kejut ini adalah untuk melumpuhkan respons korban selama beberapa detik krusial. Dalam kebingungan tersebut, pelaku memiliki cukup waktu untuk melarikan diri. Penggunaan sepeda sebagai moda transportasinya juga merupakan bagian dari taktik. Sepeda memungkinkan pelaku untuk mendekat tanpa suara mesin yang mencurigakan dan melarikan diri dengan cepat melalui gang-gang sempit yang tidak bisa diakses oleh mobil atau motor. Perilaku kakek mesum ini menunjukkan perencanaan dalam cara melarikan diri.

Komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah Tardi, menekankan pentingnya respons pertama saat menghadapi pelecehan semacam ini.”Jika berada dalam situasi yang aman untuk melakukannya, respons terbaik adalah melawan dengan cara menarik perhatian publik. Berteriak ‘maling!’ atau ‘pelecehan!’ sekeras mungkin. Suara Anda adalah senjata untuk membuat pelaku panik dan mengundang pertolongan dari sekitar,” imbaunya dalam sebuah diskusi yang diliput Tirto.id.

 

Kewaspadaan Adalah Kunci Pertahanan Diri

Kasus yang menimpa tiga pegawai bank di Sukajadi ini menjadi pelajaran pahit. Meskipun tidak ada kontak fisik, trauma psikologis yang ditimbulkan oleh pelecehan visual semacam ini sangatlah nyata. Tindakan berani korban yang merekam dan menyebarkan informasi tersebut patut diapresiasi karena telah meningkatkan kesadaran publik terhadap modus operandi kakek mesum di Bandung.

Kejadian ini menegaskan bahwa kewaspadaan adalah kunci pertahanan diri terbaik. Selalu perhatikan lingkungan sekitar, percaya pada insting Anda jika merasa diikuti, dan jangan ragu untuk mencari keramaian atau tempat yang aman jika merasa terancam. Melaporkan setiap insiden kepada pihak berwenang, sekecil apa pun, juga sangat penting untuk memutus rantai aksi para predator jalanan seperti kakek mesum ini, sebelum mereka menemukan korban berikutnya.

Baca juga – Modus Mengajarkan Perlindungan Diri Dari Pria Hidung Belang, Seorang Ayah Di Bandung Tega Setubuhi Anak Kandungnya Sampai 10 Kali

Related Post

Tinggalkan komentar