sekitarbandungcom – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang dikenal sebagai KDM, mengingatkan masyarakat agar menjaga tanaman konservasi di kawasan Bandung Selatan.
Ia menyoroti perubahan kebun teh menjadi kebun sayur di wilayah Pangalengan dan Ciwidey, Kabupaten Bandung, karena perubahan tutupan lahan yang tidak memperhatikan fungsi ekologis dapat meningkatkan kerentanan terhadap longsor.
Peringatan KDM tentang Ancaman Longsor di Bandung Selatan
Dalam pemberitaan Bisnis.com pada 29 Oktober 2026, KDM menyampaikan pesan agar masyarakat tidak menebang tanaman yang memiliki fungsi konservasi.
Ia menjelaskan bahwa perhatian tersebut bukan untuk mencampuri konflik agraria, melainkan untuk mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan dan mengurangi risiko bencana.
KDM menyoroti kawasan lereng pegunungan di Bandung Selatan.
Menurutnya, penggantian kebun teh secara terus-menerus dengan tanaman sayuran berpotensi mengubah kondisi ekologis setempat.
Ia mengingatkan bahwa dampak kerusakan lingkungan tidak selalu terlihat seketika, tetapi dapat berkembang seiring perubahan penggunaan lahan yang berulang.
Pengelolaan lahan juga menyangkut keselamatan masyarakat dan keberlanjutan kawasan.
baca juga : LEMBANG Wonderland Bandung, Rekomendasi Tempat Wisata di Kawasan Lembang
Alih Fungsi Kebun Teh Menjadi Kebun Sayur
Kebun teh dan lahan sayuran memiliki pola tanam serta pengelolaan lahan yang dapat berbeda.
Perubahan dari satu jenis penggunaan lahan ke jenis lain tidak otomatis menyebabkan longsor, tetapi proses pembukaan lahan, pengolahan tanah, hilangnya vegetasi tertentu, dan perubahan saluran air dapat memengaruhi kestabilan lereng.
Karena itu, keputusan mengubah kebun teh menjadi kebun sayur perlu mempertimbangkan kemiringan lahan, kondisi tanah, sistem drainase, serta jenis tanaman yang sesuai.
Faktor ekonomi petani dan pengelola lahan juga perlu diperhitungkan, tanpa mengabaikan fungsi lingkungan.
Alasan dan luas alih fungsi perlu merujuk pada data resmi.
Hubungan Perubahan Penggunaan Lahan dengan Risiko Longsor
Vegetasi membantu melindungi permukaan tanah dari erosi.
Akar tanaman dapat memperkuat sebagian lapisan tanah, sedangkan tutupan tanaman membantu mengurangi hantaman langsung air hujan.
Jika vegetasi dibuka dan pengelolaan air tidak memadai, tanah di lereng dapat lebih mudah tererosi atau menjadi jenuh air.
Badan Geologi menjelaskan dalam laporan pemeriksaan gerakan tanah di berbagai daerah bahwa longsor dapat dipengaruhi kombinasi faktor, antara lain kemiringan lereng, karakteristik tanah dan batuan, minimnya vegetasi berakar kuat, drainase yang buruk, serta hujan berintensitas tinggi dan berdurasi lama.
Artinya, jenis tanaman bukan satu-satunya penentu. Penilaian risiko harus melihat keadaan geologi dan tata air setempat.
Kajian lapangan diperlukan sebelum menyatakan suatu perubahan lahan sebagai penyebab langsung kejadian longsor.
Kondisi Lingkungan dan Kerawanan Bencana di Bandung Selatan
Pangalengan dan Ciwidey berada di kawasan Bandung Selatan yang memiliki bentang alam perbukitan dan lereng pegunungan.
Pengelolaan air hujan dan perlindungan tanah menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko gerakan tanah.
Hujan lebat dapat meningkatkan kandungan air di tanah. Pada kondisi tertentu, tanah yang jenuh air menjadi lebih berat dan kekuatannya menurun, terutama jika terdapat lapisan geologi yang mendukung terbentuknya bidang gelincir.
Meski demikian, kondisi spesifik di suatu perkebunan perlu dikonfirmasi melalui data dan pemeriksaan teknis.
Masyarakat sebaiknya memantau informasi cuaca dari BMKG serta peringatan kebencanaan dari BPBD dan Badan Geologi.
Retakan tanah baru, perubahan bentuk lereng, atau aliran air yang tidak biasa perlu dilaporkan kepada aparat setempat, bukan ditangani berdasarkan perkiraan sendiri.
Pentingnya Pengelolaan Lahan Berkelanjutan
Pengelolaan lahan yang berkelanjutan memerlukan perlindungan vegetasi yang sesuai, konservasi tanah, dan pengaturan drainase.
Pada lahan miring, praktik pertanian perlu dirancang agar aliran air tidak terkumpul dan menggerus satu bagian lereng.
Teknik yang digunakan harus disesuaikan dengan kondisi lapangan serta rekomendasi tenaga teknis.
Petani, pemilik lahan, dan pengelola perkebunan perlu memperoleh informasi yang jelas mengenai risiko dan pilihan pengelolaan yang aman.
Pendekatan ini penting agar kebutuhan ekonomi masyarakat tetap diperhatikan sekaligus menjaga fungsi ekologis kawasan.
baca juga : Kawah Putih hingga Rengganis Bridge, Rangkaian Wisata Alam di Rancabali
Langkah Pemerintah dalam Mengantisipasi Risiko Longsor
Peringatan KDM menempatkan perlindungan tanaman konservasi sebagai perhatian bersama.
Pemerintah daerah dapat menindaklanjutinya melalui koordinasi dengan instansi lingkungan, perkebunan, tata ruang, dan kebencanaan, serta memastikan perubahan pemanfaatan lahan mengikuti ketentuan yang berlaku.
Pemeriksaan kondisi lereng, pemetaan kawasan rawan, perbaikan saluran air, dan edukasi bagi masyarakat dapat membantu mengurangi risiko.
Kebijakan perlu didasarkan pada data lokasi dan kajian teknis.
Dengan pengawasan dan perencanaan yang tepat, kegiatan pertanian dapat dibahas bersama perlindungan lingkungan.
Pesan utama KDM adalah agar kepentingan ekonomi tidak mengabaikan tanaman yang berfungsi menjaga lingkungan dan keselamatan masyarakat di kawasan Bandung Selatan.
sumber : https://bandung.bisnis.com/

