Kenali Irama Jantungmu, Hindari Aritmia Mematikan

sekitarbandung.com – Santosa Hospital Bandung Central menggelar seminar edukasi bertajuk Kenali Irama Jantungmu, Waspada Aritmia di Jalan Kebon Jati No 38, Kota Bandung, pada Rabu (6/8/2025).

Acsyara Aulia

Kenali Irama Jantungmu, Hindari Aritmia Mematikan

sekitarbandung.com – Santosa Hospital Bandung Central menggelar seminar edukasi bertajuk Kenali Irama Jantungmu, Waspada Aritmia di Jalan Kebon Jati No 38, Kota Bandung, pada Rabu (6/8/2025).

Gangguan irama jantung atau aritmia mungkin terdengar asing bagi sebagian masyarakat.

Namun, kondisi ini bisa hadir diam-diam tanpa gejala, bahkan berujung pada risiko kematian mendadak jika tak dikenali sejak dini.

dr. Luke Lompoliu, MM selaku Direktur Utama Santosa Hospital Bandung Central menegaskan bahwa seminar awam bertema edukasi jantung yang digelar pihaknya merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait kesehatan jantung secara menyeluruh.

“Ini adalah bagian dari komitmen kami, karena layanan unggulan di Santosa Hospital Bandung Central memang jantung. Maka, penting mengadakan seminar seperti ini,” ujar dr. Luke, kepada awak media, Rabu (6/8/2025).

Menurutnya, masyarakat kerap kali menganggap penyakit jantung hanya sebatas pemasangan ring.

Padahal, spektrumnya jauh lebih luas, termasuk aritmia atau gangguan irama jantung yang bisa menyebabkan henti jantung mendadak.

Seminar yang terbuka untuk umum ini diharapkan bisa membuka wawasan masyarakat mengenai deteksi dini, gejala, hingga langkah penanganan yang tepat terhadap gangguan irama jantung.

dr. Luke juga menyoroti pentingnya medical check-up secara berkala untuk menekan risiko serangan jantung.

Selain aritmia, Santosa Hospital Bandung Central juga memiliki fasilitas lengkap untuk penanganan berbagai masalah jantung dan pembuluh darah, mulai dari pemasangan ring, bedah bypass, pacemaker, hingga prosedur ablasi.

Semua layanan ini, kata dr. Luke, bahkan bisa diakses dengan BPJS tanpa biaya tambahan.

Ke depannya, ia berharap seminar edukatif seperti ini bisa digelar rutin setiap bulan, melihat tingginya animo peserta baik secara daring maupun luring.

“Harapannya masyarakat semakin aware dan tidak panik saat menghadapi gejala. Langsung periksa, jangan menunda,” kata dia.

Dokter Spesialis Jantung Intervensi dari Santosa Hospital Bandung Central, dr. Muhammad Iqbal, Sp.JP mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan mulai mengenali tanda-tanda aritmia secara mandiri.

“Aritmia itu berasal dari kata A dan ritmia. Ritmia artinya irama jantung yang teratur. Jadi, aritmia berarti irama yang tidak teratur,” jelas dr. Iqbal.

Ia menambahkan, aritmia adalah gangguan irama jantung yang bisa berupa detak terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur.

Keluhan penderita aritmia pun bervariasi, mulai dari tanpa gejala sama sekali hingga pusing, rasa melayang, vertigo, bahkan bisa menyebabkan pingsan.

“Yang lebih ekstrem, aritmia juga bisa menyebabkan kematian mendadak,” ujarnya.

Untuk mendeteksi aritmia secara mandiri, masyarakat bisa melakukan langkah sederhana yang disebut dr. Iqbal sebagai “menari”, atau menari: menakar irama nadi sendiri.

“Gampangnya, raba nadi di pergelangan tangan, dekat ibu jari. Gunakan tangan satunya untuk meraba. Hitung selama satu menit berapa kali jantung berdetak,” jelasnya.

Detak jantung yang normal pada kondisi istirahat, lanjut dr. Iqbal, berkisar antara 60 sampai 100 kali per menit. Namun, bukan hanya jumlah detak yang harus diperhatikan.

“Yang kedua, iramanya harus teratur. Bisa saja jumlahnya 80, tapi detaknya tidak beraturan. Itu pun termasuk aritmia,” kata dia.

Jika masyarakat merasakan keluhan seperti pusing atau vertigo berkepanjangan yang datang dan pergi, ditambah dengan irama jantung yang terasa tidak teratur, dr. Iqbal menyarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter, khususnya spesialis jantung yang mendalami kasus aritmia.

“Aritmia itu bisa menyerang siapa saja, dari anak-anak sampai dewasa. Tidak selalu berkaitan dengan kolesterol, darah tinggi, atau diabetes,” ujarnya.

Bahkan pada pasien muda yang merasa sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit jantung pun, aritmia bisa terjadi.

“Oleh karena itu, penting untuk tidak menganggap remeh keluhan ringan. Kalau merasa ada yang tidak beres dengan irama jantung, jangan tunda periksa. Karena gangguan jantung itu spektrumnya luas. Tidak semua harus pasang ring,” tambahnya.

Sementara itu, Dokter Spesialis Jantung Intervensi lainnya dari Santosa Hospital Bandung Central, dr. Rd. M. Reza Juniery P., Sp.JP, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai risiko penyumbatan pembuluh darah di kaki, yang kerap terjadi bersamaan dengan masalah jantung.

“Faktor risikonya sama, seperti diabetes, merokok baik elektrik maupun konvensional, hipertensi, obesitas, dan kurang aktivitas fisik,” ujar dr. Reza.

Meski tampak sebagai dua kondisi yang berbeda, penyumbatan pembuluh darah di kaki dan jantung sering kali berasal dari akar masalah yang sama.

Bahkan, ada juga faktor risiko yang tak bisa dihindari, seperti usia.

“Semakin tua, makin tinggi risikonya. Itu tidak bisa kita hindari,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya kesadaran (awareness) tidak hanya dari pasien, tetapi juga keluarga.

“Awareness harus jadi tanggung jawab bersama. Suami, istri, anak, semua harus terlibat, termasuk dalam menjaga pola hidup sehat,” ucapnya.

Ia menyebut bahwa masyarakat Asia memiliki prevalensi penyakit arteri perifer (Peripheral Artery Disease/PAD) yang tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan Eropa.

“Umumnya, 50 persen kasus PAD itu tidak terdiagnosis dan tidak tertangani. Jadi datang ke kita sudah telat,” imbuhnya.

PAD Awareness Month yang juga diperingati bersamaan dengan World Heart Day menjadi momentum penting untuk meningkatkan edukasi masyarakat terhadap kondisi ini.

Baca juga : Air Kiriman dari Kota Bandung Rendam Kampung Cijagra

“Kalau terjadi akut, dampaknya bisa sangat fatal. Karena pembuluh darah di kaki bisa dilihat langsung. Misalnya, kaki pucat, dingin, tidak ada denyut nadi di bagian kaki, atau bahkan nyeri saat istirahat,” jelasnya.

Ia menyebut gejala akut PAD dikenal dengan istilah “5P”: pain (nyeri), pallor (pucat), pulselessness (tidak ada denyut), paresthesia (kebas atau baal), dan paralysis (kelumpuhan).

Selain itu, pada kondisi kronis, gejala bisa berupa luka yang tak kunjung sembuh, kuku yang rusak atau tidak tumbuh normal, kulit yang menghitam dan tampak licin, serta hilangnya rambut di kaki.

Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

Related Post

Tinggalkan komentar