sekitarbandung.com –Kasus keracunan massal MBG di Bandung Barat kembali jadi perhatian publik. Puluhan siswa yang sebelumnya dinyatakan sembuh kini mengalami gejala serupa, Senin (29/9/2025).
Menurut data Puskesmas Cipongkor, ada 26 pasien yang datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) sekitar pukul 10.30 WIB dengan keluhan mual dan pusing. Sebagian besar merupakan siswa yang sempat menjadi korban keracunan massal pekan lalu.
Kepala Puskesmas Cipongkor, dr. Yuyun Sarihotimah, membenarkan bahwa kasus ini merupakan keracunan berulang.
“Betul, ini keracunan berulang. Ada 26 kasus yang kita tangani hari ini, empat pasien dirujuk ke rumah sakit, sisanya sudah pulang setelah mendapat perawatan,” jelasnya.
Baca Juga: Keracunan MBG Bandung Barat: 1.244 Korban Sembuh, 65 Masih Dirawat
Penyebab Masih Diselidiki
Yuyun menambahkan, pihaknya melakukan pengumpulan informasi (anamnesis) dengan meminta keterangan dari para siswa. Hal ini untuk memastikan apakah keracunan kembali disebabkan oleh makanan program MBG atau sumber makanan lain.
“Dua dapur MBG sudah ditutup sementara. Dugaan awal keracunan berulang ini karena konsumsi makanan lain di luar program MBG,” tambah Yuyun.
Klaster dari Dapur Neglasari
Plt Camat Cipongkor, Bambang Wijanarko, menjelaskan bahwa para siswa yang sakit masih berasal dari klaster dapur SPPG Maju Jaya, Desa Neglasari.
“Puluhan korban keracunan ini berasal dari sekolah MTS Muslim, MTS Syarif Hidayatullah, MI Babakan, dan MA Darulfikri. Mereka masih dalam satu klaster dari dapur Neglasari,” kata Bambang.
Kondisi Pasien dan Langkah Lanjutan
Hingga sore hari, sebagian besar pasien sudah diperbolehkan pulang. Namun, pemerintah kecamatan bersama Dinas Kesehatan tetap meningkatkan pengawasan agar kasus keracunan massal MBG tidak kembali terjadi.
Pihak kecamatan juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan dinas terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dapur penyedia MBG di wilayah Cipongkor.
Sebagai langkah preventif, petugas kesehatan menekankan pentingnya sterilisasi peralatan makan, penggunaan bahan baku segar, serta pemantauan kualitas air.
Langkah ini sejalan dengan arahan pemerintah pusat. Bahkan, FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) menekankan bahwa standar keamanan pangan di sekolah menjadi kunci keberhasilan program makan bergizi di banyak negara. Baca lebih lanjut di FAO.
Kasus keracunan berulang Bandung Barat menjadi pelajaran penting bagi pemerintah daerah dan pusat dalam menyempurnakan program MBG. Evaluasi berlapis dan pengawasan ketat diharapkan mampu menutup celah agar insiden serupa tidak kembali terjadi di masa depan.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

