Sekitarbandung.com – KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan pengasuh Pesantren Tebuireng, mengambil langkah yang sangat berani dan berisiko dalam menentang kebijakan Jepang di Indonesia.
Pada tahun 1942, Jepang mewajibkan seluruh rakyat Indonesia melakukan Seikerei, yaitu ritual membungkukkan badan 90 derajat ke arah Tokyo setiap pagi.
Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Matahari dan Kaisar Hirohito.
Menanggapi hal tersebut, Hasyim mengeluarkan fatwa bahwa Seikerei hukumnya haram dan memerintahkan seluruh santri serta ulama untuk menentang aturan militer tersebut.
Jepang Mulai Murka
Keputusan ini membuat Jepang murka. Pada April 1942, pasukan elit yang terkenal sadis, Kempeitai (Polisi Militer Jepang), menyerbu Pesantren Tebuireng.
Ribuan santri pun mulai bersiap mati syahid untuk menghalangi penangkapan kiai mereka.
Namun, demi menghindari pertumpahan darah para santrinya, Hasyim memilih menyerahkan diri secara sukarela.
Ia dipindahkan ke beberapa lokasi penahanan, mulai dari Penjara Jombang, Penjara Purwotengah di Mojokerto, hingga akhirnya ditahan di Penjara Militer Koblen di Bubutan, Surabaya.
Di sinilah siksaan brutal dimulai. Kempeitai memaksanya untuk mencabut fatwanya. Karena terus menolak, ia dipukul dan dipecut tanpa ampun.
Efek dari Penyiksaannya
Akibat siksaan tersebut, jari-jari tangan kanan Hasyim patah dan mengalami cacat permanen sehingga tidak dapat digerakkan secara normal.
Namun, siksaan fisik itu gagal menembus benteng akidahnya. Di dalam sel yang dingin, dengan tangan yang bengkak dan berdarah, ia tidak berhenti melantunkan zikir serta tetap menolak menundukkan kepala kepada Kaisar Jepang.
Baca Juga: Sisi Gelap Kejatuhan Gus Dur, Dilengserkan Hanya dalam Waktu 21 Bulan
Pemberontakan Besar-besaran
Kabar disiksanya Hasyim akhirnya bocor ke publik. Reaksinya sangat mengkhawatirkan bagi Jepang.
Para kiai dan puluhan ribu santri di seluruh Jawa bersatu serta siap mengorbankan nyawa untuk melakukan pemberontakan besar-besaran.
Beberapa ulama besar bahkan secara sukarela datang ke penjara dan meminta agar mereka saja yang menggantikan posisi sang kiai.
Militer Jepang Melunak
Menyadari posisi mereka mulai terdesak dalam Perang Pasifik dan sangat membutuhkan pengaruh ulama untuk menarik simpati umat Islam, militer Jepang akhirnya melunak.
Pada 18 Agustus 1942, setelah empat bulan ditahan, KH. Hasyim Asy’ari dibebaskan. Pihak Jepang bahkan meminta maaf dan kemudian menawarkan posisi terhormat sebagai bagian dari taktik diplomasi.
Lebih lanjut, tangan kanan Hasyim yang cacat menjadi saksi bisu atas perlawanan yang terus dikenang hingga kini.
Baca Juga: Kisah Wartawan Penakluk Dua Rezim, Berani Bongkar Skandal Era Soekarno

