Kisah Tragis Si Jenius yang Ditolak pada Zamannya, Tapi Nama Chairil Anwar Abadi Sampai Hari Ini

Sekitarbandung.com – Lihatlah foto-foto ikoniknya. Rambut kusut, rokok yang tak lepas dari bibir, dan tatapan mata yang tajam seolah menantang dunia. Dialah Chairil Anwar. Sosok

Dicky Wicaksono

Kisah Tragis Si Jenius yang Ditolak pada Zamannya, Tapi Nama Chairil Anwar Abadi Sampai Hari Ini
Kisah Tragis Si Jenius yang Ditolak pada Zamannya, Tapi Nama Chairil Anwar Abadi Sampai Hari Ini

Sekitarbandung.com – Lihatlah foto-foto ikoniknya. Rambut kusut, rokok yang tak lepas dari bibir, dan tatapan mata yang tajam seolah menantang dunia. Dialah Chairil Anwar.

Sosok yang kerap dianggap “anak nakal” dalam sejarah sastra Indonesia. Hidupnya jauh dari kemapanan, namun dari kekacauan hidupnya itulah lahir puisi-puisi paling jujur yang pernah dimiliki bangsa ini.

Sebelum Chairil hadir, puisi Indonesia terasa kaku, mendayu-dayu, dan terikat pada aturan lama (Pujangga Baru). Chairil muda, dengan arogansi intelektualnya, menolak semua itu.

Baginya, puisi harus hidup, harus berdarah, dan harus jujur, meski terdengar kasar. Ia membawa bahasa pasar dan bahasa jalanan masuk ke dalam ruang sastra yang selama ini dianggap sakral.

Di tengah sensor ketat pendudukan Jepang pada tahun 1943, Chairil membacakan sajaknya yang berjudul “Aku”. Ruangan pun senyap. Orang-orang terhenyak.

Kalimat “Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang” bukan sekadar metafora. Kalimat itu adalah deklarasi dirinya.

Seorang outsider, seorang yang tak sudi tunduk pada norma, bahkan jika harus hidup sendirian dan terasing.

Jangan bayangkan ia hidup nyaman. Chairil adalah seorang bohemian sejati di Jakarta era 40-an. Ia sering kali tak memiliki uang.

Bahkan, ia kerap menumpang tidur di rumah teman, dengan pakaian lusuh, dan sering terlibat debat panas di warung-warung kopi. Baginya, harta bukanlah uang, melainkan buku-buku, dari sastra Barat hingga filsafat Timur.

Baca Juga: Kisah Pahlawan Tanpa Makam, Supriyadi Sang Pemimpin PETA yang Hilang Misterius

Meski hidupnya kacau, nasionalismenya tak perlu diragukan. Saat revolusi fisik pecah, Chairil tidak memanggul senjata di garis depan. Namun penanya lebih tajam dari bayonet.

Puisi seperti “Karawang-Bekasi” atau “Persetujuan dengan Kematian” menjadi bahan bakar semangat para pemuda yang bertempur. Ia menyuarakan derita sekaligus tekad rakyat.

Namun, gaya hidup keras itu menuntut bayaran. Kurang gizi, sering begadang, dan kebiasaan merokok berat membuat tubuhnya semakin ringkih. Penyakit pun mulai menggerogotinya.

Mulai dari sifilis, tipus, hingga TBC paru-paru yang parah. Di balik puisi-puisinya yang gagah, terdapat tubuh yang terus berteriak menahan kesakitan.

Perjalanannya harus berhenti pada April 1949. Chairil dilarikan ke RSCM Jakarta dalam kondisi kritis. Ia meninggal dunia di usia yang sangat muda, 27 tahun.

Tragisnya, ia wafat dalam keadaan miskin, nyaris tanpa didampingi siapa pun di saat-saat terakhirnya. Sang singa podium itu pergi dalam sunyi.

Ia dimakamkan di Karet Bivak. Makamnya sederhana, tetapi peziarah tak pernah putus. Chairil membuktikan kata-katanya sendiri dalam puisi “Aku”:

“Sekali berarti, sudah itu mati.” Ia hidup singkat, tetapi sangat berarti. Dan benar, lewat karya-karyanya, ia kini hidup seribu tahun lagi.

Baca Juga: Suaminya Dibunuh oleh Penjajah, Malahayati Langsung Bentuk Pasukan Janda untuk Bantai Armada Belanda

Related Post

Tinggalkan komentar