Kita Tidak Malas Baca, Hanya Saja Media Sosial Paksa Kita Kecanduan Konten

Sekitarbandung.com – Kita sebenarnya bangsa yang suka membaca. Lihat saja, di depan layar kita bisa scrolling berjam-jam tanpa henti. Namun, ada satu hal yang sangat

Dicky Wicaksono

Kita Tidak Malas Baca, Hanya Saja Media Sosial Paksa Kita Kecanduan Konten
Kita Tidak Malas Baca, Hanya Saja Media Sosial Paksa Kita Kecanduan Konten

Sekitarbandung.com – Kita sebenarnya bangsa yang suka membaca. Lihat saja, di depan layar kita bisa scrolling berjam-jam tanpa henti. Namun, ada satu hal yang sangat disayangkan.

Sistem distribusi media lebih suka menyuapi kita materi bacaan yang kurang berdaging. Kita dibuat kenyang membaca, tetapi otak tetap merasakan kelaparan nutrisi.

Alasan Suka Baca Berita Tidak Penting

Faktanya, kita dimanipulasi oleh sebuah algoritma yang seolah memberi kebebasan dalam memilih, padahal sebenarnya kita hanya disuapi.

Algoritma didesain bukan hanya untuk membuat kita pintar, tetapi untuk mencuri waktu kita. Inilah mengapa algoritma akan terus memberikan konten yang membuat kita senang.

Dampaknya, kita kehilangan kemampuan untuk berpikir mendalam karena terbiasa disuapi oleh algoritma.

Lalu, otak kita menjadi terbiasa mengambil jalan pintas. Kita terjebak dalam fenomena “tahu tetapi tidak paham”. Kita tahu ada berita besar, tetapi tidak sanggup mencerna mengapa hal itu terjadi.

Perbedaan Kontras

Tahu informasi saja berbeda kelas dengan benar-benar paham. Jempol kita memang sudah otomatis lincah untuk scroll sana-sini, tetapi pikiran sering kali kelabakan saat diminta mencerna konteks.

Tanpa adanya filter yang kuat, kita akan sangat mudah termakan oleh narasi dan clickbait murahan.

Baca Juga: Dihafal Jutaan Siswa Sekolah, namun Banyak Sejarah Bangsa yang Dibelokkan

Angka Tidak Bohong

Berdasarkan hasil survei PISA tahun 2022, skor literasi membaca Indonesia tercatat jatuh ke angka 359. Hal itu menjadi titik terendah sepanjang sejarah sejak tahun 2000.

Artinya, masalah kita bukan kurang asupan teks bacaan. Namun, kita mulai kehilangan kemampuan untuk mencerna makna yang mendalam.

Rendahnya literasi juga memiliki efek samping yang mengerikan. Kita menjadi sasaran empuk hoaks. Tanpa filter literasi yang kuat, masyarakat sangat mudah disetir oleh narasi palsu.

Misalnya mulai dari mempercayai berita bohong yang tidak masuk akal hingga menjadi korban investasi bodong.

Kita tidak perlu memusuhi media sosial karena di sanalah pintu gerbang informasi tercepat. Namun, untuk benar-benar paham, kita membutuhkan buku agar bisa berhenti sejenak.

Jika media sosial melatih kita bereaksi cepat, maka buku melatih kita untuk berpikir mendalam. Menggabungkan keduanya merupakan cara terbaik untuk mengontrol isi kepala kita sendiri.

Baca Juga: Bukan hanya Indonesia, Negara Eropa juga Batasi Media Sosial Anak

Related Post

Tinggalkan komentar