sekitarBANDUNGcom – Suasana bahagia di sebuah pesta pernikahan di Gedung Serbaguna Cempaka, kawasan Arcamanik, Bandung, pada Sabtu malam lalu berubah menjadi mimpi buruk keesokan harinya. Puluhan tamu undangan yang semula merayakan hari bahagia kedua mempelai, kini harus dilarikan ke sejumlah rumah sakit dan puskesmas terdekat dengan keluhan serupa: mual hebat, muntah, diare, dan demam tinggi. Pesta yang seharusnya meninggalkan kenangan manis, justru berakhir menjadi sebuah tragedi keracunan massal.
Hingga Senin pagi, data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mencatat sedikitnya 50 orang telah menjadi korban keracunan massal, dengan beberapa di antaranya masih harus menjalani perawatan intensif. Insiden tersebut sontak memicu kepanikan dan menjadi sorotan utama. Tim gabungan dari Dinkes dan Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polrestabes Bandung kini tengah bekerja cepat untuk mengusut tuntas sumber dari malapetaka tersebut.
Meskipun hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan masih menunggu beberapa hari lagi, penyelidikan awal yang didasarkan pada wawancara para korban keracunan massal dan analisis menu yang disajikan telah mengerucut pada tiga hidangan utama. Tiga menu populer tersebut diduga kuat menjadi penyebab utama dari wabah keracunan massal yang mengubah perayaan cinta menjadi bencana.
Baca juga – Waspada! 4 Kandungan Snack Berbahaya Ancam Ginjal Anak, Picu Cuci Darah Usia Dini
1. Sate Ayam dan Bumbu Kacang: Kelezatan yang Menyimpan Risiko
Hidangan pertama yang masuk dalam daftar teratas tersangka keracunan massal adalah sate ayam beserta bumbu kacangnya. Hampir semua korban yang diwawancarai mengaku menyantap hidangan favorit sejuta umat tersebut. Menurut para ahli keamanan pangan, sate adalah salah satu menu paling berisiko dalam sebuah sajian katering massal jika tidak ditangani dengan standar yang ketat.
Risiko pertama terletak pada daging ayam itu sendiri. Jika proses pembakaran tidak sempurna dan daging masih kurang matang di bagian dalamnya, bakteri berbahaya seperti Salmonella dapat bertahan hidup dan berkembang biak. Risiko kedua, dan yang seringkali menjadi biang keladi utama, adalah bumbu kacangnya. Bumbu yang dibuat dalam jumlah besar seringkali dimasak jauh-jauh hari sebelumnya dan dibiarkan terlalu lama dalam suhu ruang. Kondisi tersebut adalah surga bagi pertumbuhan bakteri patogen.
Dr. R.A. Adji Samekto, seorang ahli pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), menjelaskan kerentanan hidangan berbasis saus. “Produk saus seperti bumbu kacang atau saus salad memiliki kadar air dan nutrisi yang tinggi, membuatnya menjadi media yang sangat baik untuk pertumbuhan mikroba jika tidak disimpan pada suhu yang tepat, baik panas maupun dingin. Kesalahan dalam manajemen suhu adalah penyebab paling umum dari kasus keracunan makanan,” paparnya dalam sebuah jurnal pangan.
2. Sayuran Mentah dalam Gado-gado: Kesegaran yang Tercemar?
Tersangka utama kedua adalah hidangan yang terlihat paling sehat dan segar: gado-gado. Menu yang terdiri dari aneka sayuran yang direbus dan beberapa sayuran mentah (lalapan) ini juga menjadi pilihan banyak korban. Titik kritis dari hidangan tersebut terletak pada sayuran mentahnya, seperti selada, timun, atau kemangi.
Jika sayuran tidak dicuci dengan air bersih yang mengalir atau proses pencuciannya tidak higienis, bakteri seperti E. coli atau Listeria dari tanah atau air yang terkontaminasi dapat menempel dan masuk ke dalam tubuh. Selain itu, sama seperti sate, saus kacang yang digunakan juga memiliki risiko yang sama jika tidak ditangani dengan benar.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara rutin mengeluarkan peringatan tentang pentingnya kebersihan sayuran mentah. “Sayuran mentah harus dicuci di bawah air mengalir sebelum diolah atau dikonsumsi. Jangan pernah menggunakan wadah atau talenan yang sama untuk sayuran dan daging mentah untuk menghindari kontaminasi silang,” demikian bunyi salah satu anjuran dalam kampanye keamanan pangan BPOM RI.
3. Hidangan Penutup: Puding Krim yang Terlupakan
Hidangan penutup seringkali menjadi tersangka yang tidak terduga. Dalam kasus keracunan massal, puding berbahan dasar susu dan krim menjadi salah satu menu yang dicurigai. Hidangan penutup yang lembut dan manis tersebut sangat rentan terhadap kontaminasi bakteri Staphylococcus aureus, terutama jika proses pengolahannya tidak higienis atau—yang paling sering terjadi—dibiarkan terlalu lama di suhu ruang.
Bakteri Staphylococcus aureus dapat menghasilkan racun (enterotoksin) yang tahan terhadap panas. Jadi, meskipun puding disimpan kembali di lemari pendingin, racun yang sudah terbentuk tidak akan hilang dan dapat menyebabkan gejala keracunan yang cepat dan hebat.
Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, seorang praktisi klinis dan dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, kerap mengingatkan bahaya tersebut. “Keracunan makanan akibat toksin Staphylococcus biasanya terjadi cepat, dalam 1-6 jam setelah makan. Gejalanya khas, yaitu mual dan muntah yang hebat. Ini sering terjadi pada makanan yang mengandung krim, susu, atau mayones yang tidak disimpan dengan benar,” jelasnya kepada Kompas.com.
Langkah Cepat Pemerintah dan Nasib Penyedia Katering
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Anhar Hadian, menyatakan pihaknya telah bertindak cepat. “Tim surveilans kami telah turun ke lapangan, mengambil sampel sisa makanan, sampel air, dan juga muntahan korban untuk diperiksa di Laboratorium Kesehatan Daerah. Kami juga telah meminta keterangan dari pihak penyedia katering dan menutup sementara dapur mereka untuk investigasi lebih lanjut,” ujar Anhar.
Pihak kepolisian dari Polrestabes Bandung juga telah memulai penyelidikan untuk mendalami ada atau tidaknya unsur kelalaian yang bisa berujung pada keracunan massal dan tuntutan pidana. Nasib penyedia katering kini berada di ujung tanduk, menunggu hasil akhir dari laboratorium yang akan menjadi bukti kunci.
Tragedi keracunan massal di pesta pernikahan ini menjadi pengingat pahit bagi semua pihak, baik penyedia jasa boga maupun konsumen, tentang betapa krusialnya standar kebersihan dan keamanan pangan. Sebuah perayaan yang seharusnya menjadi awal dari kebahagiaan, kini justru meninggalkan trauma dan pelajaran yang sangat mahal.
Bukan hanya makanan berat yang mengakibatkan keracunan massal, makanan ringan atau “ciki” pun bisa menjadi penyebab keracunan, baca di – “Ciki Ngebul” Sebabkan Kasus Keracunan, Dinkes Jabar Akan Turun Tangan

