Kopo: dari Jalur “Emas” hingga Jadi Ikon Kesabaran di Bandung

Sekitarbandung.com – Jauh sebelum klakson bersahutan, Kopo merupakan distrik yang tenang dan jauh dari kebisingan yang mengakibatkan kepala pusing tujuh keliling. Pada masa kolonial, Kopo

Dicky Wicaksono

Kopo: dari Jalur "Emas" hingga Jadi Ikon Kesabaran di Bandung (Instagram/@humas_jabar)
Kopo: dari Jalur "Emas" hingga Jadi Ikon Kesabaran di Bandung (Instagram/@humas_jabar)

Sekitarbandung.com – Jauh sebelum klakson bersahutan, Kopo merupakan distrik yang tenang dan jauh dari kebisingan yang mengakibatkan kepala pusing tujuh keliling.

Pada masa kolonial, Kopo dikenal sebagai hamparan hijau yang menghubungkan pusat kota dengan kawasan perkebunan teh dan kopi di Ciwidey serta Pangalengan.

Udara segar tanpa polusi dan suara roda pedati yang membawa hasil bumi menjadi pemandangan sehari-hari, sangat berbeda dengan kondisi saat ini.

Nama Kopo sendiri berasal dari pohon Kopo (Syzygium polycephalum), karena dahulu kawasan ini merupakan rawa dengan banyak buah kecil yang rasanya manis sepat.

Baca Juga: Tutorial Menikah Sat Set Anti Ribet di Mal Pelayanan Publik Kota Bandung

Kopo juga pernah menjadi jalur urat nadi ekonomi, ditandai dengan adanya jalur kereta yang menghubungkan Bandung dengan Ciwidey.

Kini, Kopo telah bertransformasi menjadi kawasan hunian dan bisnis yang sangat padat, dengan pusat tekstil, kuliner, hingga akses utama menuju Tol Soreang-Pasirkoja (Soroja).

Meski kini identik dengan kemacetan dan genangan air saat hujan hingga banjir, Kopo tetap memiliki daya tarik tersendiri yang membuat orang rindu.

Di balik hiruk pikuknya, Kopo menjadi rumah bagi ribuan cerita perjuangan warga Bandung yang berangkat pagi dan pulang petang, sekaligus menjadi bukti perkembangan kota yang terus melaju tanpa henti.

Baca Juga: Operasi Katarak Gratis di Summarecon Bandung, Berikut Syarat dan Jadwal Pelaksanaannya!

Related Post

Tinggalkan komentar