Kresek Diciptakan untuk Selamatkan Bumi, tetapi Justru Berakhir Jadi Sampah Abadi

Sekitarbandung.com – Setiap pergi ke warung, pasar, atau sekadar jajan cimol, belanjaan hampir selalu dibungkus kresek. Namun kini, kresek atau plastik tersebut justru kerap dicap

Dicky Wicaksono

Kresek Diciptakan untuk Selamatkan Bumi, tetapi Justru Berakhir Jadi Sampah Abadi
Kresek Diciptakan untuk Selamatkan Bumi, tetapi Justru Berakhir Jadi Sampah Abadi

Sekitarbandung.com – Setiap pergi ke warung, pasar, atau sekadar jajan cimol, belanjaan hampir selalu dibungkus kresek. Namun kini, kresek atau plastik tersebut justru kerap dicap sebagai perusak lingkungan.

Padahal, jika dilihat dari sejarahnya, kresek justru diciptakan dengan tujuan untuk menyelamatkan bumi.

Tahun 1950

Jika mundur ke tahun 1950, dunia sedang mengalami krisis akibat banyaknya hutan yang gundul karena produksi kantong kertas yang sangat masif.

Jutaan pohon ditebang hanya untuk dijadikan kantong belanja sekali pakai yang mudah sobek.

Di tengah kondisi tersebut, muncul ide brilian dari Sten Gustaf Thulin yang menciptakan kantong kresek sebagai solusi.

Tujuannya adalah untuk menggantikan kantong kertas agar tidak terus menebang pohon, sekaligus menghadirkan kantong yang lebih awet dan bisa digunakan berulang-ulang.

Baca Juga: 5 Aktor Hollywood yang Kariernya Hancur karena Satu Film Gagal

Tidak Sesuai Tujuan

Ironisnya, tujuan baik tersebut perlahan mulai bergeser. Permasalahannya bukan pada bahannya, melainkan pada cara kita menggunakannya.

Barang yang didesain untuk bertahan selama bertahun-tahun justru hanya dipakai beberapa menit dari warung ke rumah, lalu langsung dibuang ke tempat sampah.

Misi menyelamatkan bumi pun menjadi gagal. Di Indonesia saja, sekitar 182,7 miliar kantong kresek dibuang setiap tahunnya.

Alat yang awalnya bertujuan menyelamatkan hutan kini justru menjadi tumpukan limbah yang mencemari lingkungan.

Masih Digunakan

Ironisnya, hingga saat ini kita masih sulit lepas dari kresek. Bukan karena tidak peduli lingkungan, tetapi karena pilihan yang paling murah masih didominasi oleh kresek.

Jika beralih ke bahan yang lebih ramah lingkungan, biaya produksi akan meningkat dan pada akhirnya harga jual pun ikut naik.

Situasi semakin diperparah dengan kondisi global, seperti ketegangan di Selat Hormuz yang memicu kenaikan harga minyak mentah dunia.

Karena bahan baku plastik berasal dari minyak bumi, harganya pun ikut naik. Akibatnya, bukan hanya lingkungan yang terdampak, tetapi juga kondisi ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Dunia Sudah di Tahun 2026, tetapi Negara Afrika ini Masih Stuck di Tahun 2019

Related Post

Tinggalkan komentar