Sekitarbandung.com – Pada akhir tahun 1965, tingkat inflasi meroket tajam hingga menyentuh angka lebih dari 600 persen. Harga barang kebutuhan pokok menjadi sangat tidak terkendali.
Kekacauan ini tidak terjadi dalam semalam. Pada era Demokrasi Terpimpin, pemerintahan Soekarno sangat agresif membiayai proyek-proyek “Mercusuar” demi kepentingan politik serta mendanai konfrontasi militer dengan Malaysia.
Ketika kas negara menipis, pemerintah mengambil langkah yang berdampak besar, yaitu terus mencetak uang baru tanpa perhitungan yang matang. Akibatnya, jumlah uang beredar meningkat tajam dan nilai mata uang mengalami penurunan.
Dampak ke Rakyat Jelata
Dampak hiperinflasi ini menghantam kehidupan rakyat secara langsung. Kebutuhan pokok seperti beras, minyak tanah, dan gula mulai langka di pasaran.
Kalaupun tersedia, harganya melambung tinggi. Rakyat harus mengantre berjam-jam demi mendapatkan jatah beras dalam jumlah terbatas.
Karena tidak mampu membeli beras, banyak masyarakat terpaksa mengonsumsi bulgur, gandum bantuan luar negeri yang terasa asing di lidah, demi bertahan hidup.
Baca Juga: 6 Tokoh Pejabat Penting yang Jarang Dibenci dalam Sejarah Indonesia
Kebijakan Moneter Radikal
Di tengah situasi pasca-G30S, pemerintah mengeluarkan kebijakan moneter radikal pada 13 Desember 1965.
Pemerintah menerbitkan rupiah baru dan memangkas nilai nominal uang, yakni Rp1.000 uang lama ditukar menjadi Rp1 uang baru.
Kebijakan yang ditujukan untuk menekan jumlah uang beredar ini justru memicu kepanikan massal. Harga barang bukannya turun, tetapi terus meningkat karena masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap mata uang negara.
Kombinasi Hantaman Maut
Kombinasi antara hiperinflasi, krisis pangan yang ekstrem, dan tragedi berdarah G30S/PKI menjadi hantaman berat bagi pemerintahan Orde Lama.
Ketidakpuasan masyarakat yang dilanda kesulitan ekonomi pun memuncak. Mahasiswa turun ke jalan meneriakkan Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat), yang salah satu poin utamanya adalah tuntutan untuk menurunkan harga-harga.
Krisis ekonomi ini kemudian menjadi salah satu katalis utama runtuhnya rezim Soekarno pada masa tersebut.
Hiperinflasi 1965 menjadi salah satu luka sejarah yang mendalam. Peristiwa ini mengajarkan bahwa ambisi politik sebesar apa pun tidak boleh mengorbankan fondasi ekonomi dan ketahanan pangan.
Ketika pemerintah mengabaikan stabilitas harga, rakyat kecil di lapisan paling bawah sering kali menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
Baca Juga: Museum Passport, Cara Unik yang Buat Kita Jadi Semangat untuk ke Museum

