Cimahi, 7 Oktober 2024 – Musibah tak terduga menimpa warga Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, pada Senin siang, 7 Oktober 2024. Sebuah tembok penahan tanah (TPT) yang merupakan bagian dari proyek pembangunan perumahan Mandalika tiba-tiba longsor, menimpa permukiman warga di Perumahan Bukit Cibogo Living (BCL). Insiden ini mengakibatkan sedikitnya dua rumah mengalami kerusakan parah, dan yang lebih memilukan, tiga anak balita dilaporkan ikut tertimbun reruntuhan.
Detik-detik Longsornya TPT Setinggi 30 Meter
Kejadian nahas ini dilaporkan terjadi sekitar pukul 08:30 WIB. TPT yang ambrol tersebut memiliki ketinggian sekitar 30 meter dengan kemiringan 40 derajat, menunjukkan skala longsoran yang signifikan. Material yang runtuh berupa tanah dan batu pondasi TPT, meluncur deras menimpa dinding belakang rumah-rumah warga di Perumahan BCL. Dinding bagian belakang dua rumah tersebut jebol, tak kuasa menahan hantaman material longsoran.
Salah seorang warga yang menjadi korban, Dimas (35), menceritakan detik-detik mencekam saat TPT itu runtuh. Ia bersama istri dan anaknya, Gabrianov (5), sedang berada di dalam rumah ketika musibah itu terjadi. “Anak saya tertimpa batu saat sedang tidur di dalam kamar, posisinya dia lagi sakit. Waktu kejadian batu merobohkan rumah di bagian belakang materialnya masuk kamar dan menimpa anak saya,” tutur Dimas dengan suara bergetar saat ditemui awak media.
Kesaksian Dimas menggambarkan betapa tiba-tibanya bencana ini, yang membuat warga tidak sempat menyelamatkan diri sepenuhnya. Situasi semakin genting karena reruntuhan material dari TPT tersebut menimbun tidak hanya Gabrianov, tetapi juga dua anak balita lainnya, menjadikan total tiga anak yang menjadi korban timbunan longsor.
Baca juga : Ganti Nama RSUD Al Ihsan Jadi Welas Asih Dikritik, Legislator: Jangan Abaikan Masalah Layanan Dasar
Upaya Evakuasi dan Kondisi Korban
Tim petugas Pemadam Kebakaran segera dikerahkan ke lokasi kejadian setelah menerima laporan darurat. Dengan sigap, mereka melakukan upaya evakuasi di tengah tumpukan reruntuhan tanah dan batu. Fokus utama tim penyelamat adalah mencari dan mengeluarkan anak-anak balita yang tertimbun. Gabrianov (5), putra Dimas, berhasil dievakuasi oleh petugas, memberikan sedikit kelegaan di tengah kepanikan. Meskipun demikian, kondisi Gabrianov yang sedang sakit saat tertimpa reruntuhan menimbulkan kekhawatiran besar akan dampak kesehatannya.
Hingga berita ini diturunkan, upaya penanganan dan pendataan dampak longsor masih terus dilakukan. Kondisi dua anak balita lainnya yang tertimbun juga menjadi perhatian utama bagi petugas dan warga setempat. Tim medis dan relawan juga disiagakan untuk memberikan pertolongan pertama serta penanganan lebih lanjut bagi para korban luka.
Pertanyaan Seputar Proyek dan Tanggung Jawab
Insiden longsornya TPT dari proyek perumahan Mandalika ini sontak memunculkan pertanyaan besar mengenai standar konstruksi dan pengawasan proyek tersebut. TPT yang seharusnya berfungsi sebagai penahan struktur tanah agar tidak longsor, justru menjadi penyebab bencana. Hal ini mengindikasikan adanya kemungkinan cacat konstruksi, perencanaan yang kurang matang, atau kurangnya pengawasan selama proses pembangunan.
Pemerintah Kota Cimahi, melalui dinas terkait, diharapkan segera melakukan investigasi menyeluruh untuk mengetahui penyebab pasti longsornya TPT ini. Audit terhadap standar keamanan pembangunan perumahan Mandalika perlu dilakukan untuk memastikan bahwa proyek-proyek serupa di masa depan tidak menimbulkan ancaman bagi keselamatan warga sekitar.
Selain itu, pertanggungjawaban dari pihak pengembang proyek perumahan Mandalika menjadi sangat krusial. Mereka memiliki tanggung jawab penuh atas kerugian material dan non-material yang dialami warga akibat kelalaian dalam pembangunan TPT. Restitusi, relokasi sementara, dan pemulihan psikologis bagi korban, terutama anak-anak, harus menjadi prioritas utama.
Implikasi Sosial dan Lingkungan
Musibah ini juga mengingatkan kita akan pentingnya evaluasi dampak lingkungan dan sosial dalam setiap pembangunan proyek berskala besar, khususnya di area padat penduduk. Perencanaan tata ruang yang cermat, kajian geologi yang mendalam, serta partisipasi masyarakat dalam proses perizinan, adalah kunci untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang.
Warga Perumahan Bukit Cibogo Living kini dihadapkan pada ketidakpastian. Selain kehilangan tempat tinggal atau kerusakan parah, rasa takut dan trauma pasca-longsor akan membayangi mereka. Solidaritas dan bantuan dari pemerintah serta elemen masyarakat lainnya akan sangat dibutuhkan untuk membantu para korban bangkit dari keterpurukan ini. Semoga keadilan dapat ditegakkan dan pelajaran berharga dapat diambil dari tragedi TPT proyek Mandalika di Cimahi ini.
Redaksi berita diambil dari ayobandung.com
baca juga : Waspada DBD! 799 Kasus di Bandung Barat

