Kilas balik ke 16 Februari 2023, dalam sebuah acara resmi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang membahas isu teknis dan serius seperti stunting, sebuah momen di luar skenario terjadi. Ketua Umum PDI Perjuangan sekaligus Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, yang hadir sebagai pembicara, tiba-tiba keluar dari topik utama. Ia meluapkan sebuah “curhat” atau isi hati yang sangat personal, yang sontak menjadi berita utama dan viral di seluruh platform media sosial.
Di tengah pidatonya, Megawati menanggapi tudingan-tudingan yang sering dialamatkan kepadanya oleh lawan-lawan politiknya: bahwa ia dianggap tidak cukup Islami. Dengan gaya bicaranya yang khas—lugas, tanpa filter, dan penuh penekanan—ia memberikan sebuah jawaban menohok yang akan selalu dikenang. Pernyataan tersebut bukan sekadar klarifikasi, melainkan sebuah jendela langka yang membuka pemahaman kita tentang tekanan politik identitas yang dihadapinya dan bagaimana ia memilih untuk meresponsnya.
Latar Belakang Serangan: Mengapa Keislaman Megawati Sering Dipertanyakan?
Untuk memahami mengapa Megawati merasa perlu mengeluarkan pernyataan tersebut, kita harus melihat konteks politik yang lebih luas. Sebagai pemimpin dari PDI Perjuangan, sebuah partai yang berideologi Nasionalis-Marhaenis, Megawati dan partainya seringkali diposisikan sebagai antitesis dari kelompok-kelompok politik Islamis yang lebih konservatif. Dalam arena politik Indonesia yang sangat terpolarisasi, isu agama kerap kali dieksploitasi dan dijadikan senjata untuk mendelegitimasi lawan.
Tudingan “tidak Islami”, “sekuler”, atau bahkan “anti-Islam” telah menjadi narasi yang secara sistematis dibangun oleh para penentangnya selama bertahun-tahun. Beberapa pidatonya di masa lalu yang disalahartikan atau dipotong di media sosial seringkali digunakan untuk memperkuat narasi tersebut. Serangan-serangan personal inilah yang tampaknya telah menumpuk dan akhirnya memicu respons langsung dari Megawati di panggung BKKBN.
Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, melihat hal ini sebagai bagian dari pertarungan citra yang keras. “Dalam politik Indonesia, label keagamaan memiliki bobot elektoral yang sangat signifikan. Menyerang atau mempertanyakan keislaman seorang tokoh nasional adalah strategi klasik untuk menggerus basis dukungan dan membangun persepsi negatif di kalangan pemilih Muslim. Megawati, sebagai ikon nasionalisme, adalah target yang paling sering menerima serangan semacam ini,” jelasnya dalam sebuah wawancara dengan Sindonews.com.
“Saya Orang Islam… Bodo Amat!”: Momen Curhat di Panggung Stunting
Di tengah acara yang seharusnya membahas gizi anak, Megawati mengambil jeda untuk meluruskan tudingan yang dialamatkan kepadanya. Dengan nada tegas, ia membeberkan bukti-bukti formal keislamannya sebagai sebuah bantahan. Pernyataan lengkapnya, yang kemudian menjadi viral, adalah sebuah kombinasi antara deklarasi, pembuktian, dan sikap abai yang khas. “Saya orang Islam, nanti dibilang nggak islam. Saya orang Islam, naik haji saya udah 2 kali, umrah saya sudah 3 kali, ada yang mengatakan saya tidak islami, ya bodo amat,” ujar Megawati dari liputan acara oleh Kompas.com pada 16 Februari 2023.
Analisis terhadap pernyataan tersebut menunjukkan tiga bagian penting. Pertama, deklarasi identitas (“Saya orang Islam”) yang diulang dua kali untuk penegasan. Kedua, penyajian “bukti” kuantitatif (dua kali haji, tiga kali umrah) yang mudah dipahami oleh publik awam sebagai ukuran kesalehan formal. Ketiga, dan yang paling menjadi sorotan, adalah sikap penutup yang menantang (“ya bodo amat”). Frasa tersebut menunjukkan bahwa meskipun ia merasa perlu untuk mengklarifikasi, pada akhirnya ia tidak terlalu peduli dengan penilaian para pengkritiknya.
Pakar Komunikasi Politik, Dr. Emrus Sihombing, menilai gaya komunikasi tersebut sangat otentik. “Gaya komunikasi Megawati adalah what you see is what you get. Lugas, terkadang emosional, dan tidak dibuat-buat. Frasa ‘bodo amat’ itu adalah cerminan dari karakternya yang tidak mau ambil pusing dengan serangan personal dan menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi. Bagi pendukungnya, ini terlihat sebagai ketegasan; bagi lawannya, ini bisa dilihat sebagai arogansi,” paparnya.
Reaksi Publik yang Terbelah: Antara Dukungan dan Kritik Tajam
Sesaat setelah video pernyataannya menyebar, jagat maya langsung terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama adalah para pendukungnya dan sebagian masyarakat yang memuji kejujuran dan ketegasan Megawati. Mereka melihat pernyataannya sebagai sebuah respons yang manusiawi dan perlu dari seorang tokoh yang terus-menerus diserang identitas pribadinya. Baginya, itu adalah sebuah sikap “capek” yang akhirnya diluapkan.
Di sisi lain, kubu pengkritik melihat pernyataan tersebut dari sudut yang berbeda. Sebagian menganggapnya arogan dan tidak pantas diucapkan dalam sebuah forum resmi kenegaraan. Sebagian lainnya berpendapat bahwa keimanan seseorang tidak bisa diukur dari berapa kali ia naik haji atau umrah. Pernyataan tersebut dianggap justru merendahkan makna ibadah menjadi sekadar alat justifikasi politik. Perdebatan sengit pun tak terhindarkan, menjadikan “Haji 2x, Umrah 3x” sebagai salah satu meme politik paling populer di tahun 2023.
Pernyataan Personal di Tengah Medan Pertarungan Politik Identitas
Pada akhirnya, “jawaban menohok” Megawati di acara BKKBN tersebut akan dikenang sebagai lebih dari sekadar celetukan atau curahan hati. Momen tersebut adalah sebuah studi kasus yang gamblang tentang betapa dalamnya politisasi agama dalam lanskap politik Indonesia. Ia menunjukkan bagaimana seorang tokoh sekelas presiden kelima pun masih harus berjuang untuk menegaskan identitas keimanannya di ruang publik.
Pernyataan tersebut menjadi bukti nyata bahwa di panggung politik Indonesia, pertarungan tidak hanya terjadi di level gagasan dan program, tetapi juga di level simbol dan identitas personal. Dan dalam pertarungan tersebut, Megawati memilih untuk menjawabnya dengan caranya sendiri: kombinasi antara data, fakta, dan sikap tak acuh yang menjadi ciri khasnya.
Baca juga – Megawati Sebut Banyak Yang Antre Ingin Jadi Cawapres Ganjar. Ada 10 Tokoh

