Sekitarbandung.com – Tahukah kamu kalau Panglima Besar pertama TNI kita bukanlah seorang lulusan akademi militer elite? Sebelum angkat senjata, Raden Soedirman merupakan seorang guru SD (Hollandsch-Inlandsche School) di Cilacap.
Sifatnya yang tenang, religius, dan berwibawa membuatnya sangat dihormati. Bahkan di usia 29 tahun, ia sudah dipilih oleh para panglima lain untuk menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Belanda melancarkan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948. Ibu kota Yogyakarta dibombardir dan Istana Negara dikepung.
Presiden Soekarno, Bung Hatta, dan para menteri sipil akhirnya menyerah, ditangkap, lalu diasingkan oleh Belanda. Belanda pun menyiarkan ke seluruh dunia:
“Republik Indonesia sudah hancur dan tidak ada!”
Sebelum ditangkap, Soekarno sempat memerintahkan Soedirman untuk tetap di kota dan beristirahat karena saat itu sang jenderal sedang sakit TBC parah.
Paru-parunya hanya berfungsi sebelah, namun Soedirman menolak keras karena baginya:
“Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernah sakit!”
Baca Juga: Berkuasa 32 Tahun di Indonesia, Namun Sepanjang Hidupnya Hanya Setia pada Siti Hartinah
Dengan kondisi fisik yang hancur dan napas tersengal, ia memutuskan masuk ke hutan belantara. Karena tak sanggup berjalan, para prajurit setianya membuatkan tandu sederhana dari kursi kayu.
Selama kurang lebih tujuh bulan, Soedirman memimpin perang gerilya, menembus hutan, naik turun gunung sejauh lebih dari 1.000 kilometer.
Taktik gerilya ini membuat Belanda frustrasi. Pasukan TNI tiba-tiba menyerang dari hutan lalu menghilang lagi, dan Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadi puncaknya.
Perlawanan tanpa henti dari hutan ini membuktikan kepada PBB dan dunia internasional bahwa propaganda Belanda itu bohong. TNI dan Republik Indonesia masih ada.
Setelah Belanda akhirnya dipaksa mundur, Soedirman kembali ke Yogyakarta. Namun, perang gerilya di cuaca ekstrem telah menggerogoti habis sisa fisiknya.
Hanya sebulan setelah Belanda resmi mengakui kedaulatan Indonesia, pada Januari 1950, Jenderal Soedirman wafat. Usianya saat itu baru 34 tahun.
Jenderal Soedirman bukan sekadar pemimpin perang. Ia adalah nyawa dari kemerdekaan itu sendiri. Ia membuktikan bahwa raga boleh ringkih, paru-paru boleh sisa sebelah, tetapi kedaulatan bangsa tak boleh ditawar.
Hari ini, kita tidak hanya mengenang namanya di papan jalan, tetapi kita mewarisi api semangatnya. Hormat senjata untuk sang Bapak TNI, Jenderal Besar Raden Soedirman.

