Berkuasa 32 Tahun di Indonesia, Namun Sepanjang Hidupnya Hanya Setia pada Siti Hartinah

Sekitarbandung.com – Tidak seperti kisah cinta modern, hubungan Soeharto dan Siti Hartinah (Ibu Tien) berawal dari sebuah perjodohan yang terjadi pada tahun 1947. Soeharto saat

Dicky Wicaksono

Berkuasa 32 Tahun di Indonesia, Namun Sepanjang Hidupnya Hanya Setia pada Siti Hartinah
Berkuasa 32 Tahun di Indonesia, Namun Sepanjang Hidupnya Hanya Setia pada Siti Hartinah

Sekitarbandung.com – Tidak seperti kisah cinta modern, hubungan Soeharto dan Siti Hartinah (Ibu Tien) berawal dari sebuah perjodohan yang terjadi pada tahun 1947.

Soeharto saat itu hanyalah perwira militer biasa dari keluarga petani, sementara Ibu Tien adalah keturunan bangsawan Surakarta. Soeharto sempat minder,

“Apa iya keluarga keraton mau menerima saya?”

Keraguan itu pun sirna. Mereka berdua melangsungkan pernikahan dan mengarungi betapa kerasnya hidup di era perang kemerdekaan.

Ketika Soeharto naik ke puncak kekuasaan dan menjadi Presiden RI yang paling ditakuti (berkuasa 32 tahun), ia membuktikan satu hal.

Soeharto tidak pernah sekalipun tergoda kepada wanita lain. Ia hanya memiliki satu istri hingga akhir hayatnya, yaitu Siti Hartinah (Ibu Tien).

Ibu Tien bukan sekadar pendamping, ia adalah “kompas” bagi Soeharto. Di balik ketegasan Pak Harto, Ibu Tien-lah yang sering memberikan masukan strategis.

Bahkan, Ibu Tien merupakan sosok di balik lahirnya PP No. 10 Tahun 1983, aturan tegas yang melarang PNS/Pejabat melakukan poligami tanpa izin istri pertama.

(Sebuah kebijakan pelindung wanita yang sangat revolusioner saat itu!).

Baca Juga: Sumbang Triliunan ke Negara, Lalu Sultan Syarif Kasim II Tinggalkan Mahkotanya Demi Jadi Rakyat Biasa

Selama masa Orde Baru, Ibu Tien memprakarsai pembangunan ikonik seperti Taman Mini Indonesia Indah dan RS Harapan Kita.

Ia menjadi sandaran emosional Soeharto di tengah badai politik, pemberontakan, dan kerasnya memimpin negara dengan militer. Kekuatan mental Soeharto sangat bergantung pada kehadiran Ibu Tien.

Pada April 1996, duka mendalam menghantam Istana Cendana. Ibu Tien meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung.

Untuk pertama kalinya, rakyat melihat sang “Jenderal Besi” yang tidak pernah menangis itu, menitikkan air mata dan terlihat sangat rapuh di depan pusara istrinya.

Banyak sejarawan dan pengamat politik sepakat bahwa wafatnya Ibu Tien adalah titik awal runtuhnya Soeharto. Tanpa Ibu Tien, Soeharto kehilangan keseimbangan emosional dan intuisi politiknya.

Hanya berselang dua tahun setelah kepergian belahan jiwanya, akhirnya pada Mei 1998, kekuasaan selama 32 tahun Soeharto akhirnya tumbang.

Kisah Soeharto dan Ibu Tien mengajarkan bahwa di balik ketegasan sang pemimpin yang titahnya menggetarkan negeri, ia tetaplah pria biasa yang rapuh saat kehilangan belahan jiwanya.

Sosok penguasa yang tampak tak tergoyahkan itu akhirnya tertunduk lesu, kehilangan pilar kekuatannya.

Kini, kisah cinta dan pengabdian mereka telah mencapai peristirahatan terakhir, bersatu kembali dalam keabadian di Astana Giribangun.

Baca Juga: Mati-matian Bela Rakyat Kecil, tetapi Gus Dur Malah Dilengserkan Paksa oleh Elite Politik di Parlemen

Related Post

Tinggalkan komentar