Musala Ponpes Al-Khoziny Ambruk, Santri Selamat Setelah Berjam-jam Tertimbun Reruntuhan

sekitarbandung.com – Musala Ponpes Al-Khoziny ambruk saat digunakan untuk salat Asar pada Senin (29/9/2025) siang. Peristiwa memilukan di Buduran, Sidoarjo, ini menelan banyak korban, baik

Aracely Azwa

Musala Ponpes Al-Khoziny Ambruk

sekitarbandung.comMusala Ponpes Al-Khoziny ambruk saat digunakan untuk salat Asar pada Senin (29/9/2025) siang. Peristiwa memilukan di Buduran, Sidoarjo, ini menelan banyak korban, baik yang selamat maupun yang meninggal. Kisah santri yang berhasil bertahan hidup setelah berjam-jam tertimbun reruntuhan menjadi sorotan publik.

Kisah Zainal: Sadar Saat Dievakuasi

M. Zainal Ali Abidin, santri kelas XI MAN Al-Khoziny, mengaku masih trauma. Saat salat berjamaah, ia mendengar suara runtuhan batu, tetapi tidak menyangka seluruh bangunan akan roboh.

“Ketika rukuk, saya mendengar suara keras, beberapa teman lari. Tidak lama kemudian, atap musala ambruk menimpa saya,” kenang Zainal.

Tubuhnya terjepit reruntuhan dan ia pingsan sekitar satu jam. Kesadarannya baru pulih ketika tim penyelamat berhasil mengevakuasi tubuhnya. “Saya tidak bisa membuka mata, tapi masih mendengar suara teman-teman saya,” ujarnya lirih.

Zainal menderita gegar otak ringan dan cedera pada tulang ekor. Kini, ia dirawat intensif di RSUD RT Notopuro, ditemani ibunya, Siti Fatimah.

Baca Juga: Sinergi Foundation Perkuat Solidaritas Lewat Gerakan Bantu Warga di Bulan September

Haical: Bertahan Tiga Hari di Bawah Reruntuhan

Kisah menegangkan juga dialami Syehlendra Haical Raka. Santri berusia 14 tahun ini ditemukan selamat setelah tiga hari tertimbun puing musala. Meski kondisinya lemas, ia tidak mengalami patah tulang.

Ayahnya, Abdul Hawi, tak kuasa menahan tangis saat melihat putranya keluar dari reruntuhan. “Alhamdulillah, doa kami dikabulkan. Haical bisa diselamatkan,” katanya sambil terisak.

Video komunikasi Haical dengan tim penyelamat sempat beredar di media sosial. Dalam rekaman itu, ia terdengar masih bisa berbicara meski terjebak di bawah bangunan.

Suasana Penuh Harap di Lokasi

Hingga Rabu malam (1/10/2025), sudah lebih dari 100 korban berhasil dievakuasi, empat di antaranya meninggal dunia. Namun, sejumlah keluarga santri masih menunggu kabar anak mereka yang belum ditemukan.

“Kenapa tidak langsung gunakan alat berat? Kami pasrah, apapun kondisi anak saya,” keluh Sholehudin, warga Bangkalan, yang masih mencari putranya, Suwaifi.

Penanganan Medis dan Dukungan

Dokter spesialis bedah saraf RSUD RT Notopuro, Bagus Sulistiono, memastikan kondisi korban selamat terus dipantau setiap hari. “Kami lakukan observasi rutin untuk mencegah komplikasi pascatertimpa reruntuhan,” jelasnya.

Keluarga korban menyampaikan apresiasi atas kerja cepat tim medis dan relawan penyelamat.

Refleksi dan Pembelajaran

Tragedi musala Ponpes Al-Khoziny ambruk meninggalkan duka mendalam sekaligus pelajaran penting. Aspek keamanan bangunan pendidikan harus menjadi prioritas agar kejadian serupa tidak terulang.

Untuk pemahaman lebih luas tentang mitigasi bencana bangunan pendidikan, masyarakat bisa membaca panduan resmi dari BNPB tentang bangunan aman gempa. Selain itu, referensi internasional mengenai standar konstruksi sekolah aman juga tersedia di situs UNICEF Education in Emergencies.

Kisah selamatnya santri dari reruntuhan musala Ponpes Al-Khoziny menjadi pengingat bahwa di balik tragedi, selalu ada harapan. Pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan perlu berkolaborasi agar keamanan santri di pesantren dan sekolah lebih terjamin.

Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

Related Post

Tinggalkan komentar