Orang yang Rajin Datang ke Gig Konser Akan Sehat Lahir dan Batin

Sekitarbandung.com – Saat berada di sebuah konser, kamu bisa bernyanyi bersama ribuan orang asing sambil berteriak sepuas-puasnya. Momen seperti ini ternyata mempunyai efek healing yang

Dicky Wicaksono

Orang yang Rajin Datang ke Gig Konser Akan Sehat Lahir dan Batin
Orang yang Rajin Datang ke Gig Konser Akan Sehat Lahir dan Batin

Sekitarbandung.com – Saat berada di sebuah konser, kamu bisa bernyanyi bersama ribuan orang asing sambil berteriak sepuas-puasnya.

Momen seperti ini ternyata mempunyai efek healing yang jauh melampaui sekadar mendengarkan musik di kamar sendirian.

Memori Personal Divalidasi

Saat intro lagu favoritmu dimainkan dari atas panggung, semua orang bernyanyi bersama-sama. Di sinilah memori personalmu tervalidasi.

Kamu menyadari bahwa rasa sakit, marah, atau bahagia yang tersimpan dalam lirik itu bukan hanya milikmu, tetapi juga dirasakan oleh ribuan orang di sekitarmu.

Dengan kata lain, kamu merasa terhubung dengan banyak orang dan tidak sendirian.

Tidak Ada Aturan

Di dunia nyata, kita dituntut untuk tampil sempurna dan menjaga sikap. Namun, di konser, aturan seperti itu seolah menghilang.

Menangis sesenggukan saat lagu sedih diputar atau melompat liar di moshpit merupakan sesuatu yang dinormalisasi.

Ribuan orang di sana menjadi jaring pelindung emosionalmu dan mereka tidak akan menghakimi dirimu sama sekali.

Baca Juga: Lagu Penyangkalan dari For Revenge x YB x Tepe46 Jadi Trending Musik Chart di YouTube

Pasif dan Aktif

Satu hal yang harus digarisbawahi yaitu mendengarkan musik menggunakan earphone bersifat pasif, sedangkan menonton konser bersifat aktif.

Saat bernyanyi sambil berteriak, secara biologis kamu menstimulasi saraf di tenggorokan yang terhubung langsung ke otak, yaitu vagus nerve.

Saraf ini mengirim sinyal instan ke tubuh untuk rileks. Ini adalah katarsis tingkat tinggi. Emosi yang tertahan selama berbulan-bulan dapat diluapkan secara tuntas hanya dalam dua jam konser.

Bukan Hanya Asumsi, tetapi Ini Data

Pakar sains perilaku, Patrick Fagan dari Goldsmiths University, Inggris, memasang alat pengukur detak jantung kepada para penonton.

Hasil eksperimennya menyebutkan bahwa oksitosin dan katarsis yang dirasakan peserta mampu meningkatkan kesehatan mental hingga 21 persen hanya dalam waktu 20 menit.

Bahkan, peneliti dari Deakin University, Australia, Dr. Melissa Weinberg, menyimpulkan bahwa:

“Mereka yang rutin menjadikan gig sebagai kegiatan ritual komunal, mempunyai skor kepuasan hidup yang secara konsisten lebih tinggi.”

Baca Juga: Maki Otsuki Penyanyi Lagu “Memories” One Piece Jadi Special Guest di Festivaaal Marapthon

Related Post

Tinggalkan komentar