Sekitarbandung.com – Peristiwa longsor yang terjadi di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Sabtu, 24 Januari 2026 dini hari tidak dapat hanya dipahami sebagai dampak alih fungsi lahan saja.
Wilayah Bandung Barat diketahui tersusun dari material vulkanik tua dengan lapisan pelapukan yang tebal.
Batas antara tanah lapuk dan batuan kedap air kerap menjadi bidang gelincir, terutama saat musim hujan. Ketika tanah jenuh oleh air maka kekuatan lereng menurun dan meningkatkan risiko longsor.
Material Kiriman dari Hulu Memperparah Kerusakan
Longsoran di hulu sungai pada lereng selatan Gunung Burangrang yang membentuk bendungan alam menjadi salah satu temuan penting.
Alur sungai tersumbat dan menahan air serta sedimen seperti lumpur, pasir, dan batu. Saat bendungan jebol, aliran lumpur mengalir cepat ke hilir mengikuti jalur sungai.
Aliran ini membawa material berat sehingga menambah daya rusak. Permukiman pun terdampak oleh kiriman material dari hulu, bukan karena longsor setempat.
Dr. Imam mengingatkan potensi bahaya susulan bisa terjadi jika hujan lebat kembali memicu jebolnya sumbatan di hulu.
Baca Juga: 23 Marinir Tertimbun Longsor di Cisarua, Empat Ditemukan Meninggal Dunia
Mitigasi Berbasis Ilmu Pengetahuan
Bahaya tidak selalu berasal dari lereng tempat rumah berdiri, tetapi dari sistem aliran di bagian hulu.
Oleh karena itu, meski berada di zona kerentanan rendah hingga menengah, permukiman di sempadan sungai harus waspada karena berisiko tinggi terdampak aliran lumpur.
Dalam hal ini, vegetasi berperan penting dalam menjaga stabilitas lereng secara mekanik dan hidrologis.
Mitigasi aliran lumpur perlu dilakukan dari hulu hingga hilir. Upaya meliputi stabilisasi lereng, pemantauan jalur aliran, dan pembangunan struktur pengendali sebagai pelindung.
Fokus utamanya adalah mengendalikan sedimen yang menjadi sumber kerusakan.
Kewaspadaan Harus Tetap Dijaga
Sebagai mitigasi non-struktural, Dr. Imam menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap tanda-tanda alam.
Salah satu indikator penting adalah surutnya aliran sungai secara tiba-tiba saat hujan masih berlangsung, yang bisa menandakan sumbatan di hulu.
Melalui kejadian ini, Dr. Imam berharap jika pemahaman masyarakat tidak hanya terbatas pada peristiwa runtuhnya lereng.
Akan tetapi, beliau berharap agar masyarakat juga memahami potensi bahaya aliran lumpur atau debris dari hulu.
Baca Juga: Polres Cimahi Buka Posko DVI Untuk Identifikasi Korban Longsor Cisarua Bandung Barat

