Ternyata Pamali Teknologi Jenius di Balik “Takhayul” Nenek Moyang

Sekitarbandung.com – Meski sering dianggap klenik, ternyata pamali merupakan protokol keselamatan paling jenius yang pernah ada. “Jangan duduk di atas bantal, nanti bisulan.” Kita tertawa

Dicky Wicaksono

Ternyata Pamali Teknologi Jenius di Balik “Takhayul” Nenek Moyang
Ternyata Pamali Teknologi Jenius di Balik "Takhayul" Nenek Moyang

Sekitarbandung.com – Meski sering dianggap klenik, ternyata pamali merupakan protokol keselamatan paling jenius yang pernah ada.

“Jangan duduk di atas bantal, nanti bisulan.”

Kita tertawa mendengar itu sekarang. Padahal, bantal adalah alat suci untuk kepala. Nenek moyang kita sangat jenius, yaitu mereka membungkus protokol kebersihan menjadi “pamali” agar dipatuhi tanpa debat panjang.

Sebelum adanya laboratorium atau buku manual, pamali bertindak sebagai “perangkat lunak” untuk menjaga etika, keamanan, hingga pelestarian alam agar tetap berkelanjutan lintas generasi.

Kejanggalannya yaitu kita sekarang merasa terlalu pintar untuk mempercayai takhayul, tetapi justru semakin abai terhadap peraturan dasar.

Kita meninggalkan pamali, lalu kaget saat alam rusak. Padahal, pamali adalah bentuk paling awal dari manajemen risiko yang sangat efektif.

Contoh Dekat dan Masuk Akal

Contohnya sangat dekat dan masuk akal, yaitu seperti:

1. Larangan memotong kuku malam hari.

Di era tanpa listrik, hal tersebut menjadi protokol keselamatan agar jari tidak terluka.

2. Larangan bersiul di hutan.

Cara jenius agar tidak mengundang predator atau tersesat.

Logis dan sangat masuk akal, bukan?

Baca Juga: Bukan hanya sekadar Lauk, Oncom Ternyata Teknologi “Ajaib” Sunda yang Diakui Dunia

Software of the Mind

Hal inilah yang disebut dengan “software of the mind”. Pamali tidak meminta bukti ilmiah, tetapi hanya meminta kepatuhan demi keselamatan bersama.

Sebuah sistem operasional masyarakat yang tidak membutuhkan baterai, tetapi hanya membutuhkan rasa hormat kepada alam dan sesama manusia.

Di dunia yang serba cepat ini, kita justru membutuhkan “pamali digital”. Jeda agar tidak asal berkomentar atau batasan agar tidak burnout.

Intinya tetap sama, yaitu menciptakan batasan sukarela agar hidup tetap seimbang dan terkendali di tengah kekacauan yang belakangan ini terjadi.

Sudah saatnya kita berhenti menertawakan kearifan lokal sebagai sesuatu yang klenik. Di balik takhayul, terdapat teknologi keselamatan yang belum tentu bisa ditiru AI tercanggih sekalipun.

Lantas, sekarang pertanyaannya, pamali apa yang masih kamu patuhi sampai sekarang?

Baca Juga: Sejumlah Ilmu Tebang Bambu dari Leluhur Kita yang Sudah Lebih Canggih dari Perkiraan

Related Post

Tinggalkan komentar