sekitarbandung.com – Beda nasib dialami Persib Bandung dan Persebaya Surabaya dalam memanfaatkan momentum penalti di Super League 2025/2026. Persib yang sudah mendapat empat penalti justru hanya mampu mencetak satu gol, sedangkan Persebaya Surabaya selalu sukses setiap kali mendapat hadiah dari titik putih.
Persib kembali menuai hasil pahit setelah kalah 1-2 dari Persita Tangerang pada pekan ketujuh di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Sabtu (27/9/2025).
Padahal, tim Maung Bandung sejatinya punya peluang emas untuk unggul lebih dulu lewat tendangan penalti Luciano Guaycochea pada menit ke-8.
Sayangnya, sepakan Guaycochea masih mampu digagalkan kiper Persita, Igor Rodrigues.
Momen itu menjadi titik balik pertandingan yang akhirnya dimenangkan Persita melalui gol Javlon Guseynov di menit ke-42 dan Esal Sahrul di masa injury time.
Persib hanya bisa memperkecil ketertinggalan lewat sundulan Beckham Putra Nugraha di menit 90+9. Namun, gol tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan tim asuhan Bojan Hodak dari kekalahan kedua di liga musim ini.
Pelatih Bojan Hodak pun mengakui anak asuhnya tampil di bawah performa. Ia menilai kiper Persita menjadi sosok kunci yang membuat Persib gagal menguasai jalannya laga.
“Kami kembali kehilangan kesempatan dari situasi penalti. Seharusnya kami bisa unggul lebih dulu, tapi peluang itu hilang,” kata Hodak usai pertandingan.
Catatan buruk penalti ini ternyata bukan yang pertama bagi Persib musim ini. Dari empat kesempatan, hanya satu eksekusi yang berbuah gol, yaitu lewat Uilliam saat melawan Persijap Jepara (18/8/2025).
Sisanya, tiga penalti gagal dimaksimalkan. Uilliam sempat membuang peluang saat menghadapi PSIM Yogyakarta (24/8/2025), lalu Marc Klok juga gagal di laga yang sama, dan terakhir Guaycochea saat bertemu Persita.
Artinya, tingkat keberhasilan penalti Persib hanya 25 persen. Angka ini tentu sangat merugikan tim yang sedang bersaing di papan atas Super League 2025/2026.
Kondisi berbeda justru dialami rival abadi mereka, Persebaya Surabaya. Tim Green Force menunjukkan ketenangan luar biasa ketika mendapat kesempatan dari titik putih.
Bruno Moreira menjadi eksekutor utama Persebaya Surabaya. Striker asal Brasil itu belum pernah gagal setiap kali ditunjuk sebagai algojo penalti musim ini.
Pada laga tandang ke markas Dewa United (26/9/2025), Bruno sukses mengeksekusi penalti di menit ke-90 yang memastikan Persebaya pulang dengan satu poin.
Sebelumnya, ia juga mencetak gol penalti saat Persebaya membantai Bali United 5-2 (23/8/2025).
Tingkat keberhasilan penalti Persebaya Surabaya pun mencapai 100 persen. Hal ini jelas berbanding terbalik dengan Persib yang kerap membuang peluang.
Penalti sejatinya bisa menjadi senjata ampuh untuk mengubah jalannya pertandingan. Namun, buruknya eksekusi Persib membuat mereka justru kehilangan banyak poin penting.
Sebaliknya, Persebaya Surabaya berhasil memaksimalkan setiap momentum. Gol penalti Bruno Moreira bukan hanya sekadar angka tambahan, tapi juga menjadi penyelamat tim di momen-momen krusial.
Fakta ini menegaskan pentingnya mental dan kepercayaan diri saat berada di titik putih. Persib masih mencari sosok yang bisa diandalkan, sedangkan Persebaya Surabaya sudah menemukan jawaban lewat Bruno.
Perburuan gelar Super League 2025/2026 tentu akan semakin panas. Setiap detail kecil, termasuk eksekusi penalti, bisa menentukan siapa yang lebih konsisten di jalur juara.
Persib perlu segera mengevaluasi siapa eksekutor terbaik mereka. Kegagalan beruntun di titik putih jelas tidak boleh terulang jika ingin tetap bersaing di papan atas.
Sementara itu, Persebaya Surabaya justru bisa semakin percaya diri karena punya eksekutor yang selalu sukses. Konsistensi Bruno Moreira memberi keuntungan besar bagi tim Eduardo Perez dalam menjaga momentum.
Perbandingan ini membuat rivalitas kedua tim semakin menarik. Tidak hanya soal strategi dan taktik, tetapi juga bagaimana memanfaatkan peluang emas yang hadir lewat titik penalti.
Musim masih panjang, namun catatan ini bisa menjadi gambaran arah perjalanan kedua klub besar tersebut. Persib wajib membenahi kelemahan, sedangkan Persebaya Surabaya tinggal menjaga konsistensi.
Baca juga : Persita Naik Klasemen Usai Taklukkan Persib Bandung 2-1
Pada akhirnya, keberhasilan dalam mengeksekusi penalti bisa jadi pembeda dalam persaingan juara. Green Force saat ini lebih jago, sementara Maung Bandung masih harus berbenah.
Jika tren ini berlanjut, Persebaya Surabaya bisa lebih stabil mengumpulkan poin. Persib, sebaliknya, berisiko kehilangan momentum hanya karena gagal memaksimalkan peluang emas dari titik putih.
Rivalitas klasik Persib dan Persebaya Surabaya di Super League 2025/2026 pun semakin panas. Bedanya, Green Force lebih klinis, sementara Maung Bandung masih belum menemukan algojo yang tepat.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

