Heboh! PP Persis (Persatuan Islam) Tetapkan 1 Ramadhan 1444 Hijriah pada 23 Maret dan Idul Fitri pada 22 April 2023

    sekitarBANDUNGcom – Kilas balik ke awal tahun 2023, di saat sebagian besar umat Islam di Indonesia masih menanti dengan sabar pengumuman resmi pemerintah,

Redaksi Sekitar Bandung

 

 

sekitarBANDUNGcom – Kilas balik ke awal tahun 2023, di saat sebagian besar umat Islam di Indonesia masih menanti dengan sabar pengumuman resmi pemerintah, sebuah kepastian telah datang dari Bandung. Jauh sebelum Sidang Isbat digelar, Pimpinan Pusat (PP) Persatuan Islam (Persis) telah merilis maklumat yang menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1444 Hijriah akan jatuh pada hari Kamis, 23 Maret 2023.

Keputusan untuk mengumumkan tanggal sepenting itu berbulan-bulan di muka bukanlah hal baru bagi Persis. Namun, bagi publik, hal tersebut selalu memunculkan pertanyaan yang sama: “Bagaimana cara mereka bisa begitu yakin? Apa rahasia di balik metode perhitungan mereka yang memungkinkan kepastian tanggal jauh sebelum hilal terlihat?”. Jawabannya terletak pada sebuah metodologi yang kokoh, memadukan ilmu pengetahuan astronomi dengan interpretasi syariat yang dipegang teguh, yang dikenal sebagai Hisab Hakiki.

Kasus penetapan awal Ramadhan 1444 H menjadi contoh sempurna untuk mengupas tuntas tiga prinsip utama yang menjadi fondasi dari metode hisab Persis.

Baca juga – Promo Ramadhan Rate Card sekitarBANDUNGcom

1. Prinsip Pertama: Keyakinan pada Hisab sebagai Ilmu yang Pasti (Qath’i)

kitab yang mempelajari tentang qathi ramadhan 1444

 

Prinsip paling fundamental yang dipegang oleh para ahli hisab di Persis adalah keyakinan bahwa hisab, atau perhitungan astronomis, adalah sebuah ilmu pengetahuan yang bersifat qath’i (definitif dan pasti). Bagi mereka, ilmu falak (astronomi) bukanlah sekadar prediksi, melainkan disiplin ilmu eksak yang mampu menghitung posisi benda-benda langit dengan akurasi sangat tinggi. Keyakinan inilah yang menjadi dasar penetapan tanggal 23 Maret sebagai awal Ramadhan 1444, sebuah keputusan yang didasarkan pada kalkulasi yang dianggap tidak memiliki keraguan.

Logika yang digunakan sangat jelas: Jika kita setiap hari mempercayakan waktu salat yang ditentukan hingga ke hitungan detik berdasarkan perhitungan astronomis, mengapa metode yang sama tidak bisa dipercaya untuk menentukan awal bulan? Dari perspektif ini, menunggu hilal terlihat secara fisik (rukyat) padahal posisinya sudah dapat dihitung secara pasti, dianggap tidak lagi relevan.

Ketua Dewan Hisab dan Rukyat PP Persis, Dr. Tiar, M.Ag., seringkali menekankan landasan ilmiah dan syar’i dari metode ini. “Perhitungan hisab adalah manifestasi dari perintah Al-Qur’an untuk menggunakan akal dan mengamati alam semesta. Akurasinya yang tinggi memberikan kepastian hukum (istinbath hukum) yang kuat, sama seperti kepastian yang kita dapatkan dari perhitungan waktu salat. Ini adalah ilmu yang pasti,” jelasnya.

 

2. Prinsip Kedua: Kriteria Patokan, ‘Wujudul Hilal’ (Hilal di Atas Ufuk)

ilustrasi hilal di ramadhan 1444

 

Jika hisab adalah metodenya, maka Wujudul Hilal adalah kriteria yang digunakannya. Inilah titik perbedaan teknis paling utama antara metode Persis dengan pemerintah. Untuk penetapan 1 Ramadhan 1444, perhitungan astronomis menunjukkan bahwa pada saat matahari terbenam tanggal 22 Maret 2023 di seluruh Indonesia, posisi hilal (bulan baru) sudah berada di atas ufuk, meskipun dengan ketinggian yang sangat tipis.

Berdasarkan kriteria Wujudul Hilal, kondisi tersebut sudah cukup untuk memulai bulan baru. Kriteria tersebut murni berbasis pada eksistensi (wujud) bulan di atas cakrawala saat matahari terbenam pada hari ke-29, tidak peduli apakah hilal tersebut mungkin dilihat dengan mata telanjang atau tidak. Selama secara matematis bulan sudah wujud di atas ufuk, maka malam itu sudah terhitung sebagai tanggal 1 Ramadhan 1444 H.

Seorang peneliti di Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Thomas Djamaluddin, sering menjelaskan perbedaan kriteria ini dari sudut pandang sains. “Wujudul Hilal adalah kriteria yang secara astronomis valid untuk menandai dimulainya fase bulan baru. Perbedaannya dengan kriteria Imkanur Rukyat (visibilitas hilal) yang digunakan pemerintah adalah pada syarat ketinggian dan elongasi bulan. Imkanur Rukyat menambahkan syarat bahwa hilal harus cukup tinggi untuk mungkin dilihat,” paparnya.

 

3. Prinsip Ketiga: Memberikan Kepastian untuk Kemaslahatan Umat (vs. Persatuan)

 

Prinsip terakhir adalah tujuan sosial di balik penggunaan metode hisab, yaitu memberikan kepastian bagi umat. Dengan mengumumkan jadwal Ramadhan 1444 sejak jauh-jauh hari, Persis memberikan kesempatan bagi jemaahnya dan masyarakat luas untuk melakukan berbagai persiapan, mulai dari perencanaan libur hari raya, pemesanan tiket transportasi untuk mudik, hingga penyesuaian ritme kerja dan bisnis. Kepastian tersebut dianggap sebagai sebuah kemaslahatan (maslahat) yang nyata.

Hal tersebut kontras dengan pendekatan yang diambil oleh pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk Ramadhan 1444, di mana Sidang Isbat baru digelar satu hari sebelum puasa. Bagi pemerintah, prioritas utama adalah persatuan umat di tingkat nasional. Oleh karena itu, mereka menggabungkan hisab (sebagai informasi awal) dengan rukyat (sebagai konfirmasi akhir) dari berbagai titik di Indonesia.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Dr. H. M. Asrorun Niam Sholeh, M.A., menekankan pentingnya peran negara dalam menyatukan perbedaan.”Pemerintah, melalui Sidang Isbat, memiliki peran untuk menyatukan berbagai pendapat dan metode. Keputusan yang diambil pemerintah melalui proses tersebut bersifat mengikat bagi seluruh warga negara demi terwujudnya kebersamaan dalam menjalankan ibadah,” tegasnya.

Pada akhirnya, perbedaan penetapan awal Ramadhan 1444 Hijriah kembali mengingatkan kita pada kekayaan khazanah pemikiran Islam di Indonesia. Di satu sisi ada Persis yang teguh pada prinsip kepastian ilmiah, di sisi lain ada pemerintah dan MUI yang memprioritaskan persatuan sosial melalui sebuah proses konfirmasi bersama. Memahami kedua pendekatan tersebut memungkinkan kita untuk menyikapi perbedaan dengan toleransi dan saling menghormati.

Bingung di bulan Ramadhan berlibur kemana? mungkin kamu bisa ke – Cocok Untuk Wisata Religi Selama Ramadhan, Tiket Galeri Rasulullah SAW Masjid Al-Jabbar Masih Gratis

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar