Tulisan Harus Dihafal Detik Itu Juga karena Tidak Ada Tombol Save, Beginilah Kisah Perjuangan Sekolah Rakjat

Sekitarbandung.com – Apakah kamu pernah melihat benda hitam ini? Ini bukanlah sebuah talenan, bukan juga sebuah iPad versi Dark Mode. Namun, ini merupakan sabak. Alat

Dicky Wicaksono

Tulisan Harus Dihafal Detik Itu Juga karena Tidak Ada Tombol Save, Beginilah Kisah Perjuangan Sekolah Rakjat
Tulisan Harus Dihafal Detik Itu Juga karena Tidak Ada Tombol Save, Beginilah Kisah Perjuangan Sekolah Rakjat

Sekitarbandung.com – Apakah kamu pernah melihat benda hitam ini? Ini bukanlah sebuah talenan, bukan juga sebuah iPad versi Dark Mode. Namun, ini merupakan sabak.

Alat tulis wajib anak-anak Sekolah Rakjat (Volkschool) di era penjajahan Belanda. Benda ini menjadi saksi bisu betapa mahalnya sebuah pendidikan bagi pribumi kala itu.

Zaman sekarang, dosen atau guru menerangkan, tinggal foto atau screenshot. Zaman dulu? Mustahil. Sabak adalah batu tulis hitam. Pasangannya adalah GRIP (pensil batu). Apa yang kamu tulis di sabak harus kamu hafal detik itu juga. Mengapa?

Karena jika sabak sudah penuh, tulisan harus dihapus untuk menulis materi baru. Sekali dihapus, hilang selamanya. Itulah sebabnya daya ingat kakek-nenek kita dikenal sangat kuat.

Jangan bayangkan ruang kelas ber-AC. Murid Sekolah Rakjat mayoritas nyeker (tidak memakai alas kaki). Baju seadanya, kadang lusuh penuh tambalan.

Buku tulis kertas (buku halus) merupakan barang luxury yang hanya bisa dibeli oleh anak pejabat atau orang kaya Belanda (HBS/ELS). Anak desa hanya bisa bermimpi memiliki buku tulis sendiri.

Kurikulumnya pun sangat dasar. Sekolah Ongko Loro (Sekolah Angka Dua) hanya berlangsung selama tiga tahun. Tujuannya bukan untuk membuat pintar, melainkan agar bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung) dasar.

Belanda hanya membutuhkan tenaga kerja murah (kuli atau mandor) yang sedikit terdidik, bukan intelektual yang mampu melawan perintah mereka.

Baca Juga: Malam Berdarah di Tanjung Priok, Sisi Gelap Masa Orde Baru yang Coba Dihapus oleh Sejarah

Guru zaman dahulu bukan tempat curhat. Mereka adalah figur otoritas absolut. Kuku panjang, dipukul penggaris kayu. Rambut gondrong, dicukur asal-asalan di tempat.

Telat masuk sekolah, berdiri satu kaki di depan kelas. Mental mereka ditempa sekeras baja. Tidak ada cerita melapor ke polisi karena dicubit guru.

Meski fasilitas serba minus, semangat mereka justru plus-plus. Jalan kaki puluhan kilometer tanpa sepatu, menyeberang sungai, menahan lapar, semuanya dijalani demi satu hal, yaitu bisa membaca.

Hal ini karena bagi mereka, kemampuan membaca adalah satu-satunya cara untuk melawan pembodohan penjajah.

Sekarang, coba lihat kita. Ruang kelas nyaman, buku melimpah, Google menyediakan semua jawaban dalam satu detik. Namun, apa yang sering kita dengar?

“Duh, mager kuliah.”
“Dosennya killer, males masuk.”
“Tugasnya banyak banget, healing dulu lah.”

Fasilitas yang kita nikmati hari ini adalah impian yang tidak pernah dimiliki anak-anak Sekolah Rakjat dahulu. Oleh karena itu, jangan sia-siakan kemudahan ini.

Malulah pada sabak. Malulah pada mereka yang menulis menggunakan batu, tetapi otaknya mampu membangun bangsa. Sudahkah kamu bersyukur hari ini?

Baca Juga: Kamu Cuma Tahu Nama Rumah Sakitnya? Padahal Cipto Mangunkusumo Merupakan Dokter yang Tolak Tunduk terhadap Belanda

Related Post

Tinggalkan komentar