sekitarbandung.com – Limbah kotoran sapi di wilayah Lembang, Cisarua, dan Parongpong Kabupaten Bandung Barat tetap menjadi sorotan. Volume yang dihasilkan dari ribuan ekor sapi perah mencapai ratusan ton setiap hari, dan sebagian besar limbah tersebut masih berakhir di aliran sungai.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung Barat (KBB), Wiwin Aprianti, menyebut persoalan tersebut bukanlah masalah baru, tetapi sudah terjadi lintas generasi.
“Setiap ekor sapi bisa menghasilkan sekitar 12 kilogram kotoran per hari. Kalau dihitung dari 25.600 ekor sapi, jumlahnya mencapai ratusan ton per hari. Dampaknya sudah jelas, air keruh, pencemaran, dan kesulitan mendapatkan air bersih,” kata Wiwin.
Menurut Wiwin, Pemkab Bandung Barat tengah menyiapkan langkah strategis. Salah satunya adalah membangun beberapa tandon di hulu agar air yang mengalir tidak terlalu keruh. “Kami akan pasang saringan di bagian atas tandon untuk memisahkan kotoran padat dari aliran air,” ujarnya.
Pembangunan tandon ini, kata dia, membutuhkan koordinasi lintas sektor. Beberapa lahan yang potensial untuk dibangun fasilitas pengolahan limbah sudah diusulkan kepada pemilik lahan tersebut, mulai dari gubernur, kementerian terkait, hingga pihak swasta.
Selain itu Pemkab Bandung Barat juga melibatkan Dinas Perumahan dan Permukiman serta Dinas Lingkungan Hidup dalam perencanaan teknisnya.
Wiwin menekankan bahwa persoalan limbah tidak bisa hanya dilihat dari sisi masalahnya. Harus ada solusi yang memberi nilai tambah bagi peternak dan masyarakat di sekitar.
Dia mengakui pencemaran kohe merupakan persoalan lama yang kian krusial. Dengan populasi sapi perah di KBB mencapai 25.600 ekor, diperkirakan ada lebih dari 300 ton kotoran yang dibuang setiap hari. Sementara itu, baru sekitar 30% dari 6.000 peternak yang memiliki pengolahan limbah sendiri.
Salah satu yang sedang dikembangkan, kata dia, adalah pengolahan kotoran sapi menjadi media tanam dan pupuk organik. “Selama ini, kotoran sapi atau kohe dianggap limbah. Padahal jika diolah dengan benar, ini bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi peternak,” ungkap Wiwin.
Kerja sama
Pemkab Bandung Barat juga telah menjajaki kerja sama dengan koperasi peternak seperti Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU), KUD Puspa Mekar, dan KUD Sariwangi. Kolaborasi tersebut meliputi perdagangan hasil olahan limbah, pengurusan izin edar, hingga pemasaran produk.
Dengan begitu, menurut Wiwin, limbah yang sebelumnya mencemari lingkungan dapat menjadi komoditas yang bernilai ekonomi.
Selain memberi manfaat finansial, Wiwin berharap program ini juga dapat berdampak pada keberlanjutan lingkungan.
“Kami ingin susu tetap ada, tetapi dampak lingkungannya bisa diminimalkan. Jangan sampai produksi susu meningkat, tetapi kualitas air dan tanah menurun,” katanya.
Baca juga : Trase Tol Dalam Kota Bandung Final, Lelang Segera Dimulai
Wiwin menjelaskan, dengan upaya kolaboratif tersebut, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat optimistis bisa mengubah masalah yang telah terjadi selama puluhan tahun menjadi sebuah peluang. Limbah yang dulu dianggap beban, perlahan bisa menjadi berkah bagi peternak dan juga lingkungan sekitarnya.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

