Sekitarbandung.com – Pada Oktober 1945, suasana Kota Semarang sangat mencekam karena ada sebuah rumor mengerikan yang mendadak menyebar bak api di padang kering.
Rumornya yaitu Jepang telah meracuni Reservoir Siranda, sumber air minum utama bagi ratusan ribu warga Semarang. Kepanikan massal pun pecah.
Jika rumor itu benar, maka ribuan rakyat sipil bisa mati dalam diam hanya dengan menenggak segelas air. Seseorang harus segera memastikan kebenarannya secara ilmiah.
Panggilan Maut untuk dr. Kariadi
Panggilan maut itu akhirnya jatuh ke pundak dr. Kariadi, Kepala Laboratorium Rumah Sakit Purusara. Ia mengetahui bahwa memeriksa air di wilayah kekuasaan Jepang sama saja dengan menyerahkan nyawa.
Pada 14 Oktober 1945 sore, sang istri, drg. Soenarti, berusaha mencegah suaminya karena jalanan terlalu berbahaya dan peluru bisa melesat dari sudut mana saja.
Namun, sumpah profesi dr. Kariadi jauh lebih besar dari rasa takutnya. “Saya harus buktikan kebenarannya demi keselamatan warga,” ucapnya.
Berbekal jas putih dan tekad baja, ia masuk ke dalam mobil, membelah jalanan kota yang sepi dan mematikan.
Namun, sumpah profesi dr. Kariadi jauh lebih besar daripada rasa takutnya. “Saya harus membuktikan kebenarannya demi keselamatan warga,” ucapnya.
Hanya berbekal jas putih dan tekad baja, ia masuk ke dalam mobil, membelah jalanan kota yang sepi dan mematikan.
Baca Juga: Menolak Tunduk Serahkan Senjata, Polisi ini Pilih Jalan Kematian daripada Jadi Budak Penjajah
Ketakutan Istrinya
Ketakutan sang istri menjadi kenyataan. Di tengah perjalanan menuju Reservoir Siranda, mobil yang ditumpangi dr. Kariadi dicegat secara brutal oleh tentara Jepang.
Mereka tidak peduli dengan lambang palang merah. Tanpa belas kasihan, peluru ditembakkan menembus baja mobil. Sang dokter yang hanya bersenjatakan stetoskop dan tabung reaksi itu rubuh dan bersimbah darah.
Dalam kondisi luka parah yang mengoyak tubuhnya, dr. Kariadi dilarikan kembali ke Rumah Sakit Purusara, tempat ia biasa menyelamatkan nyawa orang lain.
Para perawat dan dokter berjuang mati-matian menahan pendarahan sang kepala laboratorium. Namun, takdir berkata lain.
Pada malam itu juga, di usia yang baru menginjak 40 tahun, dr. Kariadi mengembuskan napas terakhirnya.
Kemarahan Warga Semarang
Kabar gugurnya sang dokter kesayangan rakyat itu meledak seperti bom. Kematian dr. Kariadi menjadi pemantik utama kemarahan yang tidak terbendung dari para pemuda Semarang.
Keesokan harinya, kota itu benar-benar terbakar. Darah dibalas darah. Meletuslah peristiwa heroik sekaligus kelam yang kelak dicatat sejarah sebagai Pertempuran Lima Hari di Semarang.
Dr. Kariadi mungkin tidak pernah sempat memastikan apakah air Siranda benar-benar beracun. Namun, darahnya yang tumpah telah menyucikan semangat perlawanan sebuah bangsa.
Hari ini, namanya tidak pernah mati dan berdiri megah sebagai Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Kariadi di Semarang. Sebuah pengingat abadi bahwa kemerdekaan ini juga ditebus oleh nyawa para martir berseragam putih.
Baca Juga: 14 Tahun Terpisah Jeruji Besi, Kisah Kesetiaan Pramoedya Ananta Toer dengan Istri Sangat Pilu

