Selamat Hari Bumi Internasional, Yuk Kenalan dengan Konsep Trilogi Leuweung!

Sekitarbandung.com – Hari Bumi pertama kali diadakan pada tanggal 22 April 1970, menandai kelahiran gerakan yang menunjukkan dukungan bagi perlindungan lingkungan di seluruh dunia. Namun,

Dicky Wicaksono

Selamat Hari Bumi Internasional, Yuk Kenalan dengan Konsep Trilogi Leuweung!
Selamat Hari Bumi Internasional, Yuk Kenalan dengan Konsep Trilogi Leuweung!

Sekitarbandung.com – Hari Bumi pertama kali diadakan pada tanggal 22 April 1970, menandai kelahiran gerakan yang menunjukkan dukungan bagi perlindungan lingkungan di seluruh dunia.

Namun, jauh sebelum dunia berbicara soal lingkungan, Karuhun Sunda sudah memiliki strategi dalam menjaga alam. Namanya Trilogi Leuweung.

Trilogi Leuweung sendiri membagi hutan berdasarkan fungsi. Bukan sekadar tradisi, tetapi sistem tata ruang yang visioner, menjaga alam, dan sekaligus menjaga kelangsungan kehidupan manusia.

Trilogi Leuweung merupakan konsep pembagian kawasan hutan menjadi tiga fungsi utama yang di antaranya yaitu sebagai berikut:

1. Leuweung Larangan

Leuweung Larangan adalah kawasan hutan yang tidak boleh diganggu. Di sinilah sumber mata air, keanekaragaman hayati, dan keseimbangan alam dijaga.

Karuhun Sunda mempercayai bahwa jika hutan inti rusak, maka kehidupan manusia juga akan ikut terganggu. Ini mirip dengan konsep hutan konservasi modern saat ini.

2. Leuweung Tutupan

Leuweung Tutupan berfungsi sebagai hutan penyangga. Boleh dimanfaatkan secara terbatas, tetapi tetap harus dijaga kelestariannya.

Fungsinya sangat penting, yaitu untuk menjaga tata air, mencegah erosi, dan melindungi hutan inti. Konsepnya yaitu “Alam dimanfaatkan secukupnya, bukan semaunya.”

Baca Juga: 6 Kejadian Prasejarah di Bumi yang Terdengar Palsu tetapi Nyata

3. Leuweung Garapan

Leuweung Garapan adalah area yang boleh digunakan masyarakat untuk bertani dan berproduksi. Di sinilah aktivitas ekonomi berlangsung.

Namun, tetap ada peraturan adat agar pemanfaatannya tidak merusak lingkungan. Karuhun Sunda sudah memahami bahwa pembangunan harus tetap selaras dengan alam.

Konsep Trilogi Leuweung sudah dipraktikkan ratusan tahun oleh masyarakat adat di Tatar Sunda sejak dahulu kala.

Hal ini membuktikan bahwa kearifan lokal Sunda sudah mengenal prinsip keberlanjutan jauh sebelum konsep “sustainable development” populer di dunia. Seperti yang disampaikan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yaitu:

“Tata ruang karuhun Sunda itu visioner!”

Karuhun Sunda mengajarkan satu prinsip sederhana, yaitu:

“Ambil secukupnya dan rawat seutuhnya. Tugas kita bukan hanya menikmati saja, tetapi menjaganya dan melestarikannya.”

Di momen Earth Day hari ini, menurutmu, bagaimana cara kita mewarisi kebijaksanaan Karuhun Sunda?

Baca Juga: Kresek Diciptakan untuk Selamatkan Bumi, tetapi Justru Berakhir Jadi Sampah Abadi

Related Post

Tinggalkan komentar