Saat sebuah hubungan tercabik oleh perselingkuhan, pertanyaan yang paling sering menghantui adalah “Mengapa?”. Selama ini, jawaban seringkali berkisar pada faktor psikologis, lingkungan, atau ketidakpuasan dalam hubungan. Namun, bagaimana jika jawabannya jauh lebih mendasar dan tersembunyi di dalam helai DNA kita? Bisakah seseorang berdalih, “Ini bukan salahku sepenuhnya, ini salah gen-ku?”
Pertanyaan yang terdengar seperti sebuah pembenaran murahan tersebut kini mendapatkan perhatian serius dari dunia sains. Serangkaian penelitian di bidang genetika perilaku (behavioral genetics) mulai menemukan korelasi yang mengejutkan antara varian gen tertentu dengan kecenderungan seseorang untuk tidak setia. Gagasan tentang “gen selingkuh” pun lahir.
Namun, apakah keberadaan faktor biologis tersebut serta-merta menghapus tanggung jawab personal? Artikel ini akan mengupas tuntas tiga fakta ilmiah paling mengejutkan tentang peran genetik dalam perselingkuhan, dan menghadapkannya dengan satu faktor pamungkas yang pada akhirnya tetap menjadi penentu: kekuatan pilihan pribadi.
Baca juga – Begini Sikap Paula Verhoven soal Tudingan Baim Wong yang Gugat Cerai karena Tuduhan Perselingkuhan
BAGIAN I: 3 FAKTA ILMIAH TENTANG “BAKAT” SELINGKUH
1. Fakta Pertama: Gen DRD4, Si “Pencari Sensasi” dan Godaan Perselingkuhan
Fakta pertama yang paling sering dikutip adalah kaitan antara perselingkuhan dengan varian gen bernama DRD4. Gen ini memiliki tugas penting dalam mengatur reseptor dopamin di otak. Dopamin adalah neurotransmitter yang berhubungan dengan rasa senang dan sistem penghargaan (reward system). Ia akan melonjak saat kita melakukan hal-hal yang menyenangkan, menantang, atau berisiko.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah PLOS One menemukan bahwa individu yang memiliki varian tertentu dari gen DRD4 (dikenal sebagai 7R+) cenderung lebih membutuhkan stimulus yang kuat untuk merasakan kepuasan. Mereka adalah para “pencari sensasi” (sensation-seekers). Kecenderungan ini tidak hanya berlaku pada hal-hal seperti gemar berjudi atau minum alkohol, tetapi juga pada perilaku seksual, termasuk perselingkuhan dan one-night stands.
Justin Garcia, seorang peneliti biologi evolusioner dari Binghamton University yang memimpin studi tersebut, menjelaskan temuannya. “Kami menemukan bahwa individu dengan varian gen DRD4 7R+ secara signifikan lebih mungkin untuk memiliki riwayat hubungan seks tanpa komitmen (perselingkuhan). Apa yang kami temukan adalah bahwa varian genetik ini tampaknya memengaruhi perilaku sebagian orang dengan membuat mereka lebih termotivasi untuk mencari ‘hadiah’ atau sensasi baru,” ujarnya kepada media ScienceDaily.
2. Fakta Kedua: Gen AVPR1A, Rendahnya “Hormon Kesetiaan”
Fakta ilmiah kedua menyoroti gen lain, yaitu AVPR1A. Gen ini bertanggung jawab dalam mengatur sensitivitas otak terhadap hormon bernama arginine vasopressin. Vasopressin seringkali disebut sebagai “hormon ikatan sosial” atau “hormon kesetiaan” karena perannya yang krusial dalam membentuk ikatan monogami, rasa percaya, dan empati pada mamalia, termasuk manusia.
Studi-studi, terutama yang awalnya dilakukan pada tikus padang rumput (hewan yang terkenal monogami), menunjukkan bahwa varian tertentu dari gen AVPR1A membuat reseptor vasopressin di otak menjadi kurang sensitif. Individu dengan varian gen ini cenderung menunjukkan tingkat ikatan sosial yang lebih rendah dan, dalam konteks manusia, dilaporkan memiliki kualitas hubungan pernikahan yang lebih rendah dan tingkat ketidaksetiaan yang lebih tinggi.
Hasse Walum, seorang peneliti dari Karolinska Institute di Swedia yang mempublikasikan studi penting tentang ini di PNAS, menemukan korelasi yang jelas. “Pria yang membawa varian genetik (AVPR1A) ini dua kali lebih mungkin untuk mengalami krisis dalam hubungan mereka dibandingkan pria yang tidak memilikinya. Ini tidak berarti mereka ditakdirkan untuk gagal, tetapi mereka mungkin membawa beban biologis yang membuat ikatan monogami sedikit lebih menantang bagi mereka,” catat penelitian tersebut.
3. Fakta Ketiga: Statistik Kembar Identik yang Menggemparkan
Bagaimana cara ilmuwan memisahkan pengaruh genetik dari pengaruh lingkungan? Salah satu caranya adalah dengan meneliti anak kembar. Sebuah studi besar di St. Thomas’ Hospital di London yang meneliti ribuan pasang anak kembar, menemukan sebuah statistik yang menggemparkan. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat kemungkinan seseorang untuk berselingkuh (heritabilitas) dipengaruhi oleh faktor genetik sebesar 63% pada pria dan 40% pada wanita.
Penting untuk memahami apa arti angka tersebut. Ini tidak berarti 63% pria ditakdirkan untuk selingkuh. Angka heritabilitas tersebut berarti bahwa 63% dari perbedaan kecenderungan selingkuh di antara pria dalam populasi tersebut dapat dijelaskan oleh perbedaan genetik mereka. Sisanya ditentukan oleh faktor lain.
Tim Spector, profesor epidemiologi genetik di King’s College London yang terlibat dalam studi tersebut, memberikan klarifikasi penting. “Gen bukanlah sebuah cetak biru yang kaku. Mereka adalah resep. Anda bisa memiliki resep untuk kue yang enak, tetapi jika Anda menggunakan bahan-bahan yang buruk atau cara memasak yang salah (lingkungan/pilihan), hasilnya tidak akan bagus. Gen memberikan kecenderungan, bukan kepastian,” jelasnya dalam bukunya, “The Diet Myth”.
BAGIAN II: 1 FAKTOR PENENTU – KEKUATAN PILIHAN PRIBADI
Setelah melihat tiga fakta ilmiah yang seolah-olah memberikan pembenaran biologis, kita tiba pada satu faktor pamungkas yang mengalahkan semuanya: pilihan pribadi. Memiliki predisposisi genetik untuk sesuatu bukanlah sebuah vonis. Manusia dibekali dengan korteks prefrontal—bagian otak yang bertanggung jawab atas pemikiran rasional, perencanaan, dan kontrol impuls.
Seorang terapis hubungan dan psikolog, Dr. Juliana Morris, menekankan supremasi dari komitmen sadar. “Faktor terbesar dalam kesetiaan bukanlah genetika atau bahkan tingkat kepuasan, melainkan komitmen. Komitmen adalah sebuah keputusan sadar yang Anda buat setiap hari untuk menghormati janji Anda, bahkan di saat godaan atau kesulitan muncul. Itu adalah sebuah tindakan, bukan sekadar perasaan,” ujarnya dalam sebuah artikel untuk The Washington Post.
Memiliki “gen selingkuh” mungkin bisa diibaratkan seperti memiliki “gen alkoholisme”. Anda mungkin memiliki kecenderungan biologis yang lebih kuat untuk kecanduan, tetapi jutaan orang dengan risiko tersebut memilih untuk tidak minum atau mengelola dorongan mereka setiap hari. Hal yang sama berlaku untuk kesetiaan.
Gen Bukan Takdir, Anda Tetap Pilotnya
Pada akhirnya, menyalahkan genetika atas perselingkuhan adalah sebuah pelarian dari tanggung jawab. Sains mungkin telah mengungkap bahwa beberapa orang memiliki “jalur pendakian” yang lebih terjal dalam hal menjaga kesetiaan. Namun, fakta tersebut tidak mengubah tujuan akhir yang telah disepakati dalam sebuah komitmen. Gen mungkin memberikan peta, tetapi tangan kita sendirilah yang memegang kemudi. Dan itulah satu-satunya pilihan pribadi yang benar-benar penting.

