Sisi Gelap Masa Orde Lama, Jutaan Rakyat Menderita karena Ambisi Perang Para Penguasa

Sekitarbandung.com – Pada sekitar tahun 1963-1965 (Orde Lama), pidato Bung Karno melalui radio membakar semangat: “Ganyang Malaysia! Inggris kita linggis!” Ribuan sukarelawan mendaftar untuk perang.

Dicky Wicaksono

Sisi Gelap Masa Orde Lama, Jutaan Rakyat Menderita karena Ambisi Perang Para Penguasa
Sisi Gelap Masa Orde Lama, Jutaan Rakyat Menderita karena Ambisi Perang Para Penguasa

Sekitarbandung.com – Pada sekitar tahun 1963-1965 (Orde Lama), pidato Bung Karno melalui radio membakar semangat: “Ganyang Malaysia! Inggris kita linggis!”

Ribuan sukarelawan mendaftar untuk perang. Nasionalisme sedang di puncak tertinggi. Tapi di balik gagahnya tentara di perbatasan, ada rakyat yang menjerit di dapur rumahnya sendiri.

Fokus negara tersedot habis untuk membiayai konfrontasi dan proyek mercusuar (Monas, GBK, Patung Dirgantara). Lantas akibatnya apa?

Ekonomi Indonesia ambruk. Anggaran defisit. Uang dicetak terus-menerus tanpa backup emas. Inilah awal mula hyperinflasi terburuk dalam sejarah kita.

Bayangkan saja, inflasi mencapai 635%. Harga barang berubah bukan per bulan, tapi per jam. Pagi hari harga beras Rp 200, sore hari bisa jadi Rp 1.000.

Ibu-ibu ke pasar harus membawa uang pakai karung atau tas besar, tapi pulangnya cuma bawa belanjaan sedikit. Uang rupiah seolah tak ada harganya. Jadi kertas sampah.

Pemerintah panik. Akhirnya keluar kebijakan Sanering (Desember 1965). Uang Rp 1.000 dipotong nilainya menjadi Rp 1. Rakyat yang tadinya mempunyai tabungan untuk membeli tanah, tiba-tiba uangnya cuma cukup buat beli sabun.

Banyak orang kaya yang mendadak tiba-tiba menjadi miskin dalam waktu semalam. Stres, gila, bahkan bunuh diri semuanya ditelan oleh mereka semua.

Baca Juga: Ir. Sutami Jadi Arsitek Gedung MPR dan Semanggi, Tetapi Atap Rumahnya Sendiri Bocor dan Listriknya Dicabut oleh PLN

Karena beras menjadi barang mewah yang langka, rakyat dipaksa kreatif. Mereka akhirnya makan nasi jagung atau tiwul.

Bahkan, banyak yang makan bulgur (gandum kasar bantuan asing yang di negara asalnya biasa dipakai untuk pakan kuda atau ternak).

Sungguh ironis. Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris yang subur, tetapi rakyatnya antre berjam-jam hanya untuk mendapatkan jatah beras busuk.

Di tengah stres ekonomi, rakyat butuh hiburan. Tetapi itu pun dilarang. Musik rock n roll (The Beatles, Elvis) dianggap “Ngak Ngik Ngok” dan budaya nekolim.

Band legendaris Koes Bersaudara (Koes Plus) dijebloskan ke penjara Glodok hanya karena menyanyikan lagu kebarat-baratan. Lengkap sudah penderitaan: perut lapar, dompet kosong, hiburan dilarang.

Konfrontasi Ganyang Malaysia memang menunjukkan taring Indonesia di mata dunia. Tetapi di dalam negeri, ia meninggalkan luka mendalam.

Kekacauan ekonomi inilah yang menjadi pemicu ketidakpercayaan rakyat, demonstrasi mahasiswa (Tritura), dan akhirnya runtuhnya Orde Lama.

Sejarah mengajarkan kita satu kenyataan pahit bahwa ambisi politik yang terlalu tinggi seringkali harus dibayar mahal dengan penderitaan rakyat kecil.

Apakah kamu pernah mendengar cerita nenek atau kakek kamu soal makan bulgur atau antre minyak tanah pada tahun 1965?

Baca Juga: Malam Berdarah di Tanjung Priok, Sisi Gelap Masa Orde Baru yang Coba Dihapus oleh Sejarah

Related Post

Tinggalkan komentar