Sekitarbandung.com – Pernah dengar klaim bahwa bayi bisa tersenyum hingga 400 kali dalam sehari, sementara pria dewasa rata-rata hanya tersenyum sekitar 8 kali?
Fakta ini kerap beredar di media sosial dan memicu perdebatan soal emosi, kebahagiaan, dan tekanan hidup orang dewasa.
Dalam studi tersebut, bayi dan balita memang tercatat menampilkan ekspresi senyum jauh lebih sering dibanding orang dewasa.
Senyum pada bayi bukan hanya respons emosional, tetapi juga bagian dari proses komunikasi, eksplorasi lingkungan, dan perkembangan saraf otak.
Para ahli menjelaskan bahwa bayi belum memiliki beban psikologis, kecemasan sosial, maupun tekanan hidup.
Otak bayi masih didominasi oleh rasa ingin tahu dan respons spontan, sehingga senyum muncul secara alami ketika melihat wajah, mendengar suara, atau merasakan kenyamanan.
Sebaliknya, pada pria dewasa, frekuensi senyum cenderung menurun drastis. Beberapa studi psikologi sosial menyebut bahwa norma sosial, tekanan peran gender, stres pekerjaan, serta tuntutan ekonomi membuat pria lebih sering menahan ekspresi emosi, termasuk senyum.
Senyum pada orang dewasa juga lebih selektif dan kontekstual. Tidak seperti bayi yang tersenyum tanpa filter, pria dewasa cenderung tersenyum saat ada alasan sosial tertentu, seperti basa-basi, humor, atau situasi formal.
Meski begitu, para peneliti menegaskan bahwa angka “8 kali sehari” bukan ukuran mutlak. Angka tersebut merupakan rata-rata dalam kondisi tertentu dan bisa sangat bervariasi tergantung kepribadian, lingkungan, dan kesehatan mental seseorang.
Ahli kesehatan mental menyebut bahwa semakin bertambah usia, manusia cenderung kehilangan spontanitas emosional. Namun, senyum tetap memiliki manfaat besar, mulai dari menurunkan hormon stres hingga meningkatkan ikatan sosial.
Kesimpulannya, bayi memang jauh lebih sering tersenyum dibanding pria dewasa karena faktor perkembangan otak dan beban hidup yang berbeda.
Bukan berarti pria kurang bahagia, melainkan karena cara mengekspresikan emosi berubah seiring bertambahnya usia.

