sekitarbandungcom –Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda merupakan salah satu kawasan hijau yang berada di bagian utara Bandung.
Kawasan ini menawarkan pengalaman wisata yang memadukan suasana hutan, keanekaragaman hayati, edukasi lingkungan, serta jejak sejarah dalam satu area.
1. Mengenal Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda
Tahura Ir. H. Djuanda berada sekitar tujuh kilometer dari pusat Kota Bandung dan secara administratif mencakup wilayah Kota Bandung, Kabupaten Bandung, serta Kabupaten Bandung Barat.
Berdasarkan informasi pengelola, kawasan tersebut memiliki luas definitif 528,39 hektare dengan ketinggian sekitar 770 hingga 1.350 meter di atas permukaan laut.
Kondisi lahannya bervariasi, mulai dari kemiringan agak curam sampai sangat curam.
Tahura bukan sekadar kawasan hijau untuk rekreasi.
Berdasarkan penjelasan pengelola, taman hutan raya merupakan kawasan pelestarian alam yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian, pendidikan, pariwisata, rekreasi, serta tujuan konservasi.
Karakter tersebut membuat Tahura memiliki fungsi yang lebih luas daripada tempat berwisata biasa.
2. Daya Tarik Alam yang Dimiliki Tahura Djuanda
Pepohonan yang tumbuh di kawasan Tahura menjadi bagian penting dari pengalaman pengunjung. Lanskap hijau memberikan suasana berbeda dibandingkan lingkungan perkotaan yang padat.
Jalur penjelajahan di dalam kawasan juga memungkinkan pengunjung menikmati lingkungan hutan secara lebih dekat.
Penelitian mengenai terapi hutan di Tahura Djuanda mencatat karakteristik lingkungan berupa suhu sekitar 22 hingga 25,6 derajat Celsius, kelembapan 61 hingga 87 persen, serta tingkat kebisingan 49 hingga 52,5 desibel pada lokasi penelitian.
Data tersebut menunjukkan adanya kondisi lingkungan yang dapat mendukung kegiatan rekreasi berbasis alam.
baca juga : Demi Proyek BRT, JPO di Terminal Cicaheum Dibongkar Saat Malam Hari
3. Menjelajahi Keanekaragaman Hayati
Tahura Djuanda menyimpan koleksi tumbuhan alami maupun introduksi. Pengelola mencatat terdapat lebih dari 100.000 pohon yang terdiri atas 108 famili dan 524 spesies.
Keragaman tersebut menjadikan kawasan ini relevan sebagai tempat mengenal vegetasi dan ekosistem hutan.
Selain tumbuhan, Tahura juga menjadi habitat berbagai kelompok satwa. Keberadaan flora dan fauna memberikan nilai edukasi bagi pengunjung, khususnya mereka yang ingin memahami hubungan antara organisme dan lingkungan.
Pengalaman tersebut dapat diperoleh melalui pengamatan langsung dengan tetap mengikuti ketentuan kawasan konservasi.
4. Aktivitas Wisata yang Bisa Dilakukan
Berjalan kaki menyusuri jalur hutan menjadi salah satu cara untuk menikmati kawasan Tahura.
Pengunjung dapat mengamati pepohonan, menikmati lanskap, atau mengambil foto selama aktivitas tidak mengganggu lingkungan.
Kawasan ini juga memiliki potensi untuk wisata edukasi, pengamatan alam, dan kegiatan luar ruangan yang dilakukan secara bertanggung jawab.
Pengelola menyediakan berbagai destinasi wisata di dalam kawasan, termasuk lokasi yang berkaitan dengan alam dan sejarah.
Untuk kegiatan tertentu, seperti penelitian, dokumentasi profesional, atau aktivitas khusus, pengunjung perlu memperhatikan aturan serta perizinan yang berlaku.
5. Perpaduan Wisata Alam dan Nilai Sejarah
Daya tarik Tahura tidak hanya berasal dari lingkungan hutannya. Kawasan ini menyimpan sejumlah peninggalan sejarah, antara lain Gua Belanda dan Gua Jepang.
Berdasarkan sejarah resmi Tahura, pembangunan terowongan air atau Gua Belanda dimulai pada 1918, sedangkan Gua Jepang dibangun pada 1942.
Keberadaan situs tersebut memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan. Pengunjung dapat menikmati perjalanan melalui kawasan hijau sekaligus mengenal bagian dari sejarah yang melekat pada Bandung.
Perpaduan alam dan sejarah membuat kunjungan ke Tahura memiliki unsur rekreasi sekaligus pembelajaran.
6. Fungsi Tahura Djuanda bagi Lingkungan
Fungsi konservasi menjadi bagian penting dalam keberadaan Tahura Djuanda.
Kajian Universitas Katolik Parahyangan menyebut Tahura sebagai kawasan konservasi keanekaragaman hayati dan menyoroti perannya dalam mendukung daya dukung lingkungan kawasan Bandung.
Penelitian IPB University pada 2026 juga mengkaji Tahura sebagai kawasan hijau yang menyimpan karbon melalui biomassa dan tanah.
Studi tersebut memperkirakan stok karbon Tahura sebesar 51.471,50 ton karbon, setara sekitar 188.728,82 ton CO2. Temuan ini memperlihatkan bahwa kawasan hutan memiliki fungsi ekologis yang perlu dipertahankan.
7. Tahura Djuanda sebagai Pilihan Wisata Alam di Bandung
Letaknya yang relatif dekat dengan pusat Bandung membuat Tahura menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam tanpa harus meninggalkan kawasan perkotaan terlalu jauh.
Lingkungan hijau, keanekaragaman hayati, situs sejarah, serta peluang kegiatan luar ruangan menjadi beberapa alasan kawasan ini menarik untuk dikunjungi.
Tahura dapat dimanfaatkan untuk rekreasi keluarga, kegiatan edukasi, fotografi, maupun aktivitas yang berkaitan dengan alam.
Pilihan waktu kunjungan juga dapat disesuaikan dengan tujuan, misalnya menikmati jalur hutan, mengamati lingkungan, atau mempelajari situs sejarah secara lebih tenang sesuai kondisi dan ketentuan pengelola setempat.
Namun, statusnya sebagai kawasan konservasi perlu menjadi perhatian. Pengunjung sebaiknya menjaga kebersihan, tidak merusak vegetasi, tidak mengganggu satwa, serta mematuhi aturan pengelola.
Dengan cara tersebut, kegiatan wisata dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda.
baca juga : Bank BSN Perluas Merchant Digital di Bandung, 2.102 Merchant Sudah Terhubung QRIS

