Pilu! Terhimpit Masalah Ekonomi, Seorang Sopir Angkot Berusia 72 Tahun Ditemukan Meninggal Gantung Diri di Kamar Kontrakannya

sekitarBANDUNGcom, Bandung, 28 Agustus 2025 – Kisah memilukan kembali terjadi di Kota Cimahi, menjadi pengingat pahit akan dampak tekanan ekonomi dan mental. Seorang warga lanjut

Pilu! Terhimpit Masalah Ekonomi, Seorang Sopir Angkot Berusia 72 Tahun Ditemukan Meninggal Gantung Diri di Kamar Kontrakannya

sekitarBANDUNGcom, Bandung, 28 Agustus 2025 – Kisah memilukan kembali terjadi di Kota Cimahi, menjadi pengingat pahit akan dampak tekanan ekonomi dan mental. Seorang warga lanjut usia berinisial AW (72), yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkot, ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di kamar kontrakannya. Diduga, tindakan putus asa ini dipicu oleh himpitan ekonomi yang berat, ditambah beban psikologis akibat kondisi istrinya.

Penemuan Tragis Setelah Tidak Bekerja

Insiden tragis ini terjadi di Kelurahan Cibeureum, Kecamatan Cimahi Selatan. Penemuan jasad AW berawal dari kecurigaan warga sekitar. “Dalam berbagai kesempatan, AW sering curhat ke saya sambil menangis. Diduga ia menghadapi kesulitan ekonomi dan juga istrinya mengalami depresi,” ujar Dede Rohman, Ketua RT5 RW13, dalam wawancara di lokasi kejadian yang berdekatan dengan kontrakan korban.

Menurut Dede, pada hari kejadian, para warga mulai mencurigai AW karena ia tidak keluar dari kontrakannya. Biasanya, AW sudah berangkat kerja mengangkut penumpang angkot pada pagi hari. Selain itu, warga juga mendengar suara benda jatuh dari dalam kontrakannya. Ketika mereka memeriksa, AW ditemukan dalam keadaan lemas dengan posisi tergantung.

“Pintu kontrakan tidak terkunci karena kemungkinan almarhum sempat keluar dan mungkin pergi ke tempat air. Ketika tetangga memeriksa, korban ditemukan dalam keadaan lemas dengan posisi tergantung seperti itu,” tambah Dede. Penemuan ini sontak membuat geger warga sekitar, yang tidak menyangka pria paruh baya yang rajin bekerja itu akan melakukan tindakan fatal tersebut.

Baca juga : Anak Sekolah Bandung Dapat Makan Gratis Bergizi

Beban Ganda: Himpitan Ekonomi dan Kondisi Istri

Kehidupan AW, menurut keterangan Dede Rohman, diliputi oleh beban ganda yang berat. Sebagai seorang lanjut usia, ia masih harus berjuang sebagai sopir angkot, sebuah profesi yang seringkali memiliki pendapatan tidak menentu. “Almarhum sering mengeluhkan kesulitan ekonomi yang dialaminya, ditambah lagi dengan kondisi istrinya yang sedang mengalami depresi,” ungkap Dede.

Kondisi sang istri, yang saat kejadian sedang dibawa anaknya untuk berobat ke Cianjur, menambah beban mental yang harus ditanggung AW sendirian. Ia tidak hanya harus memikirkan cara memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menghadapi tekanan psikologis dari kondisi kesehatan mental istrinya, tanpa dukungan langsung di sisinya.

Pilu! Terhimpit Masalah Ekonomi, Seorang Sopir Angkot Berusia 72 Tahun Ditemukan Meninggal Gantung Diri di Kamar Kontrakannya

Dede menambahkan bahwa AW dikenal sebagai sosok yang rajin pergi ke masjid, menunjukkan bahwa ia adalah individu yang taat beragama dan berupaya mencari ketenangan batin. Namun, tekanan yang begitu berat dari himpitan ekonomi dan masalah keluarga akhirnya mendorongnya ke titik terendah.

Respon Keluarga dan Polisi: Tidak Ada Indikasi Kejahatan

Setelah insiden tersebut, pihak keluarga AW menerima kejadian yang menimpa almarhum dengan ikhlas. Menurut Dede, pihak keluarga tidak melihat adanya indikasi tindak kejahatan saat menemukan AW. “Saat ini, pihak keluarga sudah menerima kejadian ini karena tidak ada tanda-tanda kejahatan saat ditemukannya korban dengan posisi tergantung,” kata Dede.

Hingga saat ini, Kasat Reskrim Polres Cimahi, AKP Luthfi Olot Gigantara, belum memberikan tanggapan resmi terkait adanya tindak pidana kejahatan yang terkait dengan kejadian gantung diri tersebut. Pihak kepolisian tetap akan melakukan penyelidikan untuk memastikan tidak ada faktor lain di balik kematian AW.

Isu Kesehatan Mental dan Tekanan Ekonomi di Kalangan Lansia

Kisah pilu AW ini menjadi pengingat yang sangat kuat akan isu kesehatan mental dan tekanan ekonomi, terutama di kalangan lanjut usia. Seringkali, masalah-masalah ini tersembunyi di balik kehidupan sehari-hari dan tidak terdeteksi oleh lingkungan sekitar. Keterbatasan fisik, penurunan pendapatan, dan beban keluarga di usia senja dapat menjadi faktor risiko yang signifikan bagi kesehatan mental.

Penting bagi masyarakat untuk lebih peka terhadap orang-orang di sekitar kita yang mungkin sedang mengalami tekanan. Jalinan komunikasi dan dukungan sosial dari tetangga, keluarga, atau komunitas dapat menjadi jaring pengaman yang vital. Jangan biarkan seseorang merasa sendirian dalam menghadapi masalahnya. Kasus AW juga harus mendorong pemerintah dan lembaga sosial untuk lebih serius dalam menyediakan dukungan kesehatan mental dan bantuan ekonomi bagi lansia yang rentan, agar tragedi serupa tidak terulang di masa mendatang.

Baca juga : BPBD: 16 Kecamatan Bandung Barat Masuk Zona Rawan Gempa

(adm)

Related Post

Tinggalkan komentar