Sekitarbandung.com – Herman Thomas Karsten adalah seorang arsitek dan perencana kota asal Belanda yang memberi kontribusi besar terhadap arsitektur dan tata ruang perkotaan di Indonesia pada masa kolonial.
Ia lahir di Amsterdam pada 22 April 1884 dan meninggal di Cimahi pada 1945 saat masa pendudukan Jepang di Hindia Belanda.
Karsten datang ke Hindia Belanda pada awal 1910-an atas undangan arsitek Henri Maclaine Pont untuk bekerja di firma arsitek Pont.
Ia kemudian mulai berkecimpung dalam perencanaan kota di berbagai wilayah, memadukan gaya Eropa dengan elemen lokal yang sesuai dengan kondisi Indonesia.
Setelah menetapkan prinsip tata kota sejak sekitar 1918, Karsten menjadi konsultan perencanaan kota untuk banyak kota di Nusantara, termasuk Semarang, Bogor (dulu Buitenzorg), Madiun, dan lain-lain.
Ia dipercaya merancang rencana induk Kota Malang pada 1930–1935 dan Bandung pada tahun 1941–1942.
Sementara di Bandung, meski tidak seluas karya-karyanya di Malang, jejak pemikiran Karsten tetap terasa hingga kini.
Tata kota Bandung menampilkan sejumlah taman kota serta dua zona permukiman yang mencerminkan pendekatan Karsten terhadap konsep garden city.
Dalam konsep tersebut, ruang hijau publik, taman, dan jalur sirkulasi manusia ditempatkan sebagai elemen penting dalam desain kota.
Filosofi desain Karsten sendiri unik pada zamannya karena ia menolak sekadar menerapkan gaya arsitektur kolonial Barat yang kaku.
Ia percaya desain kota harus mengharmonisasikan unsur Barat dan lokal, serta menciptakan ruang yang manusiawi dan inklusif bagi seluruh masyarakat, bukan hanya sekedar bangunan megah untuk elite.
Kombinasi pendekatan ini membuat tata kota Malang dan Bandung memiliki kesamaan yang cukup kentara hingga saat ini,
Kesamaanya yaitu jaringan jalan utama yang proporsional, ruang terbuka hijau yang terencana, taman publik, serta hubungan yang jelas antara blok permukiman dan kawasan pusat kota.
Warisan Karsten tidak hanya berupa rencana jalan dan taman, tetapi juga pemikiran bahwa perencanaan kota harus memperhatikan aspek sosial, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat, yang masih relevan dalam perencanaan urban saat ini.
Keberadaannya di Nusantara berakhir pada masa Sulit Perang Dunia II, namun karya dan ide-idenya tetap menjadi fondasi penting sejarah tata kota di Indonesia.

