sekitarbandung.com – Tim investigasi Badan Gizi Nasional (BGN) turun langsung ke SMP Negeri 1 Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, pasca terjadinya keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa siswa dari berbagai jenjang pendidikan. Tim melakukan pengecekan menyeluruh termasuk pada hasil uji laboratorium sampel makanan.
Anggota tim investigasi BGN, Herman Susilo, menjelaskan selain melakukan pengecekan menyeluruh terhadap hasil uji laboratorium sampel makanan, pihaknya meninjau kondisi dapur dan manajemen penyelenggaraan MBG di lapangan.
“Kami dari tim independen akan melihat hasil uji lab terlebih dahulu. Kemudian, kami akan menyusun kesimpulan resmi. Kami juga telah berkoordinasi dengan pihak terkait yang bergerak cepat menangani kerawanan pangan di Bandung Barat,” tutur Herman Susilo saat ditemui di SMPN 1 Cisarua, Kamis 16 Oktober 2025.
Menurut Herman, BGN menyoroti infrastruktur dapur, sistem manajemen, serta kompetensi SDM (Sumber Daya Manusia) di dapur penyelenggara MBG. Selain itu, kata Herman, operasional dapur harus segera dihentikan sementara apabila ditemukan indikasi pelanggaran terhadap standar keamanan pangan. “Sesuai SOP BGN, jika terjadi kasus seperti ini, dapur harus langsung dihentikan operasionalnya sampai evaluasi selesai,” tuturnya.
Saat disinggung mengenai keracunan massal serupa yang sebelumnya terjadi di wilayah Cipongkor dan Cihampelas, Herman menjelaskan setiap kasus memiliki karakteristik berbeda. Namun, pada kasus sebelumnya, ditemukan adanya kadar nitrit berlebih dalam beberapa bahan pangan.
“Di Cipongkor kami menemukan kadar nitrit yang berlebih pada bahan makanan. Kasus di Cisarua ini juga akan kami telusuri satu per satu agar bisa diketahui penyebab pastinya,” katanya.
Lebih lanjut, Herman menegaskan bahwa seluruh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sesuai regulasi. “Itu sudah menjadi kewajiban. BGN bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus mendorong agar semua dapur SPPG di Bandung Barat segera memiliki SLHS,” ungkapnya.
Selanjutnya, ia menambahkan, sebagian besar dapur SPPG di KBB belum memiliki SLHS dan sedang dalam proses sertifikasi. Pihaknya terus memantau agar pelaksanaannya sesuai standar. Sebagai informasi, sebanyak 107 dapur SPPG di Kabupaten Bandung Barat (KBB) tercatat belum memiliki SLHS.
Sementara itu, pantauan “PR” pada Kamis menjelang sore mendapati posko penanganan korban dugaan keracunan MBG di SMPN 1 Cisarua sudah ditutup. Di sana, tak terlihat adanya aktivitas hilir mudik ambulans serta pengangkutan para korban dugaan keracunan MBG sebagaimana hari sebelumnya. Suasana pun terlihat sepi.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan KBB dr. Lia Nurliana Sukandar mengatakan, posko itu dialihkan. “Dialihkan ke faskes (fasilitas kesehatan) terdekat ya,” kata Lia lewat pesan WhatsApp-nya.
Lia juga memberikan data rekapitulasi kasus itu hingga Rabu 15 Oktober 2025, pukul 23.41. Jumlah total korban mencapai 502 orang dengan 50 masih dirawat dan 452 menjalani rawat jalan/pulang/sembuh.
Trauma
Sementara itu peristiwa dugaan keracunan MBG di Kecamatan Cisarua menimbulkan trauma bagi warga yang anak dan kerabatnya menjadi korban. Warga pun menyatakan menolak dan meminta penghentian program dari Presiden Prabowo Subianto tersebut.
Salah satu warga yang trauma dengan kejadian itu adalah Yayah (41), ibunda dari Aprilianti (14), siswa kelas VIII SMPN 1 Cisarua. Sang anak menjadi bagian dari para murid yang mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi MBG di sekolah itu Selasa 14 Oktober 2025. Yayah masih bisa mengingat betul bagaimana mencekam dan mengerikannya kejadian tersebut. Ia tak menyangka, Aprilianti turut menjadi korban.
Soalnya, distribusi MBG sudah masuk ke SMPN 1 Cisarua sejak beberapa bulan lalu. “Enggak ada keluhan, kejadian. Anak saya tiba-tiba mual,” ucapnya kepada “PR” di dekat SMPN 1 Cisarua, Jalan Kolonel Masturi, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kamis 16 Oktober 2025.
Baca juga : Gas Bocor Picu Ledakan Hebat di Bandung, Empat Korban Terbakar
Aprilianti akhirnya dibawa ke posko penanganan di SMP tersebut. Kendati tak sampai dirujuk ke rumah sakit, Yayah masih bisa mengingat banyaknya siswa yang dirawat karena mengalami gejala yang sama.
Hal itu membuatnya trauma dan enggan anaknya mengonsumsi kembali MBG. “Jadi takut (anak saya keracunan lagi). Enggak usah dimakan karena takut kejadian,” ucapnya.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

