Tragedi Engeline Bocah 8 Tahun yang Ditemukan Tewas di Kandang Ayam Sambil Memeluk Boneka Kesayangannya

Sekitarbandung.com – Kasus meninggalnya Engeline Margriet Megawe pada tahun 2015 menjadi salah satu tragedi anak yang paling menyita perhatian publik di Indonesia. Bocah perempuan berusia

Dicky Wicaksono

Tragedi Engeline Bocah 8 Tahun yang Ditemukan Tewas di Kandang Ayam Sambil Memeluk Boneka Kesayangannya
Tragedi Engeline Bocah 8 Tahun yang Ditemukan Tewas di Kandang Ayam Sambil Memeluk Boneka Kesayangannya

Sekitarbandung.com – Kasus meninggalnya Engeline Margriet Megawe pada tahun 2015 menjadi salah satu tragedi anak yang paling menyita perhatian publik di Indonesia.

Bocah perempuan berusia 8 tahun itu sebelumnya dilaporkan hilang, sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di halaman belakang rumahnya di kawasan Sanur, Denpasar, Bali.

Sebelum jasadnya ditemukan, pada Mei 2015 sempat tersebar poster anak hilang atas nama Engeline. Keberadaannya saat itu membuat publik bersimpati.

Hal ini dikarenakan ia kerap diberitakan sebagai anak yang disayangi dan diperhatikan oleh keluarganya, sebagaimana ditampilkan dalam berbagai tayangan media.

Namun, harapan menemukan Engeline dalam keadaan selamat sirna ketika pada 10 Juni 2015, polisi menemukan jasadnya terkubur dangkal di dekat kandang ayam di belakang rumah.

Saat ditemukan, tubuh Engeline berada dalam kondisi memprihatinkan dan masih memeluk boneka kesayangannya, sebuah pemandangan yang mengguncang perasaan banyak orang.

Baca Juga: Tragedi Santa Cruz 1991, Kisah Wartawan Mengubur Bukti Video di Tengah Kekerasan

Hasil penyelidikan mengungkap fakta yang jauh berbeda dari citra yang selama ini terlihat di media. Engeline ternyata mengalami kekerasan fisik sebelum meninggal dunia, dengan sejumlah luka di tubuhnya yang menunjukkan adanya penganiayaan dalam waktu yang tidak singkat.

Polisi kemudian menetapkan Margriet Christina Megawe, ibu angkat Engeline, sebagai pelaku utama pembunuhan.

Ia dibantu oleh pembantu rumah tangga bernama Agustay Hamba May, yang turut terlibat dalam menyembunyikan dan menguburkan jasad korban di halaman rumah.

Dalam proses persidangan, Margriet divonis penjara seumur hidup, sementara Agustay dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun.

Putusan tersebut menegaskan bahwa pelaku pembunuhan Engeline bukanlah orang luar, melainkan orang terdekat yang seharusnya melindungi dirinya.

Tragedi Engeline menjadi tamparan keras bagi masyarakat, karena di balik sosok anak yang tampak disayangi di layar kaca, tersimpan kenyataan pahit tentang kekerasan dan kelalaian terhadap perlindungan anak, yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia.

Baca Juga: Tragedi Arie Hanggara, Bocah yang Tewas Akibat Penyiksaan Orang Tua di Menteng

Related Post

Tinggalkan komentar