Sekitarbandung.com – Tragedi Pesawat Merpati Nusantara Airlines MZ-5601 terjadi pada 18 Oktober 1992, saat sebuah pesawat penumpang yang mengudara dari Semarang menuju Bandung menabrak lereng Gunung Puntang di kawasan Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Pesawat dengan nomor penerbangan MZ-5601 itu merupakan jenis CASA/IPTN CN-235-10, sebuah pesawat gabungan produksi Indonesia dan Spanyol yang baru berusia dua tahun.
Penerbangan itu berangkat dari Bandar Udara Internasional Achmad Yani, Semarang, dengan tujuan Bandar Udara Husein Sastranegara, Bandung, pada siang hari dalam cuaca yang kurang bersahabat.
Saat pesawat mendekati tujuan, kondisi cuaca buruk dengan awan tebal dan keterbatasan visibilitas membuat penerbangan menjadi lebih menantang.
Seluruh 31 orang yang berada di dalam pesawat, terdiri dari 27 penumpang dan 4 awak, tewas dalam kecelakaan ini tanpa ada yang selamat.
Baca Juga: Tragedi Pesawat Trigana Air ATR 42 IL-267 Jatuh di Papua Sehari Jelang HUT ke-70 Indonesia
Tubuh pesawat hancur berkeping-keping di medan yang sulit dijangkau, dan hampir semua korban tewas akibat benturan serta kebakaran setelah pesawat menghantam lereng.
Investigasi menunjukkan bahwa penyebab utama kecelakaan adalah kesalahan navigasi oleh awak pesawat yang diperparah oleh cuaca buruk saat itu.
Tercatat pesawat sempat menyimpang dari jalur semula dan mengalami arus angin kencang sehingga posisinya lebih cepat sampai di medan tinggi daripada yang direncanakan, sehingga pesawat menghantam lereng lebih awal.
Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi penerbangan paling memilukan dalam sejarah aviasi Indonesia dan mencatatkan kecelakaan paling mematikan yang pernah dialami oleh pesawat jenis CN-235 pada masa itu.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban, Merpati Nusantara Airlines kemudian mendirikan monumen peringatan di Cipaganti, tak jauh dari lokasi kejadian.
Tragedi Merpati MZ-5601 tidak hanya menjadi catatan duka bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi pelajaran penting dalam keselamatan penerbangan, terutama dalam menghadapi tantangan cuaca buruk dan navigasi di wilayah pegunungan seperti di Jawa Barat.

