Tragedi Pohon Barus, Ribuan Tahun Awetkan Mumi Firaun dengan Kristal Kamper

Sekitarbandung.com – Ketika ilmuwan modern membedah perban mumi jasad Firaun dari zaman Mesir Kuno, mereka menemukan satu jejak rahasia berupa kristal kamper murni. Kristal kamper

Dicky Wicaksono

Tragedi Pohon Barus, Ribuan Tahun Awetkan Mumi Firaun dengan Kristal Kamper
Tragedi Pohon Barus, Ribuan Tahun Awetkan Mumi Firaun dengan Kristal Kamper

Sekitarbandung.com – Ketika ilmuwan modern membedah perban mumi jasad Firaun dari zaman Mesir Kuno, mereka menemukan satu jejak rahasia berupa kristal kamper murni.

Kristal kamper inilah yang menjadi salah satu unsur penting dalam mencegah jasad hancur dimakan waktu.

Lantas, pertanyaannya sekarang, dari mana Firaun bisa mendapatkan barang selangka ini, padahal saat itu belum ada rute dagang global?

Kapur Barus

Jawabannya berada hampir 8 ribu kilometer dari Piramida Mesir, tepatnya di sebuah pelabuhan pesisir Sumatra.

Jauh sebelum bangsa Eropa sibuk berebut rempah Nusantara, kota ini sudah tercatat dalam Tabula Asia XI karya ilmuwan Yunani, Ptolemaeus, pada abad ke-2 Masehi.

Di peta tersebut, wilayah ini tercatat dengan nama Barousai.

Barus sendiri merupakan bandar utama yang memonopoli suplai kristal pengawet bagi para raja.

Saking berkuasanya kota ini di pasar dunia kuno, namanya kemudian berubah menjadi istilah legendaris yang kita kenal hingga sekarang, yaitu Kapur Barus.

Bukan Hanya Komoditas Ekspor

Namun bagi masyarakat Sumatra kuno, Kapur Barus bukan sekadar komoditas ekspor untuk para raja asing.

Di tangan para Datu, yakni tabib ahli Batak kuno, getah pohon ini diracik menjadi tawar, ramuan yang digunakan untuk mengobati berbagai penyakit mematikan pada masa itu.

Banyak yang mengira mereka hanya mengandalkan klenik atau mantra. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Jauh sebelum orang Eropa membangun kampus kedokteran, para Datu telah menjadi ilmuwan lapangan.

Mereka keluar masuk hutan, meneliti karakter ribuan tanaman, serta mengujinya secara langsung untuk menyembuhkan pasien.

Baca Juga: Keunikan Koala, Hewan yang Punya Sidik Jari Hampir Identik dengan Manusia

Penelitian yang Cukup Panjang

Butuh waktu ribuan tahun hingga publikasi sains internasional di ScienceDirect pada 2024 akhirnya membenarkan racikan lokal tersebut.

Penelitian itu membuktikan bahwa “nyawa” utama dari getah ini adalah zat bernama borneol.

Zat tersebut memiliki kemampuan langka yang dapat menembus langsung benteng pelindung otak manusia.

Efeknya, borneol sangat ampuh membunuh bakteri ganas sekaligus melindungi sel saraf otak dari kerusakan fatal.

166 Jenis Tanaman Obat

Antropolog dan akademisi dari UIN Jakarta, Prof. Dr. Rusmin Tumanggor, melakukan sebuah studi.

Ia menelusuri data dalam Pustaha Laklak, buku catatan medis kuno suku Batak yang ditulis di atas lembaran kulit kayu.

Hasil penelitiannya menunjukkan terdapat 166 jenis tanaman obat yang digunakan oleh para Datu.

56 Tanaman Belum Diteliti

Satu hal yang membuat ilmuwan modern terkejut adalah sebanyak 56 tanaman di antaranya bahkan belum pernah diteliti, diuji, atau masuk ke dalam radar industri farmasi modern.

Pohon Barus (Dryobalanops aromatica) membutuhkan waktu minimal 50 tahun untuk menghasilkan tetes kristal pertamanya.

Kini keberadaan pohon tersebut terus tergerus oleh ekspansi perkebunan sawit dan penebangan hutan liar.

Dampaknya cukup memprihatinkan. Sejak 2018, lembaga konservasi dunia (IUCN) telah menetapkan pohon ini dengan status Critically Endangered atau sangat terancam punah.

Baca Juga: 9 Flora Kuno yang Bertahan hingga Dunia Modern karena Kemampuan Adaptasinya

Related Post

Tinggalkan komentar