Tragedi Kelam The Stolen Generations di Australia Ketika Identitas Manusia Dihapuskan

Sekitarbandung.com – Australia memiliki sejarah kelam yang hingga kini masih menyisakan luka mendalam bagi masyarakat Aborigin dan Torres Strait Islander. Salah satu tragedi paling menyayat

Dicky Wicaksono

Tragedi Kelam The Stolen Generations di Australia Ketika Identitas Manusia Dihapuskan
Tragedi Kelam The Stolen Generations di Australia Ketika Identitas Manusia Dihapuskan

Sekitarbandung.com – Australia memiliki sejarah kelam yang hingga kini masih menyisakan luka mendalam bagi masyarakat Aborigin dan Torres Strait Islander.

Salah satu tragedi paling menyayat adalah peristiwa yang dikenal sebagai The Stolen Generations, yakni kebijakan sistematis yang secara paksa memisahkan anak-anak pribumi dari keluarga dan budaya mereka sendiri.

Peristiwa ini berlangsung sejak akhir abad ke-19 hingga sekitar tahun 1970-an. Pemerintah Australia pada masa itu menjalankan kebijakan asimilasi rasial dengan dalih melindungi anak-anak Aborigin.

Namun pada kenyataannya, kebijakan ini justru menjadi alat untuk memutihkan manusia, baik secara budaya, identitas, maupun psikologis.

Melalui undang-undang negara bagian dan kebijakan pemerintah, ribuan anak Aborigin diambil paksa dari orang tua mereka dan ditempatkan di panti asuhan, lembaga keagamaan, atau keluarga kulit putih.

Banyak di antara mereka yang tidak pernah lagi bertemu dengan keluarga kandungnya. Anak-anak tersebut dipaksa meninggalkan bahasa ibu, adat istiadat, serta kepercayaan leluhur, lalu dibesarkan dengan standar budaya Barat yang menafikan identitas asal mereka.

Pemerintah Australia saat itu meyakini bahwa masyarakat Aborigin akan mengalami kepunahan jika tidak diasimilasikan. Anak-anak berdarah campuran dianggap lebih mudah dipadukan ke dalam masyarakat kulit putih.

Inilah yang membuat kebijakan The Stolen Generations kerap disebut sebagai proyek pemutihan manusia yang dilakukan secara sistematis oleh negara. Dalam praktiknya, banyak anak mengalami kekerasan fisik, pelecehan, serta tekanan mental yang berat.

Baca Juga: UMKM Bandung Go International di Melbourne, Australia

Mereka tumbuh dengan krisis identitas, tidak sepenuhnya diterima sebagai bagian dari masyarakat kulit putih, namun juga terputus dari akar budaya Aborigin mereka sendiri.

Dampak tragedi ini tidak berhenti pada satu generasi. Trauma yang dialami korban The Stolen Generations diwariskan secara antargenerasi dan masih dirasakan hingga saat ini.

Tingkat depresi, bunuh diri, kemiskinan, penyalahgunaan alkohol, serta ketidakpercayaan terhadap negara masih relatif tinggi di kalangan masyarakat Aborigin.

Banyak korban yang ketika dewasa berusaha mencari keluarga kandung dan asal-usul mereka, meski sering kali berakhir tanpa jawaban. Hilangnya identitas, sejarah keluarga, dan ikatan budaya menjadi luka mendalam yang sulit disembuhkan.

Pada tahun 2008, Perdana Menteri Australia saat itu, Kevin Rudd, secara resmi menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Aborigin atas kebijakan The Stolen Generations.

Permintaan maaf ini menjadi langkah penting dalam pengakuan kesalahan negara, meskipun bagi banyak korban, hal tersebut belum mampu menghapus penderitaan yang berlangsung selama puluhan tahun.

Tragedi The Stolen Generations menjadi pengingat bahwa kolonialisme tidak hanya merampas tanah, tetapi juga menghancurkan identitas dan kemanusiaan.

Sejarah ini mengajarkan bahwa upaya menyeragamkan manusia atas nama peradaban justru dapat melahirkan kekerasan yang terstruktur dan berkepanjangan.

Baca Juga: Monsun Australia Bandung Picu Suhu Dingin, Warga Diminta Waspada

Related Post

Tinggalkan komentar