Sebuah kisah tragis dari masa lampau Nusantara kembali menjadi perbincangan. Perang Bubat, yang konon terjadi antara pasukan elit Majapahit di bawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada dengan rombongan Kerajaan Pajajaran (Sunda Galuh) yang dipimpin Maharaja Prabu Linggabuana, masih menyisakan misteri. Peristiwa yang diperkirakan terjadi sekitar tahun Saka 1273 atau 1351 Masehi ini, berpusat pada rencana pernikahan Putri Diah Pitaloka Citraresmi dari Pajajaran dengan Maharaja Majapahit, Prabu Hayam Wuruk. [00:37]
Baca juga : SPMB Bandung 2025 Bebas Jual Beli Kursi: Gugatan Warga Tetap Jadi Evaluasi Serius Pemkot
Awal Mula Kisah: Cinta Berujung Petaka
Kisah ini bermula dari ketertarikan Prabu Hayam Wuruk pada kecantikan Diah Pitaloka, yang dilukis oleh intelijen Majapahit. [01:55] Meskipun mendapat tentangan dari Gajah Mada yang berambisi menaklukkan Sunda demi Sumpah Palapa, Hayam Wuruk tetap mengirim lamaran. [02:07] Kerajaan Galuh menyambut baik lamaran tersebut, namun pernikahan direncanakan berlangsung di Majapahit. [02:32] Keputusan ini ditentang oleh Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati dari Pajajaran, yang menganggapnya tidak lazim dan merendahkan martabat Pasundan. [02:58] Namun, Prabu Linggabuana tetap berangkat mengantar putrinya. [03:22]
Insiden di Bubat: Kesalahpahaman dan Pertumpahan Darah
Setibanya rombongan Pajajaran di Bubat, sebuah lokasi di wilayah Majapahit, mereka disambut meriah. [03:45] Namun, tanpa sepengetahuan Hayam Wuruk, Gajah Mada dan pasukan khususnya, Bhayangkara, menemui Prabu Linggabuana. [04:04] Gajah Mada menyampaikan bahwa Diah Pitaloka seharusnya diserahkan sebagai tanda takluknya Galuh kepada Majapahit, demi penyatuan Nusantara tanpa pertumpahan darah. [04:28] Merasa harga dirinya diinjak-injak, Prabu Linggabuana murka. [04:52] Ketegangan memuncak dan pertempuran tak terhindarkan. Prabu Linggabuana dan seluruh punggawanya gugur. [05:17] Menyaksikan tragedi tersebut, Diah Pitaloka memilih untuk bunuh diri (Bela Pati) demi menjaga kehormatan keluarganya, menggunakan keris pusaka Singa Barong. [05:41]
Dampak Peristiwa: Retaknya Hubungan dan Pengasingan Gajah Mada
Prabu Hayam Wuruk sangat murka atas insiden Bubat, menyalahkan ambisi Gajah Mada. [06:13] Hubungan keduanya merenggang, dan Gajah Mada akhirnya diasingkan ke Madakaripura, yang dianggapnya sebagai hukuman. [06:36] Sejak itu, nama besar Gajah Mada seolah lenyap ditelan bumi. [07:11] Di Kerajaan Galuh, Niskala Wastu Kencana, adik Diah Pitaloka yang tidak ikut rombongan, kemudian mengeluarkan maklumat yang melarang rakyat Sunda menikah dengan orang Jawa. Larangan ini konon berlangsung berabad-abad dan menjadi mitos. [07:21]
Kontroversi dan Keraguan Sejarawan
Namun, pertanyaan besar muncul: Benarkah Perang Bubat benar-benar terjadi? [08:05] Banyak sejarawan modern meragukan kebenaran kisah ini dan menganggapnya fiktif. [08:16] Alasannya, sumber utama cerita, yaitu Serat Pararaton (ditulis tahun 1600 Masehi tanpa nama penulis yang jelas) dan Kidung Sunda (diterjemahkan oleh C.C. Berg tahun 1927 pada masa penjajahan Belanda), dianggap kurang memiliki validitas sejarah yang kuat. [08:26]
Para sejarawan menduga Kidung Sunda bisa jadi merupakan pesanan Belanda untuk memecah belah bangsa melalui politik adu domba (devide et impera). [09:05] Lebih lanjut, tidak ada bukti arkeologis seperti prasasti yang mendukung terjadinya perang ini, dan lokasi Bubat sendiri masih menjadi misteri. [09:50]
Sebaliknya, Kitab Negarakertagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi dan diakui UNESCO sebagai warisan ingatan dunia, sama sekali tidak menyebutkan adanya Perang Bubat. [10:12] Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa Perang Bubat kemungkinan besar adalah sebuah kisah fiktif yang tidak pernah terjadi. [11:02]
Meskipun demikian, kisah Perang Bubat telah terlanjur mengakar dan menjadi bagian dari narasi sejarah populer di Indonesia, meninggalkan jejak dalam hubungan budaya antara suku Sunda dan Jawa.
Baca juga : Jadwal MPLS 2025 SMA SMK Lengkap 5 Hari Sesuai Silabus

