sekitarBANDUNGcom – Asap putih pekat yang mengepul diiringi deru mesin yang khas telah lama menjadi pemandangan dan suara yang familiar di berbagai pemukiman. Bagi masyarakat, fogging atau pengasapan adalah “senjata pamungkas”, sebuah intervensi cepat yang diharapkan mampu menumpas nyamuk Aedes aegypti, sang pembawa virus Demam Berdarah Dengue (DBD), saat kasus mulai merebak. Harapan tersebut terasa begitu logis dan menenangkan.
Namun, sebuah kenyataan yang mengkhawatirkan kini terungkap melalui berbagai penelitian dan laporan di lapangan, termasuk di kota-kota padat seperti Bandung. Senjata yang kita andalkan tersebut mulai tumpul. Semakin banyak populasi serangga penyebar dengue yang menunjukkan resistensi atau kekebalan terhadap insektisida yang digunakan dalam fogging. Mereka seolah menjadi “pasukan super” yang tidak lagi mempan oleh serangan kimia yang sama.
Kekebalan super tersebut bukanlah sebuah keajaiban atau hal mistis. Fenomena tersebut adalah hasil dari proses evolusi dan adaptasi yang bisa dijelaskan secara ilmiah. Berikut adalah tiga penyebab utama yang telah mengubah makhluk kecil ini menjadi musuh yang jauh lebih tangguh.
Baca juga – Waspada DBD! 799 Kasus di Bandung Barat
1. Seleksi Alam Akibat Paparan Insektisida Berulang
Penyebab pertama adalah prinsip dasar evolusi dari Charles Darwin: seleksi alam atau survival of the fittest. Bayangkan sebuah populasi serangga di satu area. Ketika fogging dilakukan, sebagian besar dari nyamuk akan mati. Namun, di dalam populasi tersebut, secara alami akan ada beberapa individu yang secara kebetulan memiliki mutasi genetik acak. Mutasi tersebut membuat sistem internal mereka sedikit lebih kuat dalam mendetoksifikasi atau menetralisir racun dari insektisida.
Para nyamuk ‘mutan’ yang selamat tersebut kemudian akan berkembang biak. Mereka akan mewariskan gen kebal yang mereka miliki kepada generasi keturunannya. Ketika pengasapan dilakukan lagi di area yang sama dengan bahan kimia yang sama, proses seleksi tersebut terulang kembali. Hanya keturunan yang paling kebal yang akan bertahan hidup dan bereproduksi. Setelah bertahun-tahun, populasi di area tersebut akan didominasi oleh individu-individu yang membawa gen resistensi.
2. Penggunaan Jenis Insektisida yang Monoton
Masalah seleksi alam di atas dipercepat oleh praktik penggunaan insektisida yang cenderung monoton. Insektisida untuk mengendalikan vektor penyakit memiliki beberapa golongan bahan aktif, seperti piretroid, organofosfat, dan karbamat. Masing-masing golongan menyerang sistem saraf serangga target dengan cara yang sedikit berbeda.
Strategi pemberantasan nyamuk yang ideal adalah dengan melakukan rotasi atau penggantian jenis insektisida secara berkala. Praktik tersebut akan membuat populasi vektor ini “bingung” dan mencegah nyamuk sempat beradaptasi dengan satu jenis racun saja. Namun, dalam praktiknya di lapangan, seringkali hanya satu jenis insektisida (umumnya dari golongan piretroid) yang digunakan secara terus-menerus selama bertahun-tahun. Hal tersebut sama saja dengan memberikan “ujian” yang sama setiap saat, memungkinkan mereka untuk “mempelajari” cara meloloskan diri hingga akhirnya menjadi kebal.
Peneliti dari Pusat Kedokteran Tropis UGM, Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc, MPH, Ph.D, sering menekankan batas kemampuan metode konvensional. “Pengendalian dengue dengan metode yang ada sekarang, seperti fogging dan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk), dampaknya masih terbatas dan belum bisa menurunkan kasus secara signifikan,” ujarnya dalam sebuah seminar yang dimuat di situs resmi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM. Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa ketergantungan pada satu metode seperti pengasapan saja tidak lagi cukup.
3. Pemberantasan yang Tidak Menyeluruh: Abai pada Jentik
Penyebab ketiga adalah sifat dari fogging itu sendiri yang tidak komprehensif. Pengasapan hanya efektif membunuh nyamuk dewasa yang sedang terbang atau hinggap di area terbuka saat itu. Fogging sama sekali tidak membunuh larva (jentik) dan pupa (kepompong) yang sedang aman berkembang biak di dalam genangan air di sekitar rumah, seperti di bak mandi, talang air, atau pot tanaman.
Ini menciptakan sebuah siklus yang tak kunjung putus. Beberapa hari setelah fogging selesai, ribuan telur dan jentik akan menetas menjadi serangga dewasa generasi baru. Generasi baru tersebut akan kembali meneror lingkungan sekitar. Jika sebagian dari mereka adalah keturunan dari individu yang selamat dari pengasapan sebelumnya, maka populasi yang kebal akan pulih dengan sangat cepat.
Oleh karena itu, paradigma pemberantasan DBD harus bergeser. Mengandalkan fogging sebagai satu-satunya solusi adalah strategi yang sudah usang dan terbukti semakin tidak efektif. Pertarungan sesungguhnya kini kembali ke tangan masyarakat, yaitu dengan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang). Memutus siklus hidup nyamuk pada fase jentiknya adalah cara paling ampuh dan berkelanjutan untuk mencegah wabah DBD di tengah ancaman resistensi insektisida.
Baca juga – Dari Awal Tahun sampai Maret 2024, Terdapat 8 Warga Kota Bandung yang Meninggal Dunia Karena DBD
