Sekitarbandung.com – Tanjung Priok tidak seperti biasanya pada Rabu malam, 12 September 1984. Udara terasa panas dan mencekam. Ribuan massa berkumpul, teriakan takbir menggema.
Mereka tidak tahu bahwa malam itu, aspal jalanan akan berubah warna menjadi merah darah. Ini bukan perang melawan penjajah, tetapi tragedi anak bangsa melawan saudaranya sendiri.
Semuanya bermula dari insiden sepele beberapa hari sebelumnya di Mushola As-Sa’adah. Beredar kabar bahwa oknum aparat (Babinsa) masuk ke area suci tanpa melepas alas kaki.
Bahkan, ia juga menyiram pamflet di dinding menggunakan air got. Akhirnya, kemarahan warga tersulut. Bagi masyarakat Priok yang religius, tindakan ini merupakan penghinaan berat.
Warga menuntut permintaan maaf, tetapi respons aparat justru represif. Empat orang warga (Syarifuddin Rambe, Syawan, Achmad Sahi, dan M. Nur) dianggap sebagai provokator.
Mereka justru ditangkap dan ditahan di Kodim Jakarta Utara. Kabar penangkapan ini menyebar cepat. Emosi massa mendidih. Mereka membutuhkan pemimpin.
Di tengah kekacauan, muncullah Amir Biki. Ia bukan ulama besar, tetapi tokoh masyarakat yang sangat disegani di Priok. Dalam pidatonya yang berapi-api malam itu, ia memberikan ultimatum kepada aparat:
“Lepaskan 4 saudara kami paling lambat pukul 23.00 WIB. Jika tidak, maka kami yang akan menjemput paksa!” tegasnya.
Tuntutan tersebut tidak dipenuhi hingga pukul 23.00 WIB. Akhirnya, Amir Biki memimpin ribuan massa untuk bergerak menuju Kodim 0502.
Mereka berjalan kaki, sebagian membawa senjata tajam seadanya, dan sebagian hanya bermodal badan.
Suasana tegang terjadi di depan Kantor Polres. Barisan tentara bersenjata lengkap dengan truk militer telah menghadang.
Tanpa peringatan yang jelas, suara letusan senjata memecah malam. DOR! DOR! DOR! Itu bukan tembakan peringatan ke udara, melainkan tembakan mendatar ke arah kerumunan manusia.
Barisan depan bertumbangan seperti daun kering. Jeritan kesakitan bersahutan dengan suara desingan peluru otomatis. Massa panik dan terjebak di gang-gang sempit.
Dalam hitungan jam, jalanan menjadi sunyi. Yang tersisa hanyalah sepatu, sandal, dan genangan darah. Saksi mata menyebutkan, truk-truk militer datang mengangkut tubuh-tubuh yang tergeletak entah ke mana.
Mobil pemadam kebakaran didatangkan untuk menyemprot jalanan hingga bersih, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Pemerintah Orde Baru saat itu menyatakan korban tewas hanya belasan orang. Namun, laporan independen dan kesaksian warga menyebut angka ratusan, sekitar 400 orang tewas atau hilang.
Amir Biki ditemukan tewas tertembak. Bertahun-tahun kemudian, keluarga korban hidup dalam trauma dan stigma sebagai “pemberontak”.
Tragedi Tanjung Priok 1984 menjadi pengingat mahal bagi bangsa ini bahwa kekerasan negara atas nama stabilitas tidak akan pernah bisa dibenarkan.
Meski islah (perdamaian) telah terjadi, sejarah harus tetap dicatat. Alfatihah untuk seluruh korban yang gugur malam itu.

