Kamu Cuma Tahu Nama Rumah Sakitnya? Padahal Cipto Mangunkusumo Merupakan Dokter yang Tolak Tunduk terhadap Belanda

Sekitarbandung.com – Siapa yang tidak tahu RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo)? Rumah sakit yang menjadi rujukan nasional terbesar di Indonesia. Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya, siapa

Dicky Wicaksono

Kamu Cuma Tahu Nama Rumah Sakitnya? Padahal Cipto Mangunkusumo Merupakan Dokter yang Tolak Tunduk terhadap Belanda
Kamu Cuma Tahu Nama Rumah Sakitnya? Padahal Cipto Mangunkusumo Merupakan Dokter yang Tolak Tunduk terhadap Belanda

Sekitarbandung.com – Siapa yang tidak tahu RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo)? Rumah sakit yang menjadi rujukan nasional terbesar di Indonesia.

Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya, siapa sebenarnya Cipto Mangunkusumo dan mengapa namanya yang dipilih, bukan dokter lain? Jawabannya akan membuatmu merinding.

Lulus dari STOVIA, Cipto bukan tipe dokter priyayi yang gila hormat. Ia membenci feodalisme Jawa yang mengharuskan orang duduk di lantai saat berbicara dengan atasan.

Bahkan, ia kerap datang ke pertemuan resmi Belanda dengan pakaian seadanya, seperti sarung dan blangkon, menolak berbicara menggunakan bahasa Belanda, serta enggan membungkuk kepada pejabat kolonial. Baginya, harga diri bangsa berada di atas segalanya.

Momen kepahlawanannya yang paling legendaris terjadi saat Wabah Pes menyerang Malang pada tahun 1911. Penyakit ini sangat menular dan mematikan.

Banyak dokter Belanda takut menanganinya. Namun Cipto justru terjun langsung ke pelosok desa-desa yang terjangkit. Tanpa masker, tanpa sarung tangan canggih, ia mendatangi gubuk-gubuk warga yang dipenuhi mayat.

Di sebuah gubuk yang terbakar habis, Cipto mendengar tangisan seorang bayi. Orang tua bayi tersebut telah meninggal dunia akibat wabah Pes. Tak ada satu pun warga yang berani mendekat.

Cipto menerobos masuk, menggendong bayi itu, dan merawatnya seperti anak sendiri. Bayi perempuan tersebut diberinya nama Pesjah (Pesjati). Kelak, Pesjah tumbuh besar dan menjadi bukti cinta Cipto terhadap kemanusiaan.

Baca Juga: Kisah Cinta Berujung Tragis, Pierre Tendean Berjanji Menikahi Kekasihnya tapi Janji itu Tidak Pernah Terwujud 

Cipto tak pernah memikirkan uang. Ia kerap menggratiskan biaya pengobatan bagi rakyat miskin. Bahkan, ia pernah membuka praktik di sebelah praktik dokter Belanda yang memasang tarif mahal.

Pasien dokter Belanda itu ia cegat, ia periksa, lalu ia berikan obat secara gratis. Baginya, kesehatan adalah hak semua orang, bukan hanya milik mereka yang berpunya.

Karena terlalu vokal melawan penjajah bersama Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara di Indische Partij, Belanda pun ketar-ketir.

Cipto akhirnya ditangkap dan dibuang ke Banda Neira selama 13 tahun. Kesehatannya memburuk selama pengasingan, namun semangatnya tak pernah padam hingga ia wafat pada usia 57 tahun.

Pada 17 Agustus 1964, pemerintah mengubah nama RSUP Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting menjadi Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Alasannya sederhana, untuk menjadi dokter di rumah sakit ini, seseorang tidak cukup hanya pintar. Namun juga harus memiliki hati seluas Cipto Mangunkusumo, yang berani melayani siapa saja tanpa memandang kasta maupun isi dompet.

Cipto Mangunkusumo memberikan pelajaran bagi kita semua bahwa gelar dokter bukan untuk gagah-gagahan.

Melainkan sebuah mandat untuk melayani kemanusiaan. Maka, setiap kali kamu melintas di depan RSCM Jakarta, ingatlah sosok dokter hebat yang berhati selembut kapas ini. Hormat untuk Eyang Cipto.

Baca Juga: Dianggap Cuma Model Biasa, Padahal Hedy Lamarr Penemu Teknologi yang Mengubah Dunia Selamanya 

Related Post

Tinggalkan komentar