Sekitarbandung.com – Siapa yang tidak mengenal Kapten (Anumerta) Pierre Tendean, ajudan Jenderal Nasution yang memiliki wajah blasteran Prancis-Minahasa?
Bahkan saking gantengnya, julukannya merupakan “Robert Wagner dari Panorama” (artis Hollywood saat itu).
Banyak wanita yang antre ingin menjadi kekasihnya, tapi hati Pierre sudah terkunci untuk satu nama, yaitu Rukmini Chamim.
Kisah bermula saat Pierre bertugas di Medan pada tahun 1963. Ia bertemu Rukmini (Mimin), sosok gadis cantik dari keluarga pengusaha terpandang.
Cinta mereka tak mudah. Pierre seorang tentara Kristen, Rukmini gadis Muslim yang taat. Banyak yang meragukan, tapi Pierre membuktikan keseriusannya.
“Mas Pierre bilang, perbedaan agama bukan halangan jika Tuhan menghendaki,” kenang keluarga.
Saat Pierre dipindah ke Jakarta menjadi ajudan Nasution, mereka menjalani LDR (Hubungan Jarak Jauh). Demi menikahi Rukmini, Pierre bekerja keras di luar dinas.
Jarang yang tahu, saat libur, Pierre rela menjadi sopir traktor pembangunan jalan di Semarang untuk mencari uang tambahan. Semua peluh itu ia tabung demi membeli rumah kecil untuk calon istrinya nanti.
Pada pertengahan tahun 1965, Pierre melamar Rukmini. Tanggal pernikahan sudah ditetapkan, November 1965. Hanya tinggal 2 bulan lagi.
Pierre bahkan sudah membeli hadiah ulang tahun untuk Mimin dan berencana pulang ke Semarang untuk merayakan hari bahagia ibunya pada tanggal 1 Oktober. Masa depan terasa begitu indah. Tapi takdir berkata lain.
Baca Juga: Dianggap Cuma Model Biasa, Padahal Hedy Lamarr Penemu Teknologi yang Mengubah Dunia Selamanya
Malam itu, 30 September 1965, pasukan Cakrabirawa mengepung rumah Jenderal Nasution. Pierre yang mendengar keributan, keluar membawa senjata. Dalam kegelapan, pasukan penculik bertanya, “Di mana Nasution?”
Pierre menjawab tegas, “SAYA AJUDAN NASUTION!” Namun, di tengah kemelut itu, maut salah mengenali wajah.
Mengira Pierre adalah sang Jenderal yang mereka cari, pasukan itu langsung meringkusnya, menyeret sang ajudan menuju akhir hayatnya di Lubang Buaya. Pierre dibawa ke Lubang Buaya, disiksa, dan dibunuh secara keji.
Ia gugur di usia 26 tahun. Di saku celananya, masih tersimpan uang tabungan yang rencananya akan ia pakai untuk biaya pernikahan bulan depan. Kabar gugurnya Pierre sampai ke telinga Rukmini bagaikan petir di siang bolong.
Hati Rukmini hancur. Pria yang ia tunggu, yang rela jadi sopir traktor demi dirinya, justru pulang tinggal nama. Gaun pengantin yang disiapkan tak pernah dipakai.
Butuh waktu bertahun-tahun bagi Rukmini untuk memulihkan hati, sebelum akhirnya menikah dengan orang lain demi melanjutkan hidup. Namun, nama Pierre selalu punya tempat khusus di hatinya.
Diketahui Rukmini Chaimin, kekasih mendiang Kapten Pierre Tendean yang gagal menikah karena tragedi G30S/PKI, akhirnya menikah pada tahun 1972 dengan seorang pegawai bank bernama Suyatna Muharam.
Cinta Pierre Tendean mengajarkan kita arti pengorbanan yang sesungguhnya. Ia setia pada negara, setia pada atasan, dan setia pada janjinya.
Meski pernikahan itu gagal di dunia, kisah cinta mereka abadi dalam sejarah bangsa. Selamat jalan, Kapten!
Baca Juga: Saat Bali Hampir Bangkrut, Perang Sebenarnya Bukan Lawan Alam tapi Persepsi Dunia

