Sekitarbandung.com – Wisma Yaso merupakan sebuah rumah dengan luas sekitar 5,6 hektar yang dibangun oleh Ir. Soekarno untuk diberikan kepada istrinya, yaitu Ratna Sari Dewi.
Pemberian ini menjadi bentuk rasa sayang Bung Karno yang begitu besar terhadap istrinya, bahkan nama “Yaso” sendiri diambil dari nama adik laki-laki Dewi Sukarno yang telah meninggal dunia.
Namun, sejarah memiliki jalannya sendiri, Tap MPRS No. XXXIII/1967 yang salah satu isinya mewajibkan Bung Karno meninggalkan seluruh fasilitas negara, termasuk Istana Merdeka dan Istana Bogor.
Akhirnya, Wisma Yaso pun dipilih sebagai tempat tinggal baru karena statusnya sebagai aset pribadi milik Ratna Sari Dewi, bukan milik negara.
Sejak Desember 1967, pemerintah resmi menetapkan status Wisma Yaso sebagai Rumah Tahanan (Rutan) di bawah penjagaan ketat Satgas Pomad.
Baca Juga: Kondisi Negara Miskin Parah, Ir. Soekarno Justru Nekat Bangun Stadion Gunakan Uang Uni Soviet
Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi isolasi politik (de-Soekarno-isasi) untuk memutus akses komunikasi Bung Karno dengan para pendukungnya.
Saat Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970, rumah inilah yang menjadi tempat disemayamkannya jenazah sebelum akhirnya dikebumikan di Blitar.
Dari sini, dimulailah transformasi dari rumah penuh cerita menjadi museum perjuangan TNI yang idenya muncul dari Nugroho Notosusanto yang saat itu menjabat sebagai Kepala Pusat Sejarah ABRI.
Awalnya museum direncanakan akan dibangun di Istana Bogor, tetapi Soeharto mengusulkan agar lokasi Wisma Yaso yang digunakan.
Babak baru Wisma Yaso pun dimulai, pada 15 November 1971 rumah pribadi tersebut mulai dipugar menjadi museum.
Diresmikan pada 5 Oktober 1972 yang bertepatan dengan HUT TNI, Wisma Yaso pun resmi berganti nama menjadi Museum Satriamandala.

